Di Mata CEO Asing, Indonesia Lebih Menarik Daripada Singapura

52 persen dari 800 bos perusahaan yang disurvei PwC menyatakan akan meningkatkan investasinya di Indonesia dalam 12 bulan ke depan. Persentasenya hanya kalah tipis dari Cina yang sebanyak 53 persen.
Yura Syahrul
19 November 2015, 16:32
Pembangunan.jpg
KATADATA/

KATADATA - Di mata para pimpinan atau chief executive officer (CEO) perusahaan global, ternyata Indonesia lebih menarik sebagai tempat berinvestasi dibandingkan Singapura. Penilaian tersebut setidaknya berdasarkan hasil survei auditor internasional, Price Waterhouse Coopers (PwC), terhadap 800 CEO perusahaan di Asia Pasifik, yang dirilis pada Senin lalu (16/11).

Sebanyak 52 persen dari 800 bos perusahaan yang disurvei PwC tersebut menyatakan akan meningkatkan investasinya di Indonesia dalam 12 bulan ke depan. Persentasenya hanya kalah tipis dari Cina yang menempati posisi teratas sebanyak 53 persen. Sedangkan Singapura, yang selama ini dikenal sebagai salah satu hub perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik, hanya mendapatkan 46 persen responden CEO.

Selain mampu memikat hati 52 persen CEO di kawasan Asia Pasifik untuk meningkatkan investasinya dalam setahun ke depan, sebanyak 38 persen CEO yang disurvei PwC tersebut mengaku akan mempertahankan nilai investasinya yang sama. Para CEO juga punya keyakinan lebih tinggi terhadap perekonomian Indonesia dalam jangka menengah, yaitu 3-5 tahun mendatang. Keyakinan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode jangka pendek, yaitu 12 bulan ke depan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menilai, hasil survei itu menunjukkan para CEO negara-negara di Asia Pasifik masih percaya dengan iklim investasi di Indonesia yang semakin kondusif. Keyakinan para CEO itu penting mengingat aliran modal asing yang masuk ke kawasan ini cukup tinggi. Berdasarkan survei PwC, 68 persen investasi baru akan dikucurkan di wilayah Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan 32 persen lainnya ke wilayah lain di dunia.

Advertisement

BKPM pun mencatat, realisasi investasi negara-negara yang tergabung dalam APEC mendominasi arus investasi yang masuk ke Indonesia. Dalam lima tahun terakhir dari 20 negara teratas realisasi investasinya di Indonesia, anggota APEC berkontribusi hingga 77,5 persen dengan nilai mencapai US$ 76 miliar.

Realisasi investasi dari negara-negara APEC juga menunjukkan tren positif setiap tahun. Pada tahun 2010, nilai realisasi investasi negara APEC sebesar US$ 9,2 miliar dan meningkat 64 persen menjadi US$ 15,1 miliar pada akhir tahun lalu. Sedangkan hingga September lalu, nilai realisasi investasiny sudah mencapai US$ 11,9 miliar.

Yang juga menumbuhkan harapan besar di hati pemerintah dari survei PwC tersebut adalah, 84 persen responden CEO perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia mengaku siap menambah pekerjanya. Level ini di atas rata-rata seluruh responden APEC yang sebesar 76 persen. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia di masa depan.

Menurut Franky, aspek penambahan pekerja ini menjadi salah satu hal penting terhadap upaya pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 2 juta per tahun. “Penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu prioritas keberhasilan pembangunan ekonomi,” katanya dalam siaran pers BKPM, Kamis (19/11).

Untuk merealisasikan persepsi positif dari hasil survei itu, pemerintah akan terus mendorong realisasi investasi, termasuk yang berasal dari negara-negara APEC. Berbagai paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah, termasuk di antaranya kemudahan layanan investasi 3 jam, diluncurkan untuk memberikan stimulus bagi percepatan realisasi investasi. “Survei ini juga bermanfaat dalam memberikan gambaran kepada pemerintah bagaimana dunia usaha memproyeksikan pertumbuhan bisnisnya 12 bulan ke depan,” kata Franky.

Reporter: Redaksi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait