Musim Hujan, Inflasi Pekan Ketiga November Melejit 0,39 Persen

“Harga pangan yang strategis seperti cabai rawit dan bawang itu kelihatannya ada tekanan inflasi yang cukup tinggi,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo.
Desy Setyowati
18 November 2016, 16:37
Pasar Tradisional
Arief Kamaludin|KATADATA

Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, inflasi pada bulan November ini cenderung merangkak naik. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga pekan ketiga November ini inflasi telah mencapai 0,39 persen. Penyebab utamanya adalah musim hujan dan kenaikan harga beberapa komoditas pangan.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, gangguan iklim La-Nina yang disertai dengan musim hujan ekstrim telah menganggu produksi tanaman pangan. Alhasil, harga komoditas pangan naik, terutama harga cabai dan bawang.

(Baca: Penurunan Harga Pangan Tekan Inflasi Oktober 0,14 Persen)

Kenaikan harga komoditas pangan tersebut yang menyebabkan inflasi hingga pekan ketiga November ini mencapai 0,39 persen. Besarannya lebih tinggi dibandingkan inflasi sepanjang Oktober lalu yang hanya sebesar 0,14 persen. “Harga pangan yang strategis seperti cabai rawit dan bawang itu kelihatannya ada tekanan inflasi yang cukup tinggi,” kata Agus di Jakarta, Jumat (18/11).

Advertisement

Selain faktor La-Nina, BI melihat penyebab lain terganggunya produksi komoditas pangan. Agus menyatakan, BI mengkaji adanya virus kuning yang menyerang tanaman pangan di wilayah Sumatera, khususnya bagian utara. Infeksi dari virus yang juga disebut “Gemini” ini menyebabkan daun-daun tanaman mengecil dan berwarna terang.

(Baca: Bank Dunia: Inflasi Rendah dan Bantuan Tunai Tekan Angka Kemiskinan)

Tanaman yang terserang kemudian menjadi kerdil dan tidak berbuah. “Virus kuning itu membawa pengaruh kepada gagalnya panen cabai dan itu membuat kondisi ketersediaan cabai di pasar menjadi terbatas dan membawa tekanan kepada inflasi,” ujar Agus.

(Baca: Rendahnya Inflasi Bisa Dukung Ekonomi Kuartal III Tumbuh 5 Persen)

Meski begitu, BI meyakini bahwa inflasi hingga akhir tahun nanti masih tetap rendah, yaitu berkisar 3 persen hingga 3,2 persen. Agar bisa mencapai target tersebut, diperlukan koordinasi yang teratur antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BI. Koordinasi itu terutama untuk menjaga produksi dan distribusi pangan.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait