Rapat Perdana, KSSK Nilai Sistem Keuangan Indonesia Terkendali

Desy Setyowati
13 Mei 2016, 15:23
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia dalam kondisi baik dan terkendali. Kendati begitu, perlu mewaspadai beberapa risiko, khususnya dari luar negeri, seperti rencana kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) alias Fed Rate, yang dapat mempengaruhi sistem keuangan di dalam negeri.

“Kami akan assesment (menilai) kondisi keuangan tiga bulan terakhir. Kondisinya terkendali, masing-masing (anggota KSSK) juga berpendapat kondisinya relatif baik,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro seusai rapat KSSK di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/5).
Rapat KSSK ini merupakan rapat pertama setelah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK) pertengahan Maret lalu. KSSK yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Otoritas Jasa keuangan (OJK), dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mengemban mandat untuk mencegah dan menangani krisis sistem keuangan.

(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2016 Meleset di Bawah Target)

Dalam rapat perdana tersebut, KSSK membahas kondisi stabilitas sistem keuangan, rencana kerja tahun ini dan persiapan Financial Sector Assessment Program (FSAP). Menurut Gubernur BI Agus Martowarodjo, dana asing yang masuk ke sektor keuangan masih cukup besar. Hal ini cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD). Per kuartal I-2016, bank sentral mencatat defisit transaksi berjalan meningkat dari US$ 4,1 miliar menjadi US$ 4,6 miliar. Sedangkan indikator makroekonomi lainnya, yaitu inflasi juga masih terkendali.

Di sisi lain, KSSK melihat risiko utang luar negeri (ULN) swasta yang  meningkat. Namun, jumlahnya masih dalam kondisi terkendali. Sedangkan mata uang rupiah cenderung mengalami penurunan sejak awal Mei lalu. “Tapi posisi rupiah saat ini masih terjaga,” ujar Agus.

(Baca: Otoritas Moneter Waspadai Kenaikan Fed Rate)

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Haddad menilai, sektor keuangan juga terkendali. Meskipun penyaluran kredit perbankan pada kuartal I melambat, hal ini merupakan pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, ia pun optimistis pertumbuhan kredit bisa meningkat pada tiga kuartal ke depan. “Bank belum mengubah rencana bisnisnya, kredit tetap ditargetkan tumbuh 13 persen,” katanya.

Memasuki bulan Mei, rupiah memang melemah dari level Rp 13.159 ke kisaran Rp 13.300 per dolar AS. Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada berpandangan, melorotnya rupiah terimbas oleh pelemahan mata uang Jepang. Setelah bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) berencana memperpanjang paket stimulusnya bulan depan, pelaku pasar langsung bereaksi negatif. Mata uang yen melemah dan turut menyeret mata uang negara-negara di kawasannya terhadap dolar AS.

(Baca: S&P Nilai Positif, Peringkat Indonesia Berpeluang Layak Investasi)

Di sisi lain, harga minyak dunia mulai merambat naik sehingga menahan laju penguatan rupiah. Padahal,  lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) berpeluang menaikan peringkat Indonesia menjadi layak investasi (investment grade) pada Juni nanti.

Sementara itu, sentimen positif dari dalam negeri, seperti pertumbuhan ekonomi, belum terlihat. Awal bulan ini, Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2016 hanya sebesar 4,92 persen. Pencapaian ini di bawah target BI dan sejumlah ekonom yang semula memprediksi pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait