Cadangan Devisa Tersisa US$ 100,7 Miliar, Terendah dalam 22 Bulan

Penyebabnya, peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan devisa untuk menstabilkan nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Yura Syahrul
6 November 2015, 18:24
rupiah dolar arief.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Tren penurunan cadangan devisa terus berlanjut. Posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Oktober 2015 sebesar US$ 100,7 miliar. Jumlahnya berkurang US$ 1 miliar dibandingkan akhir bulan sebelumnya yang mencapai US$ 101,7 miliar. Ini merupakan posisi terendah cadangan devisa dalam 22 bulan terakhir atau sejak bulan Januari 2014.

Andiwiana, Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) menyatakan, ada dua faktor penyebab penurunan cadangan devisa tersebut. Pertama, meningkatnya pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Oktober 2015, jumlah utang luar negeri pemerintah per akhir Agustus 2015 mencapai US$ 128, 78 miliar. Porsi terbesar jenis utangnya adalah surat berharga negara senilai US$ 77 miliar. Adapun kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah periode Agustus-Desember 2015 mencapai US$ 3,19 miliar.

(Baca: Rupiah Meroket, Investor Panik Lepas Dolar AS)

Advertisement

Penyebab kedua, penggunaan devisa untuk stabilisasi nilai tukar rupiah yang sesuai dengan nilai fundamentalnya. “Hal tersebut sejalan dengan komitmen BI untuk mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Andiwiana dalam siaran pers BI, Jumat (6/11).

Pergerakan Cadangan Devisa

Langkah BI menggunakan cadangan devisa untuk menjaga mata uang rupiah setidaknya sudah membuahkan hasil. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung menguat sepanjang Oktober lalu. Berdasarkan data Bloomberg, nilai rupiah di pasar spot selama bulan lalu menguat 6,6 persen dari Rp 14.653 menjadi Rp 13.684 per dolar AS pada 30 Oktober lalu.

Jika melihat lebih lanjut komponen cadangan devisa Oktober 2015, posisi aktiva luar negeri bersih melorot Rp 113,7 triliun dari bulan sebelumnya menjadi Rp 1.331,6 triliun. Sedangkan jumlah uang primer bertambah dari Rp 886,5 triliun menjadi Rp 891,2 triliun. Alhasil, aktiva domestik bersih masih minus Rp 440,4 triliun.

Komponen terbesar penggerus aktiva domestik bersih adalah operasi pasar terbuka sebesar Rp 218 triliun. Jumlah dana yang digunakan untuk operasi BI ke pasar tersebut lebih kecil dibandingkan bulan September lalu yang mencapai Rp 260,7 triliun.

Menurut Andiwiana, posisi cadangan devisa US$ 100,7 miliar per akhir Oktober lalu tersebut masih cukup untuk membiayai impor selama 7,1 bulan atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jadi, posisi cadangan devisa per akhir Oktober tersebut masih  berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. “Cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi ke depan,” katanya.

Reporter: Desy Setyowati, Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait