Pertama Sejak Awal Tahun, Cadangan Devisa Anjlok Rp 55 Triliun

Yura Syahrul
8 Juni 2016, 12:56
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa per akhir Mei lalu sebesar US$ 103,6 miliar. Jumlahnya menurun US$ 4,1 miliar atau setara Rp 55,35 triliun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 107,5 miliar. Ini merupakan penurunan pertama cadangan devisa dalam empat bulan terakhir.

Pada Januari lalu, cadangan devisa memang sempat turun US$ 3,8 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 102,1 miliar. Namun, sejak itu cadangan devisa terus meningkat, yaitu US$ 104,5 miliar pada Februari; US$ 107,5 miliar pada Maret dan sebesar US$ 107,7 miliar pada April lalu.

Sedangkan pada akhir Mei lalu, cadangan devisa kembali melorot menjadi US$ 103,6 miliar. Penyebab utamanya adalah meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas)  untuk membayar kewajiban alias utang oleh penduduk sesuai pola musimannya. Alhasil, penempatan valas perbankan di BI menjadi lebih rendah.

Kedua, penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri. Pada akhir Mei lalu, aktiva domestik bersih sebesar minus US$ 473,2 miliar atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar minus US$ 498,6 miliar. Aktiva domestik bersih ini adalah jumlah uang primer setelah dikurang aktiva luar negeri bersih.

(Baca: Pemerintah Rajin Rilis Obligasi, Rasio Utang Naik Jadi 36,5 Persen)

Yang menarik, tagihan bersih kepada pemerintah pusat membengkak dari US$ 124,3 miliar menjadi US$ 144 miliar. Semuanya berupa obligasi pemerintah. Sedangkan kredit likuiditas bertambah menjadi US$ 58 miliar, yang semuanya untuk Perum BULOG.

Ketiga, penurunan cadangan devisa bulan Mei lalu juga disebabkan upaya BI menstabilkan nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. Sepanjang Mei lalu di pasar spot, nilai tukar rupiah memang melemah 3,6 persen dari posisi 13.180 menjadi 13.648 per dolar AS. Namun, mengacu catatan BI, nilai operasi pasar terbuka pada Mei lalu US$ 192,6 miliar, yang lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$ 228,7 miliar.

(Baca: Industri Lesu, Utang Luar Negeri Swasta Melambat)

Meskipun mengalami penurunan, jumlah cadangan devisa Mei 2016 masih cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor atau 7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini lebih tinggi daripada standar kecukupan cadangan devisa yang berlaku secara internasional sekitar 3 bulan impor.

(Baca: Rupiah Menguat, Cadangan Devisa Bisa Terus Bertambah)

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara memperkirakan, penurunan cadangan devisa pada Mei 2016 bersifat temporer. Hal ini didukung oleh kondisi pasar keuangan global yang saat ini sudah kembali kondusif seperti tercermin dari meningkatnya kembali pasokan valas di pasar domestik. “Ke depan, BI akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” katanya dalam siaran pers BI, Selasa (7/6).

Advertisement
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait