Sanksi Suspend Dicabut, Menteri BUMN Minta Danareksa Diaudit Investigasi

Otoritas bursa telah mencabut sanksi suspend karena ketiga perusahaan sekuritas itu telah mengirimkan surat kepada BEI dan berkomitmen memperbaiki kesalahannya.
Yura Syahrul
12 November 2015, 15:23
Menteri BUMN, Rini Soemarno
Arief Kamaludin|KATADATA
Menteri BUMN, Rini Soemarno

KATADATA - Sanksi pengehntian sementara (suspend) aktivitas perdagangan PT Danareksa Sekuritas dari otoritas bursa hanya berumur satu hari. Namun, Kementerian BUMN akan melakukan audit investigasi terhadap Danareksa terkait dugaan kasus perdagangan semu dan gagal bayar transaksi gadai saham (repo).

Menteri BUMN Rini Soemarno mengaku telah mendapatkan laporan secara lisan dari Sekretaris Menteri BUMN Iman A. Putro mengenai masalah yang membelit anak usaha PT Danareksa (Persero) itu. Terus terang buat saya sangat sedih hal itu terjadi, kenapa bisa terjadi,” kata Rini di Jakarta, Kamis (12/11).

Menyikapi hal tersebut, dia langsung meminta penonaktifan sementara manajemen Danareksa dan dilakukannya audit investigasi. Jadi, Rini belum bisa menjelaskan lebih detail masalah yang tengah dihadapi Danareksa, termasuk nilai kerugiannya. “Saya belum bisa jawab dulu kenapa itu. Maka itu saya langsung (minta) ada audit investigasi,” tandasnya.   

Seperti diberitakan sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspend aktivitas transaksi Danareksa di bursa saham pada sesi pertama perdagangan hari Rabu lalu (11/11). Selain Danareksa,  PT Reliance Securities Tbk dan PT Millenium Danatama Sekuritas mendapat sanksi serupa. Pasalnya, menurut Direktur Utama BEI Tito Sulistio, tiga perusahaan sekuritas itu tidak menjalankan prosedur pengendalian internal yang memadai atas kegiatan operasionalnya.

Advertisement

Penghentian sementara aktivitas broker ketiga perusahaan sekuritas tersebut diduga terkait dengan kasus gagal bayar transaksi repo saham PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP). Berdasarkan informasi yang diperoleh Katadata dari para broker saham di bursa, total nilai gagal bayar repo saham tersebut sekitar Rp 600 miliar. Alhasil, Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) ketiga perusahaan sekuritas itu tergerus cukup dalam.

(Baca: Terseret Dugaan Repo Saham, Transaksi Danareksa dan Dua Sekuritas Dibekukan)

Namun, sanksi dari otoritas bursa itu hanya berumur satu hari. Terhitung sejak sesi pertama perdagangan hari Kamis ini, ketiga sekuritas tersebut sudah bisa menjalankan aktivitas brokernya. “Berdasarkan hasil pemeriksaan bursa, perusahaan (Danareksa) telah melakukan perbaikan terhadap hal-hal yang menjadi dasar pengenaan sanksi larangan sementara tersebut (suspend),” kata Direktur BEI Hamdi Hassyarbaini, dalam surat keterbukaan informasi di situs BEI.  Tito menambahkan, ketiga perusahaan itu telah mengirimkan surat kepada BEI dan berkomitmen memperbaiki kesalahannya.

Di tempat terpisah, Direktur Utama Millenium Danatama Sekuritas Andi Purnomo menjelaskan, pihaknya telah melakukan beberapa perbaikan sesuai permintaan otoritas. Beberapa perbaikan itu adalah pembenahan prinsip Know Your Customer (KYC) dan perbaikan administratif. Selain itu, aktif membuat laporan kepada BEI jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Andi menegaskan, sanksi suspend tersebut tidak terkait dengan kasus dugaan gagal bayar repo saham Sekawan. “Tidak ada mengalami gagal bayar, itu yang harus di highlight,” imbuhnya. Penyebab sanksi itu terkait dengan prinsip KYC yang tidak dijalankan oleh Millenium.

Dalam konferensi pers pada Rabu kemarin, Komisaris Utama Reliance Anton Budidjaja mengakui adanya transaksi cukup besar yang dilakukan Reliance. Namun, transaksi itu dilakukan sesuai aturan, prosedur, dan prinsip KYC. Selain itu, kondisi permodalan Reliance saat ini masih sehat yaitu sebesar Rp 800 miliar.

Di sisi lain, dia menilai keputusan BEI menghentikan sementara aktivitas perdagangan perusahaannya terburu-buru dan subyektif. “BEI baru mengirim tim pemeriksa hari Selasa lalu dan memberitahu kami bahwa pemeriksaaan baru selesai pekan depan (16 November),” katanya

Reporter: Anggita Rezki Amelia, Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait