Pekan Ini, Menteri Keuangan Rilis Tiga Aturan Teknis Tax Amnesty

Untuk menggodok peraturan tersebut, Kementerian Keuangan meminta masukan pengusaha, perbankan, direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga konsultan pajak.
Desy Setyowati
12 Juli 2016, 11:23
Bambang Brodjonegoro
Arief Kamaludin | Katadata

Pemerintah tengah mematangkan pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty. Selain sosialisasi kepada pengusaha di dalam dan luar negeri, pemerintah akan segera menerbitkan aturan teknis atau turunan dari Undang-Undang Tax Amnesty yang telah disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhir Juni lalu.

Kementerian Keuangan berencana menerbitkan tiga Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tax amnesty dalam pekan ini. Dua di antaranya mencakup prosedur dan instrumen investasi untuk menampung dana repatriasi hasil program tersebut.

“Ada yang mengenai instrumen repatriasi, prosedur, satu lagi saya lupa,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Senin (11/7).

Untuk menggodok peraturan tersebut, Kementerian Keuangan meminta masukan dari berbagai pihak. Yaitu pengusaha yang diwakili oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), kalangan perbankan, direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga konsultan pajak.

Advertisement

(Baca: Pemerintah Siap Berlakukan Tax Amnesty Pekan Depan)

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Sofyan Wanandi, mayoritas masukan yang disampaikan para pengusaha telah diterima Menteri Keuangan. “Itu untuk membuat PMK, yang minggu ini harus siap,” ujarnya.

Pembahasan PMK terkait prosedur mencakup kemungkinan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) bisa mengikuti progrm pengampunan pajak secara mudah.

Formulir pendaftaran bagi seluruh peserta pun dipermudah dengan mengisi satu hingga dua halaman saja.

Dengan begitu, pengusaha diharapkan semakin berminat mengikuti program tersebut. Sebab, untuk mendaftar tax amnesty bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan konsultan pajak.

(Baca: Pemerintah Peringatkan Rencana Gugatan UU Tax Amnesty)

Sedangkan pembahasan PMK yang mencakup instrumen investasi mencakup fleksibilitas agar dana repatriasi bisa digunakan untuk menggerakkan perekonomian. Meskipun dana tersebut harus ditahan minimal selama tiga tahun di dalam negeri.

Karena itulah, Kementerian Keuangan meminta masukan dari kalangan perbankan agar instrumen keuangan yang digunakan bisa fleksibel. “Bagaimana pasar modal bisa pakai instrumen, perbankan juga bisa sehingga bisa menggerakkan perekonomian,” kata Sofyan.

(Baca: Setelah Lebaran, Jokowi Panggil Para Pemilik Dana di Luar Negeri)

Selain itu dibahas pula mengenai bidang usaha apa saja yang diutamakan untuk mendapatkan pembiayaan dari dana repatriasi tersebut. Bidang usaha yang dipilih pastinya yang bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak dan berdampak besar terhadap perekonomian.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait