SKK Migas: Melesetnya Produksi Blok Cepu Bisa Memicu Efek Berantai

Jika puncak produksi Blok Cepu ditunda maka akan mempengaruhi pasokan energi secara nasional Apalagi 70 persen pasokan energi di Indonesia berasal dari migas
Yura Syahrul
25 Agustus 2015, 13:27
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berharap puncak produksi Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bisa tercapai sesuai target tahun ini. Pencapaian target tersebut penting agar produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional tahun ini tidak terganggu.

Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro mengatakan, target puncak produksi migas Blok Cepu tahun ini tidak boleh terganggu oleh penurunan harga minyak dunia. Meski harga minyak dunia terus turun hingga di bawah US$ 40 per barel, ExxonMobil Cepu Limited sebagai operator Blok Cepu tidak boleh mengerem produksinya.

"Produksi tidak bisa direm. Ada multiplier-nya, pasokan migas itu juga digunakan untuk industri," kata dia kepada Katadata, Selasa (25/8).

Pernyataannya itu menanggapi kabar adanya permintaan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk menunda puncak produksi Blok Cepu tahun ini. Berdasarkan pemberitaan di situs suarabanyuurip.com, Sabtu pekan lalu (22/8), Bupati Bojonegoro Suyoto mengaku telah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo. Isinya meminta penundaan puncak produksi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, pada akhir tahun ini. Alasannya harga minyak dunia saat ini berada di titik terendah sehingga cadangan minyak di Blok Cepu dapat disimpan dulu sampai menunggu harga minyak kembali normal.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Katadata, pihak ExxonMobil juga sudah mengetahui adanya surat tersebut. Elan pun telah mendengar perihal kabar itu. Namun, dia menilai, sebaiknya melihat industri migas jangan hanya dari segi finansial. Jika puncak produksi Blok Cepu ditunda maka akan mempengaruhi pasokan energi secara nasional. Apalagi, 70 persen pasokan energi di Indonesia berasal dari migas.

Selain itu, jika menunda puncak produksi akan menimbulkan ketidakefisienan. Mengingat  proyek pengadaan, rekayasa, dan konstruksi Lapangan Banyuurip juga ditargetkan rampung pada Oktober 2015. "Kalau stop sekarang biaya bisa tambah lagi," tukas Elan. Namun SKK Migas masih menunggu arahan dari Presiden atau Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait nasib produksi Blok Cepu. Selain itu juga perlu masukan dari Dewan Perwakilan Rakyat.

(Baca: Puncak Produksi Blok Cepu Terancam Mundur ke Awal 2016)

Seperti diketahui, SKK Migas memperkirakan Lapangan Banyuurip akan mencapai puncak produksinya pada November tahun ini sebesar 205.000 minyak barel per hari. Namun, target puncak produksi tersebut kemungkinan akan meleset dan mundur ke awal tahun depan.

Kondisi ini tentu dapat mengancam target lifting (produksi siap jual) minyak tahun ini. Target lifting minyak dalam APBN-P 2015 sebesar 825.000 barel per hari. Hingga akhir Juni lalu, lifting minyak bumi tercatat 763.600 barel per hari atau 92,6 persen dari target lifting tahun ini.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait