SKK Migas: Ratusan Kontraktor Migas Tak Jalankan Komitmennya

"Komitmen tidak jalan. Apalagi dengan kondisi sekarang, investasinya mereka sudah melintir-melintir mencarinya," kata Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro.
Yura Syahrul
1 Oktober 2015, 17:33
SKK MIgas
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat ada ratusan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) tidak menjalankan komitmen kewajibannya. Antara lain pembayaran bonus tandatangan (signature bonus)  atau kewajiban lainnya.

Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro mengatakan, sekitar separuh dari 240 kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) migas yang masih berstatus eksplorasi, tidak menjalani komitmennya. Apalagi di tengah kondisi penurunan harga minyak belakangan ini sehingga mengganggu pendapatan dan keuangan perusahaan migas.

"Komitmen tidak jalan. Apalagi dengan kondisi sekarang, investasinya mereka sudah melintir-melintir mencarinya," kata dia di Jakarta, beberapa hari lalu. Namun, Elan tidak mau mengungkapkan para kontraktor migas yang tidak menunaikan kewajibannya tersebut.

Ia hanya menjelaskan,  perusahaan migas itu tidak hanya di bidang migas konvensional tapi ada juga yang non-konvensional. Untuk perusahaan migas non-konvensional, menurut Elan, memang ada sedikit kendala. Ditambah lagi kondisi perusahaan tersebut dalam keadaan sulit. Secara regulasi, aturan yang ada dianggap tidak cocok untuk diterapkan pada perusahaan migas non-konvensional.

"Fiscal policy-nya yang diterapkan tidak menarik. Untuk non-konvensional diterapkan aturan  konvensional, jadi sudah tidak cocok," ujar Elan.

Sebelumnya, pada Mei lalu, SKK Migas sudah menegur 15 KKKS yang tidak menjalankan kewajibannya berdasarkan kontrak kerjasama. Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, 15 perusahaan migas tersebut seharusnya sudah melakukan eksplorasi, tapi tidak kunjung melaksanakannya. Selain itu, mereka juga tidak menyelesaikan komitmen yang telah disetujui, seperti pembayaran bonus tandatangan.

“Kami kemudian mencari mereka, ternyata kantornya sudah tidak ditemukan. Dihubungi contact person-nya belum bisa dikontak. Karena itu dilakukan pemanggilan pertama,” katanya.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait