Perang Dagang hingga Resesi yang Menghantui Ekonomi 2020

Ekonomi Indonesia tahun ini masih akan dipengaruhi ketidakpastian global akibat perang dagang, kondisi geopolitik, hingga ancaman resesi sejumlah negara.
Image title
Oleh Agustiyanti
8 Januari 2020, 08:00
ekonomi 2020, pertumbuhan ekonomi, outlook ekonomi 2020, resesi, perang dagang
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Ilustrasi. Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih menahan laju pertumbuhan ekonomi pada 2020.

Ekonomi Indonesia di 2020 ini diprediksi menghadapi tantangan yang nyaris sama seperti tahun lalu, bahkan bisa jadi lebih berat. Memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) versus Iran dan kembali menghangatnya suhu geopolitik di beberapa titik dunia, akan mendominasi nasib ekonomi di Indonesia.

Di pengujung tahun lalu, sebenarnya kabar baik datang dari Amerika Serikat dan Tiongkok yang merampungkan kesepakatan dagang tahap pertama. Sejumlah langkah rujuk telah dilakukan kedua negara, di antaranya menghapus sejumlah tarif yang menjadi senjata mereka selama perang dagang.

Perang dagang menjadi faktor utama yang menimbulkan ketidakpastian global dalam hampir dua tahun terakhir. Faktor ini membuat Bank Dunia dan IMF sepanjang tahun lalu sibuk merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2019 dan 2020.

(Baca: Lima Sektor Harapan Ekonomi 2020 di Tengah Kegalauan Global)

Pada Juni, Bank Dunia memangkas prakiraan pertumbuhan ekonomi global 2019 dan 2020 menjadi 2,6% dan 2,7% dari proyeksi yang dibuat pada Januari sebesar 2,9% dan 2,8%.

Sementara IMF beberapa kali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global sepanjang tahun lalu. Terakhir pada Oktober, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3% pada 2019 dan 3,4% pada 2020, jauh dari proyeksi yang dibuat pada Januari sebesar 3,5% dan 3,6%.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 merupakan yang terendah sejak krisis keuangan global. Tahun 2018, pertumbuhan ekonomi global tercatat sebesar 3,6%, melambat dibanding 2017 yang mencapai 3,8%.

(Baca: Kepercayaan Investor Institusi Turun Selama 2019 Akibat Ekonomi Global)

Menurut IMF, perlambatan yang tajam pada sektor manufaktur dan perdagangan global menjadi dasar penurunan proyeksi tersebut. Perang tarif antara AS dan Tiongkok menjadi pemicu utama. Pertumbuhan volume perdagangan pada paruh pertama 2019 hanya mencapai 1%, terlemah sejak 2012.

Meski kesepakatan dagang tahap pertama rampung, kedua kepala negara belum meneken naskah kesepakatan tersebut. Kesepakatan dagang tahap selanjutnya juga diperkirakan bakal lebih rumit dan penuh ketidakpastian.

Oleh karena itu, perang dagang diperkirakan masih akan menjadi salah satu risiko perekonomian global tahun ini. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperkirakan perang dagang yang berlarut-larut dapat menggerus 0,08% produk domestik bruto atau PDB dunia atau US$ 700 miliar pada 2020.

"Sebagai perbandingan, nilai tersebut hampir setara dengan perekonomian Swiss," ujar Georgieva dalam pidatonya awal Oktober lalu.

IMF memproyeksi dunia kehilangan PDB sebesar hampir US$ 500 miliar pada 2019. Ini seiring perlambatan ekonomi yang terjadi pada hampir 90% negara di dunia.

Riset Fitch Ratings dan Oxford Economics juga menunjukkan, eskalasi perang dagang menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan global pada 2020, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

Risiko Geopolitik: Brexit hingga Konflik AS-Iran

Selain perang dagang, terdapat sejumlah risiko geopolitik yang juga menghantui perekonomian 2020, di antaranya pemakzulan Presiden Donald Trump dan pemilihan presiden AS pada November 2020.

Namun, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai pemakzulan Trump tak akan berdampak signifikan pada perekonomian global tahun ini. Pasalnya, proses pemakzulan Trump masih harus melalui sidang Senat yang saat ini mayoritas diduduki oleh Partai Republik yang merupakan pendukung Trump.

"Dasar asumsi kami terkait ekonomi global adalah masih dengan Presiden Trump sebagai Presiden AS, bahkan sampai dengan 2024," kata Andry.

Selain pemakzulan dan pilpres, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang makin memanas juga meningkatkan risiko. Konflik kedua negara memanas setelah Pemimpin Militer Iran Qasem Soleimani meninggal dalam serangan Negara Paman Sam tersebut.

(Baca: Perkasa di Akhir 2019, Rupiah Dibuka Melemah pada Awal 2020)

Adapun faktor risiko geopolitik lainnya adalah keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit dan perkembangan demonstrasi di Hong Kong.

"Ada khawatiran keluarnya kesepakatan terkait Brexit yang mungkin akan mendorong Inggris ke dalam resesi pada 2020 dan menyebabkan gangguan sektoral di Eropa," ujar Kepala Ekonom OECD Laurence Boone.

Risiko resesi menghantui perekonomian Inggris sejak tahun lalu. Namun, perekonomian yang membaik pada kuartal III membuat negara ini berhasil lolos dari resesi teknis atau pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Selain Inggris, risiko resesi juga dihadapi oleh Singapura, Hong Kong, Turki, Meksiko, Argentina, dan Jerman. Sebagian disebabkan oleh perlambatan ekonomi global akibat perang dagang.

Boone juga menilai risiko utang pemerintah dan korporasi yang meningkat di sejumlah negara emerging dan kredit macet dapat membebani perekonomian tahun ini.

(Baca: Pemerintah Bakal Hadapi Tantangan Berat Kerek Pertumbuhan Ekonomi 2020)

Di sisi lain, menurut dia, risiko-risiko perekonomian global tahun ini akan mendorong pemerintah dan bank-bank sentral di seluruh dunia berlomba mengeluarkan stimulus untuk mendorong perekonomiannya. Kebijakan moneter bank sentral AS The Federal Reserve menjadi salah satu yang paling berpengaruh.

Bank Sentral AS pada tahun lalu telah menurunkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali. Tahun ini, The Fed diperkirakan akan kembali menurunkan Fed Fund Rate.

Editor: Yura Syahrul

Video Pilihan

Artikel Terkait