Bank Kecil Optimistis Pertumbuhan Kredit 2017 di Atas 15 Persen

Rasio NPL gross perbankan pada Januari lalu meningkat menjadi 3,1 persen. Rasio ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2016 yang tercatat 2,93 persen.
Desy Setyowati
23 Maret 2017, 13:29
Bank uang
Arief Kamaludin|KATADATA

Mayoritas bank optimistis penyaluran kredit pada tahun ini bisa tumbuh di atas 15 persen. Prediksi ini lebih tinggi dibandingkan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berkisar 11-12 persen.

Bank bermodal kecil atau bank kelompok Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I paling optimistis memasang target pertumbuhan kredit sebesar 19,5 persen. Berturut-turut bank kelompok BUKU II dan BUKU III memperoyeksikan kredit tahun ini tumbuh 15,9 persen dan 10,1 persen. Adapun, bank besar kelompok BUKU IV memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 14,7 persen.

(Baca: Bank BUMN Hapus Buku Kredit Macet Rp 24,8 Triliun, Melejit 41 Persen)

Berdasarkan kepemilikannya, menurut Kepala Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK Sukarela Batunanggar, bank milik negara (BUMN) paling optimistis dengan proyeksi pertumbuhan kredit sebesar 16,3 persen. Sedangkan proyek pertumbuhan kredit Bank Pembangunan Daerah (BPD), bank asing yang bukan kantor cabang, dan kantor cabang bank asing masing-masing sebesar 12 persen, 11,2 persen dan 8,3 persen.

Membaiknya penyaluran kredit itu tercermin dari pertumbuhan kredit pada Januari lalu mencapai 8,3 persen. Pencapaian ini meningkat dibanding Desember 2016 yang hanya 7,9 persen.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tahun ini diharapkan semakin membaik dengan target pertumbuhan 11 persen. "Optimismenya kurang lebih sama (dari setiap kelompok bank), baik per BUKU dan kepemilikan," kata Batunanggar dalam seminar bertajuk “Tantangan dan Trend Bisnis Perbankan Indonesia ke Depan” di Jakarta, Kamis (23/3). Pada Janauri lalu, DPK tumbuh 10 persen.

(Baca: BI Pantau Likuiditas Bank Aman meski Banjir Surat Utang)

Meski begitu, perbankan masih terbelit persoalan kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross bank pada Januari lalu justru meningkat menjadi 3,1 persen. Rasionya lebih tinggi dibandingkan Desember tahun lalu yang tercatat 2,93 persen.

Menurut Batunanggar, kontributor kenaikan NPL masih sama seperti tahun lalu, yaitu dari sektor pertambangan, konstruksi, dan perdagangan besar. “Akhir-akhir ini (ditambah) karena perikanan," katanya.

NPL sektor pertambangan dan konstruksi masing-masing mencapai 7,2 persen san 6,8 persen di awal tahun ini. Sedangkan NPL kredit dari sektor perdagangan besar menunjukan perbaikan.

Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan kredit yang melaju, OJK memperkirakan rasio NPL akan berangsur-angsur turun. OJK memperkirakan NPL turun dari 3,04 persen menjadi 2,76 persen di akhir tahun. Proyeksi ini seiring adanya perbaikan kinerja beberapa sektor, seperti pertambangan yang ditopang kenaikan harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi.

Selain kredit bermasalah, perbankan juga menghadapi risiko pengetatan likuiditas. Hal itu terlihat dari rasio pinjaman terhadap DPK (Loan to Depoait Ratio/LDR) sudah di atas 90 persen. "LDR mulai naik, yang tentunya perlu menjadi perhatian meski levelnya masih di bawah toleransi. Dengan ekspektasi pertumbuhan kredit lebih tinggi, ini akan menekan likuiditas," ujar Batunanggar.

(Baca: Bankir Prediksi Pertumbuhan Kredit Masih Terganjal Kredit Macet)

Di tempat yang sama, Kepala Departemen Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Kurniawan Agung melihat pertumbuhan kredit secara nominal memang melambat akibat kenaikan NPL. Namun, rasio NPL sekarang jauh lebih rendah dibandingkan saat krisis 2008 yang mencapai 4,2 persen.

Selain itu, rasio pencadangan bank (coverage ratio) untuk mengatasi NPL juga besar yakni 113 persen. Karena itu, dia memperkirakan NPL akan menurun pada semester I ini. "Kredit sejak akhir tahun 92016) membaik sejalan dengan optimisme kalangan usaha sehingga konsolidasi selesai. BI perkirakan kredit tumbuh 11-12 persen di 2017,” ujarnya.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait