Dua Sebab Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Meleset

Laju pertumbuhan sektor pertanian kuartal I-2016 hanya sebesar 1,89 persen dibandingkan kuartal sama tahun lalu. Padahal, biasanya sektor ini mampu tumbuh di atas empat persen.
Desy Setyowati
4 Mei 2016, 15:16
Pertanian
Donang Wahyu|KATADATA
Lambannya pertumbuhan sektor pertanian berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I-2016.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2016 ternyata meleset di bawah prediksi Bank Indonesia (BI) dan sejumlah pengamat ekonomi. Ada dua faktor utama penyebabnya, yaitu dampak musim El-Nino terhadap sektor pertanian dan kehutanan serta perlambatan penyaluran kredit.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi selama tiga bulan pertama tahun ini hanya 4,92 persen. Ini lebih baik dari kuartal I-2015 yang sebesar 4,73 persen, namun turun 0,23 persen kalau dibandingkan dengan kuartal IV-2015 yang sebesar 5,04 persen. Padahal, sebelumnya BI dan beberapa ekonom optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I ini berkisar 5-5,2 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Suhariyanto menyatakan, musim El-Nino telah mempengaruhi sektor pertanian sehingga masa panen bergeser dari bulan Maret ke April. Alhasil, laju pertumbuhan sektor pertanian pada kuartal I-2016 hanya sebesar 1,89 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. Padahal, biasanya sektor ini mampu tumbuh di atas empat persen. Lambannya pertumbuhan sektor ini berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi karena kontribusinya mencapai 13,56 persen.

(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2016 Meleset di Bawah Target)

Musim El-Nino juga menyebabkan rendahnya pertumbuhan sektor kehutanan pada kuartal I-2016. “Faktor-faktor ini yang tidak diperhitungkan pasar dalam membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I yang rata-rata diprediksi tumbuh 5-5,1 persen,” kata pria yang akrab disapa Ketjuk ini di kantor BPS, Jakarta, Rabu (4/5).

Prediksi Pertumbuhan

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga menunjuk pergeseran masa panen menyebabkan pertumbuhan sektor pertanian tidak setinggi waktu-waktu sebelumnya. Pergerseran masa panen ke bulan April itu malah akan menopang pertumbuhan ekonomi kuartal II nanti.

Faktor penyebab kedua melesetnya prediksi pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini adalah penyaluran kredit yang melambat. Kondisi ini turut mempengaruhi investasi swasta, yang merupakan salah satu komponen pertumbuhan ekonomi.

(Baca: BI Perkirakan Ekonomi Kuartal I Tumbuh Hingga 5,2 Persen)

Sektor usaha lain yang mencatatkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan kuartal IV tahun lalu adalah pertambangan dan penggalian yang berkontraksi minus 0,27 persen. Sedangkan dibandingkan kuartal I-2015 juga berkontraksi minus 0,66 persen. Penyebabnya, permintaan terhadap beberapa produk pertambangan seperti batubara belum pulih sama sekali. “Memang pertumbuhan ekonomi kuartal ini tidak sebagus kuartal IV-2015. Tapi masih lebih bagus dari kuartal I-2015,” kata Darmin.

Di sisi lain, sektor usaha yang tumbuh baik untuk menopang pertumbuhan ekonomi adalah sektor jasa keuangan, kesehatan dan kegiatan sosial, serta informasi dan komunikasi. Sejumlah sektor usaha itu masing-masing tumbuh sebesar 9,1 persen, 8,52 persen, dan 8,28 persen. Jasa perantara keuangan ini tumbuh karena ada perluasan margin pendapatan bunga bank. Begitupun dengan transportasi yang mampu tumbuh 7,73 persen, dipicu oleh penambahan armada dan rute perjalanan angkutan udara dan kereta api.

(Baca: Survei BI: Kuartal II, Sektor Manufaktur Mulai Ekspansi Usaha)

Sedangkan industri pengolahan yang kontribusinya mencapai 20,1 persen terhadap perekonomian, hanya tumbuh 4,59 persen pada kuartal I-2016. Adapun porsi sektor konstruksi terhadap perekonomian juga meningkat menjadi 10,02 persen dan mampu tumbuh 7,87 persen dibandingkan kuartal I tahun lalu. Hal ini didukung oleh belanja modal pemerintah pada kuartal I-2016 yang meningkat 158 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Meskipun penyerapannya baru 18,5 persen.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait