Sri Mulyani: Semua Mesin Ekonomi Mulai Berjalan Normal

Image title
3 April 2017, 19:25
Sri Mulyani
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melihat tren perekonomian Indonesia pada tahun ini mulai pulih dan berjalan ke arah positif. Hal itu terlihat dari semua mesin penopang ekonomi di dalam negeri mulai berjalan normal. Sedangkan faktor eksternal tidak lagi menjadi faktor pelemah ekonomi Indonesia.

“Tahun 2016 kita harapkan sudah bottom, sehingga tahun 2017 mulai positif. Indikator itu terlihat dari semua mesin ekonomi mulai berjalan normal,” katanya dalam seminar makroekonomi bertajuk “Kondisi Ekonomi 2017 dan Tantangannya Bagi UMKM” yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) di kantor pusat Grup Astra, Jakarta, Senin (3/4).

Sri Mulyani memberikan paparan terkait prospek ekonomi dan tantangannya ke depan di hadapan lebih dari 600 orang undangan, yang terdiri dari UMKM mitra YDBA bidang manufaktur, bengkel dan kerajinan, akademisi, pebisnis dan eksekutif Grup Astra.Hadir pula dalam seminar tersebut Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dan jajaran direksi.

(Baca: Jokowi Akan Luncurkan Paket Pemerataan Ekonomi Dua Pekan Lagi)

Menurut Sri Mulyani, konsumsi domestik yang menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi mencatatkan pertumbuhan 5,7 persen dalam satu dekade terakhir. Begitu pula dengan investasi yang tumbuh 6,8 persen dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, peningkatan belanja pemerintah, dan aktivitas ekspor minus impor diharapkan dapat menjadi bantalan pertumbuhan ekonomi.

Di tengah tren positif tersebut, pemerintah memiliki instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, yakni anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang kredibel dan kuat.

“Jika 10 tahun lalu, kita berbicara bagaimana mendapatkan dana untuk membiayai belanja negara, tetapi saat ini adalah bagaimana kita membelanjakan APBN dengan berkualitas dan lebih baik,” ujar Sri Mulyani.

(Baca: Sri Mulyani: Urbanisasi Bisa Dorong Indonesia Jadi Negara Maju)

Ia juga memberikan gambaran ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Dengan pendapatan per kapita hampir sebesar US$ 4.000 dan jumlah penduduk mendekati 250 juta jiwa, ekonomi Indonesia saat ini masuk kelompok negara berpendapatan menengah (middle income country). Namun, ekonomi Indonesia harus dapat melanjutkan pertumbuhannya dan masuk dalam high income country.

Namun, menurut Sri Mulyani, banyak negara setelah masuk middle income country mengalami stagnasi pertumbuhan. “Kita harus bisa lolos dari middle income trap seperti Korea Selatan dan Singapura,” ujarnya. Pemerintah akan menggunakan seluruh instrumen untuk mengatasi berbagai masalah sehingga Indonesia dapat menjadi negara dengan ekonomi besar kelima pada 2045.

Di sisi lain, Sri Mulyani meminta para pelaku UKM tidak perlu khawatir, melainkan harus optimistis menghadapi peluang tersbeut. “Saya mengajak UMKM yang hadir di sini mampu memiliki semangat di atas agar bisa menjadi aset bangsa dan bukan liabilitas,” katanya.

(Baca: Jokowi: Ekonomi Indonesia Terbesar Keempat Dunia pada 2045)

Advertisement

Dalam sambutannya, Prijono Sugiarto mengatakan Grup Astra telah mengayomi 10.847 UMKM dan 9.828 UMKM di antaranya dibina oleh YDBA sekaligus melatih 701 pemuda putus sekolah menjadi mekanik. YDBA secara tidak langsung juga telah menciptakan 63.205 lapangan pekerjaan melalui UMKM yang difasilitasinya.

“Dalam pembinaan UMKM, kami memberikan ‘kail’, tidak sekadar memberi ‘ikannya’ agar pembinaan ini berdampak signifikan dan berkelanjutan bagi UMKM,” ujar Prijono.

Hasil dari program ini, yakni empat industri kecil menengah (IKM) logam level home industry di Waru, Sidoarjo, berhasil masuk dalam rantai pasokan PT Astra Honda Motor. Kemudian, 30 UMKM kerajinan anggota YDBA diterima mengikuti pameran secara reguler di IKEA Alam Sutera, serta hasil petani tradisional di Tapin, Kalimantan Selatan masuk ke supermarket modern.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait