Fokus Perbaiki Kredit Seret, Bank Mandiri Tunda Ekspansi ke Filipina

Pemerintah meminta agar Bank Mandiri menunda dulu rencananya membeli saham bank di Filipina, sehingga dapat memperbaiki kinerja keuangannya.
Image title
Oleh Yudi S.A.
27 Oktober 2017, 12:55
Gedung Bank Mandiri
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menunda rencananya membeli saham bank-bank di Filipina. Alasannya, Bank Mandiri akan fokus menurunkan rasio kredit bermasalahnya (Non-Perfoming Loan / NPL) yang sejak beberapa kuartal terakhir ini telah menggerus profitabilitas usahanya.

Sebelumnya Bank Mandiri sudah melakukan penjajakan untuk membeli saham minoritas bank-bank di Filipina. Negara itu jadi target ekspansi karena dinilai memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi namun sektor perbankannya belum terlalu matang dan jenuh (mature dan saturated) seperti di Indonesia.

Namun, menurut Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, pemerintah meminta agar Bank Mandiri menunda dulu rencana ekspansi tersebut untuk dapat memperbaiki kinerjanya. "Kami menerima surat dari kementerian yang mengatakan bahwa sebaiknya kami tahan dulu sebentar (rencana akuisisi) karena mau melihat gross NPL Bank Mandiri kembali ke tingkat normal,” katanya dalam pertemuan dengan analis pasar modal di Jakarta, Rabu (25/10).

Bank Mandiri berambisi memiliki peran lebih besar dalam bisnis perbankan di Asia Tenggara dengan masuk ke beberapa negara tetangga. Beberapa bulan lalu bank beraset total lebih Rp 1.000 triliun ini mengantongi lisensi penuh atau full retail banking licence di Malaysia. Alhasil, Bank Mandiri dapat lebih melayani nasabah di sana, termasuk warga Indonesia yang bekerja di negara jiran tersebut.

Di satu sisi, margin keuntungan bisnis perbankan di luar negeri memang lebih rendah. Namun, menurut beberapa analis, Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia perlu memperluas jaringan internasionalnya.

(Baca juga: Laba Gemuk Bank BUMN Saat Lemahnya Kredit Industri Perbankan)

Sepanjang Januari-September 2017, Bank Mandiri membukukan kinerja positif. Laba bank yang mayoritas sahamnya dimiliki negara ini mencapai Rp 15,1 triliun atau melonjak 25,4% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Di sisi lain, gross NPL turun menjadi 3,75% pada akhir September 2017, dibandingkan 3,81% pada akhir September 2016. Tingkat gross NPL Bank Mandiri masih lebih rendah dibandingkan bank-bank lain pada umumnya.

Kartika menjelaskan, peningkatan laba perseroan pada periode ini ditopang oleh pertumbuhan kredit secara tahunan (year-on-year) sebesar 9,8% menjadi Rp 686,2 triliun. Alhasil, aset Bank Mandiri pun ikut terdongkrak menjadi Rp 1.078,7 triliun, tumbuh 10,6% secara tahunan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap gross NPL setiap bank di Indonesia dapat turun di bawah 3%, walaupun gross NPL sebesar 5% sering dianggap sebagai batas yang menentukan apakah suatu bank perlu mendapat perhatian lebih oleh OJK.

Dalam pertemuan dengan analis untuk menjelaskan kinerja keuangannya baru-baru ini, direksi Bank Mandiri menjelaskan adanya peningkatan penurunan kualitas kredit selama kuartal III di kelompok 'self-employed' atau pengusaha kecil-menengah yang membeli rumah seken (secondary market).

Menurut Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Risk Management dan Compliance Bank Mandiri, peningkatan jumlah kredit yang mengalami penurunan kualitas menjadi “Dalam Perhatian Khusus” atau Kolektibilitas 2 pada kredit retail. Ini terutama disebabkan oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh pengusaha kecil-menengah. Dalam kredit retail, Bank Mandiri antara lain menawarkan KPR, kredit kepemilikan kendaraan dan kartu kredit.

"Mungkin keadaan ekonomi yang masih mengendur membuat kelompok self-employed mengalami keadaan sulit. Mereka ini membeli rumah kedua, bukan rumah pertama, sehingga ikatan emosional kepada jaminan tidak terlalu kuat,” ujarnya.

Dalam peraturan perbankan, kredit yang cicilannya dibayarkan tepat waktu dikategorikan sebagai Kolektibilitas 1, sementara yang pembayaran bunga atau cicilan pokok utangnya terlambat 1-90 hari masuk dalam Kolektibilitas 2. Adapun, terlambat 91-120 hari masuk kategori Kolektibilitas 3 (Kurang Lancar), 121-180 hari masuk Kolektibilitas 4 (Diragukan), dan lebih dari 180 hari atau enam bulan disebut kredit macet (Kolektibilitas 5).

Semakin lama keterlambatan pembayaran bunga atau cicilan pokok, semakin besar dana yang dicadangkan bank untuk mengantisipasi tidak terbayarnya kredit tersebut.  

Direksi Bank Mandiri juga melaporkan adanya peningkatan nilai transaksi mobile banking yang signifikan, menjadi Rp 93 triliun pada kuartal III tahun ini, dibandingkan Rp 68 triliun di kuartal III 2016. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding periode sama tiga tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp 28 triliun.

Editor: Yura Syahrul

Video Pilihan

Artikel Terkait