Diakuisisi Perusahaan Swiss Rp 290 M, Harga Saham Wicaksana Melonjak

Harga saham WICO melonjak 24,74% menjadi Rp 474 per saham. Hal ini tentu dipicu oleh spekulasi pelaksanaan penawaran tender (tender offer) pasca akuisisi dan perubahan pengendali perusahaan ini.
Yura Syahrul
11 Juli 2017, 18:45
Saham KATADATA | Arief Kamaludin
Saham KATADATA | Arief Kamaludin

PT Wicaksana Overseas International Tbk, distributor produk makanan dan minuman ringan serta barang kesehatan, akan diakuisisi oleh perusahaan logistik asal Swiss, DKSH Holding AG. Pasca pengumuman akuisisi yang diperkirakan senilai Rp 290 miliar tersebut, harga saham Wicaksana langsung melonjak 25%.

Manajemen Wicaksana mengumumkan, pendiri dan pemegang saham mayoritas perusahaan yaitu Djajadi Djaja telah meneken perjanjian jual beli bersyarat dengan DKSH. Perjanjian yang efektif berlaku Senin, 11 Juli lalu itu, memuat pembelian 761,37 juta saham Wicaksana milik Djajadi oleh DKSH. Jumlahnya sekitar 60 persen dari total saham.

Saat ini, kedua belah pihak sedang memenuhi syarat-syarat pendahuluan dalam perjanjian tersebut sebelum berlanjut ke tahap penyelesaian. Jadi, harga pembelian saham emiten berkode WICO ini ditentukan oleh pemenuhan syarat-syarat pendahuluan, seperti penyampaian dokumen tertentu dan persetujuan korporasi dari para pemegang saham penjual.

Jika mengacu harga penupan saham WICO di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli lalu sebesar Rp 380 per saham maka nilai transaksi akuisisi tersebut ditaksir sekitar Rp 290 miliar.

Pada perdagangan Selasa ini, harga saham WICO naik Rp 94 atau 24,74% menjadi Rp 474 per saham. Hal ini tentu dipicu oleh spekulasi pelaksanaan penawaran tender (tender offer) pasca akuisisi dan perubahan pengendali perusahaan tersebut.

Jika dihitung dalam setahun terakhir, harga saham WICO telah meroket 777,78%. Sedangkan sejak awal tahun ini, harga sahamnya meroket 848%.

Mengacu indikator teknikal Relative Strength Index (RSI 14 harian), harga saham WICO di posisi 66,5 dari skala 0-100. Artinya, secara teknikal saham WICO saat ini sudah mahal karena hampir mendekati level 70 yang merupakan indikator jenuh beli (overbought). Sementara level 30 merupakan level jenuh jual (oversold).

CEO DKSH, Stefan Butz, menyatakan akuisisi WICO untuk memperluas posisi pasar DKSH yang dominan di Asia Tenggara dan memasuki Indonesia melalui area yang paling cepat berkembang yaitu barang-barang konsumsi dan farmasi.

Sedangkan Djajadi mengatakan, WICO akan memulai bab baru dalam sejarah perusahaan melalui kemitraan dengan DKSH. “Kami menghubungkan perusahaan kami dengan jaringan distribusi yang bersifat Pan-Asian DKSH yang menjadi hal sangat penting untuk klien-klien barang konsumsi dan farmasi,” katanya dalam siaran pers WICO, Selasa (11/7).

Adapun, Presiden Direktur Wicaksana Eddy Suwandi mengatakan, DKSH memiliki rekam jejak baik dengan penjualan bersih melebihi CHF 10 miliar pada tahun 2016 dan posisi terdepan di sektor tersebut.

DKSH berdiri tahun 1865 yang berpusat di Zurich dna tercatat di Bursa Efek Swiss (SIX). Perusahaan ini memiliki 780 lokasi usaha dalam 36 negara, yang mayoritas berada di Asia.

Sedangkan Wicaksana berdiri tahun 1973 dengan melakoni bisnis distribusi barang-barang konsumsi, seperti minuman ringan Coca Cola, makanan ringan produksi Roda Garuda Mas dan Siantar Top, mie instan, serta barang-barang perawatan diri. Per akhir Maret 2017, aset perusahaan ini mencapai Rp 241,8 miliar.

Dari sisi kinerja, penjualan Wicaksana pada kuartal I-2017 mencapai Rp 239,13 miliar atau melonjak 30,9% dibandingkan periode sama 2016. Sedangkan laba bersihnya sebesar Rp 5,45 miliar, lebih baik dibandingkan rugi pada kuartal I-2016 sebesar Rp 92,2 juta. Tahun ini, perusahaan membidik target pendapatan Rp 1,08 triliun.

Saat ini, 78,1 persen saham Wicaksana dikuasai oleh Djajadi Djaja. Sisanya sebanyak 9,49% saham dimiliki PT Wira Saksama dan publik 12,41%.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait