Investasi Kilang Minim karena Investor Butuh Kepastian Pasokan

Kalau dihitung dari kebutuhan BBM dan kapasitas kilang saat ini Indonesia masih membutuhkan setidaknya dua kilang baru minyak
Yura Syahrul
31 Agustus 2015, 18:32
Kilang Minyak
KATADATA

KATADATA ? Meski dihadang oleh perlambatan ekonomi global dan domestik, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat animo investasi asing yang masuk ke Indonesia tetap tinggi. Investasi langsung asing itu merambah ke berbagai sektor, mulai dari manufaktur, infrastruktur, jasa keuangan hingga energi. Namun, investasi kilang minyak oleh pemodal asing hingga kini masih minim.

Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengungkapkan, sampai saat ini belum ada investor asing yang mengajukan minatnya untuk berinvestasi kilang di Indonesia. Kendala utama investasi kilang tersebut adalah tidak adanya jaminan pasokan minyak oleh pemerintah Indonesia. Padahal, pasokan minyak ini menjadi prasyarat bagi para investor kilang. 

"Kepastian stok harus, karena kalau tidak ada stok maka susah,? kata Azhar di Jakarta, Senin (31/8). Ia memperkirakan, jaminan pasokan minyak ke kilang tersebut minimal selama 10 tahun ke depan.

Menurut Azhar, Indonesia masih membutuhkan setidaknya dua kilang baru minyak. Kebutuhan ini jika dihitung dari total kapasitas kilang yang ada di Indonesia saat ini diperkirakan sebesar 1,17 juta barel per hari (bph). Namun, karena umur kilang yang sudah tua, kemampuan produksi minyaknya hanya sebesar 719 ribu bph. 

Sementara itu, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) saat ini diperkirakan sekitar 1,36 juta barel per hari. Artinya, saat ini masih ada defisit produksi minyak sebesar 640.000 bph. Untuk menambal defisit tahun ini, setidaknya butuh dua kilang baru berkapasitas masing-masing 300.000 bph dan merevitalisasi kilang yang sudah ada.

Advertisement

Selain masalah pasokan, investasi kilang minyak ini juga membutuhkan biaya yang besar dan memiliki risiko yang tinggi. Meski begitu, BKPM terus mengupayakan agar ada investor yang berinvestasi membangun kilang di Indonesia. "Kami tetap mengupayakan oil refinery yang baru,? kata Azhar. Ia pun berharap, lawatan BKPM ke Timur Tengah pada bulan September nanti bisa menggaet calon investor kilang ke Indonesia. ?Kalau dapat satu komitmen investasi itu bagus.? 

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak tahun 1970-an hingga saat ini pemerintah memang tidak pernah lagi membangun kilang baru.  PT Pertamina hanya memiliki delapan kilang lama di Dumai, Sungai Pakning, Plaju, Cepu, Balikpapan, Kasim, Cilacap dan Balongan. Sementara hanya ada dua perusahaan swasta yang memiliki kilang, yaitu PT TransPacific Petrochemical Indotama dan PT Tri Wahana Universal.  

Saat ini Pertamina juga sedang menyiapkan dua program utama di bidang pengolahan. Pertama, Refinery Development Masterplan Program (RDMP) untuk merevitalisasi kilang yang ada. Kedua, New Grass Root Refinery (NGRR) untuk menciptakan kilang dengan kompleksitas tinggi. Kedua program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kilang minyak dari 1 juta barel per hari menjadi 2,3 juta barel per hari pada tahun 2025, serta mengintegrasikan dengan petrokimia.

Namun, dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 yang telah diusulkan kepada DPR dua pekan lalu, pemerintah tidak mengalokasikan dana untuk pembangunan kilang. Alasannya, pemerintah sedang fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur lain di luar sektor minyak dan gas bumi.

(Baca: Tanpa Kilang Baru, Negara Berpotensi Rugi Rp 156 Triliun per Tahun)

Direktur Eksekutif Reforminer Komaidi Notonegoro menghitung, potensi kerugian mencapai US$ 12 miliar atau sekitar Rp 156 triliun gara-gara tidak adanya kilang baru. Perhitungan ini mengacu pada selisih harga minyak mentah dengan harga BBM. Kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel minyak per hari. Sedangkan kapasitas kilang yang ada di Indonesia hanya 821.250 barel per hari. Sisanya sebanyak 299,2 juta barel per tahun masih harus diimpor.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait