Jumlah Tabungan Minim, Jokowi Soroti Biaya Administrasi di Bank

"Jangan lagi menyimpan uang di bawah bantal, atau di bawah kasur, kita kurangi budaya konsumtif menjadi budaya produktif."
Ameidyo Daud Nasution
31 Oktober 2016, 13:04
Jokowi Menabung
Kris (Biro Pers Setpres)

Jumlah kepemilikan tabungan bank di Indonesia tercatat masih rendah dibandingkan negara-negara lain. Padahal, dana tabungan itu bisa bermanfaat untuk mendukung program pembangunan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perbankan menanggapi keluhan masyarakat mengenai biaya administrasi tabungan yang memberatkan.

Menurut Presiden, potensi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa merupakan kekuatan bagi perekonomian. Jadi, semakin tinggi tingkat tabungan masyarakat, tentunya akan menggerakkan roda perekonomian. Ketersediaan dana itu dapat disalurkan guna investasi, baik di sektor riil maupun di sektor keuangan.

"Dengan penduduk sebesar itu, kita tidak ingin hanya menjadi konsumen pasar, tetapi menjadi kekuatan produktif, yang gemar menabung, memiliki ethos kerja yang tinggi dan aktif menggerakkan perekonomian," ujar Jokowi dalam acara "Ayo Menabung" sebagai peringatan Hari Menabung Sedunia di Jakarta, Senin (31/10).

Presiden mengajak seluruh masyarakat menabung melalui berbagai produk keuangan dan menjadikan kegiatan gemar menabung sebagai sebuah budaya. "Jangan lagi menyimpan uang di bawah bantal, atau di bawah kasur, kita kurangi budaya konsumtif menjadi budaya produktif," katanya.

Advertisement

Jokowi mengungkapkan, saat program pengampunan pajak (tax amnesty) baru diketahui adanya masyarakat yang menyimpan uang Rp 1 triliun di bawah kasur. "Yang menyimpan di bawah kasur sebesar Rp 1 triliun harus diupayakan semua masuk ke perbankan," ujarnya.

Untuk itu, perbankan harus dapat mendorong masyarakat untuk lebih mudah menabung. Presiden juga menghimbau kepada bank untuk menanggapi keluhan masyarakat terhadap biaya administrasi tabungan. "Saya titip kepada seluruh pimpinan bank yang masih ada keluhan tentang fee, kalau tabungan kecil kadang tergerus oleh biaya tabungan," katanya.

Menurut Presiden, rasio porsi tabungan terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini masih terbilang rendah yakni 20 persen. Padahal, dia menilai, angka idealnya adalah 32 persen. Sedangkan tingkat kepemilikan rekening masih rendah yakni 19 persen dari total penduduk yang berusia di atas 15 tahun.

Jokowi berharap, tingkat kepemilikan dan nilai tabungan masih dapat ditingkatkan. Peningkatan ini bisa diperoleh dengan memaksimalkan potensi tabungan dari kalangan pelajar yang mencapai 44 juta siswa. "Selain itu, mahasiswa dan pemuda yang berjumlah sekitar 55 juta orang tentunya menjadi target penghimpunan dana yang cukup potensial," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad mengatakan, rasio tabungan terhadap PDB saat ini memang tidak cukup untuk membiayai pembangunan. Sedangkan rasio serupa di Singapura dan Filipina telah mencapai 49 persen dan 46 persen.

Alhasil, opsi utang luar negeri akhirnya ditempuh untuk membiayai kebutuhan pembangunan. "Padahal Jepang ketika membangun pada tahun 1970-an punya Gross Domestic Saving 40 persen, akhirnya dia bisa tumbuh pesat," ujarnya.

Oleh sebab itu, OJK bersama lembaka keuangan dan pemangku kebijakan lainnya telah melakukan beberapa inisiatif seperti mengeluarkan Simpanan Pelajar (SimPel) yang diikuti 2 juta pelajar. Selain itu, Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) sebanyak 1,63 juta nasabah dan nilai tabungan Rp 63 miliar. "Lalu investasi reksadana dengan minimal investasi awal Rp 100 ribu," kata Muliaman.

Turut hadir dalam acara tersebut, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait