Setahun Jokowi, Kadin Menilai Positif Kebijakan Ekonomi

"Yang penting implementasi dijaga. Kami harapkan lancar dan tidak malah menjadikan birokrasi baru," kata Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto.
Yura Syahrul
19 Oktober 2015, 16:36
Jokowi & JK
Arief Kamaludin|KATADATA
Jokowi & JK KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA - Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat kondisi ekonomi yang dihadapi pemerintah saat ini tidak mudah. Namun, mereka menilai selama satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), kebijakan yang dibuat pemerintah telah berjalan baik.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengatakan, kebijakan yang dijalankan pemerintah selama setahun ini telah tepat sasaran kepada dunia usaha. Meski di sisi lain, perekonomian Indonesia cenderung melambat karena turut dipengaruhi oleh belum pulihnya perekonomian global. “Tidak adil juga kita menyalahkan pemerintah dengan kondisi ekonomi yang dipengaruhi kondisi eksternal ini," katanya seusai seminar Kadin di Jakarta, Senin (19/10).

Suryo mencontohkan salah satu kebijakan Jokowi yang dinilai pro-dunia usaha, yaitu paket kebijakan ekonomi jilid III. Paket kebijakan yang dirilis 7 Oktober lalu itu, menurut dia, berdampak langsung kepada dunia usaha. Namun, pemerintah harus menjaga implementasi paket kebijakan tersebut demi keberlangsungan dunia usaha dalam jangka panjang.

"Yang penting implementasi dijaga. Kami harapkan lancar dan tidak malah menjadikan birokrasi baru," kata Suryo. Sekadar informasi, paket kebijakan jilid III memuat sejumlah insentif bagi pelaku industri. Antara lain, penurunan tarif listrik dan harga gas untuk semjumlah sektor industri per 1 Januari tahun depan. Selain itu, menyederhanakan izin penggunaan lahan untuk kegiatan usaha penanaman modal.

(Baca: Harga Solar dan Gas Industri Turun, Tarif Listrik Diberi Diskon)

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Industri Makanan dan Minuman Thomas Darmawan menilai positif pemerintahan Jokowi selama setahun ini. Padahal, pasar internasional belakangan ini tengah menghadapi kelesuan seiring perlambatan ekonomi beberapa negara besar.  

Salah satu indikator penilaian positif itu adalah volume ekspor beberapa komoditas pangan naik signifikan. Misalnya, ekspor udang yang pada semester I-2015 mencapai 96.748 ton atau naik dari periode sama tahun 2014 yang sebanyak 89.857 ton. "Jadi kalau dilihat dari situ jelas kita positif," katanya.

(Baca: Izin Pengunaan Lahan Akan Dipermudah)

Meski begitu, Thomas berharap, pencapaian ini terus diimbangi dengan perubahan regulasi teknis yang memadai dan menopang industri makanan dan minuman nasional. Ia pun memaklumi, banyak kebijakan saat ini yang bersifat pelarangan namun hal tersebut haruslah diimbangi dengan upaya untuk menumbuhkan industri.

"Jangan karena kita melarang, lalu pasokan dalam negeri kosong. Lalu malah kita impor," katanya tanpa menguraikan lebih detail kebijakan yang dimaksud tersebut.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait