Sri Mulyani, Wanita Berpengaruh ke-9 di Dunia Keuangan

Nama Yellen dan Lagarde berturut-turut mengisi posisi 1 dan 2. Sedangkan Sri Mulyani di posisi ke-9, di bawah tiga nama wanita Asia lainnya.
Image title
11 Juni 2016, 14:15
Sri Mulyani
Arief Kamaludin | Katadata

Sri Mulyani didapuk sebagai wanita berpengaruh ke-9 di sektor keuangan, perbankan, dan modal ventura di dunia. Nama Direktur Pelaksana Bank Dunia ini bersanding dengan Janet Yellen, Gubernur Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) dan Christine Lagarde, Managing Director Dana Moneter International (IMF).

Dalam peringkat terbaru “100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia” yang dipuncaki oleh Kanselir Jerman Angela Markel, yang dirilis majalah Forbes, Senin lalu (6/6), Sri Mulyani menempati peringkat ke-37, lebih rendah enam tingkat dari tahun sebelumnya.

Dari daftar “100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia”, Forbes juga mengelompokkan “17 Wanita Paling Berpengaruh di Sektor Keuangan di Dunia”. Nama Yellen dan Lagarde berturut-turut mengisi posisi 1 dan 2.

Sedangkan Sri Mulyani di posisi ke-9, di bawah tiga nama wanita Asia lainnya. Yaitu Arundhati Bhattacharya (gubernur bank sentral India) di posisi 5, Ho Ching (CEO Temasek) di peringkat ke-6 dan Lucy Peng atau Peng Lei (CEO Ant Financial Services Group China) di posisi ke-8.

(Baca: Panama Papers dan Ketidakadilan Sistem Pajak)

Forbes menilai, Sri Mulyani dalam menduduki jabatan superior di bank Dunia, mampu mengangkat pentingnya kesetaraan gender dalam bekerja.

Dalam paparan terbarunya, seperti dikutip Forbes, bekas Menteri Keuangan Indonesia ini menyoroti jurang partisipasi pekerja perempuan di berbagai belahan dunia. Kondisi itu menyebabkan adanya peluang kehilangan pendapatan yang setara dengan seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) Timur Tengah dan 14 persen PDB Amerika Latin.

(Baca: JK Sudah Bertemu Sri Mulyani)

Sedangkan saat berpidato dalam acara “World Bank and IFC Housing Finance Conference” ke-7 di Washington DC, AS, Mei lalu, Sri mempromosikan penyusunan kebijakan pembiayaan perumahan sebagai salah satu strategi menurunkan angka kemiskinan, terutama di kota-kota besar.

“Untuk mencapai tujuan 2030, dunia perlu membangun 300 juta unit rumah. Ini membutuhkan investasi besar, yang tidak mampu ditanggung sendirian oleh pemerintah,” katanya. Hal tersebut mensyaratkan kebijakan cerdas yang dapat membantu kota-kota mengantisipasi dampak buruk urbanisasi.

(Baca: Pelaku Pasar Antusias Sambut Kembalinya Sri Mulyani ke Kabinet)

Sri Mulyani juga sempat menyoroti kasus dokumen Panama atau Panama Papers yang menghebohkan dunia pada April lalu. Dalam artikelnya di blog Bank Dunia, dia menyebut skandal Panama Papers bukan sekadar praktik penyembunyian kekayaan dan upaya menghindari pajak dengan mendirikan perusahaan cangkang di negara suaka pajak. Tapi, kebocoran data-data tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan publik dilanggar saat perusahaan, orang kaya dan orang kuat dapat menyembunyikan uangnya tanpa melanggar hukum.

Sebelumnya, pada 2012, Forbes juga pernah menempatkan Sri Mulyani di posisi ke-5 dari 12 perempuan paling berpengaruh di Asia. Ia sempat menduduki posisi Menteri Keuangan pada periode 2005-2010, di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia kemudian berkarier di Bank Dunia setelah keputusannya menyelamatkan (bailout) Bank Century saat krisis tahun 2008 dipersoalkan oleh para politisi.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait