Rupiah Berbalik Melemah, Gubernur BI: Fluktuasinya Masih Normal

Ada tiga faktor utama dari luar negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Ekonomi Cina yang melambat, normalisasi kebijakan suku bunga bank sentral AS dan harga komoditas yang terus melorot.
Yura Syahrul
21 Oktober 2015, 19:13
Agus Martowardodjo
Donang Wahyu|KATADATA
Agus Martowardodjo

KATADATA - Setelah sempat menguat cepat sekitar 10 persen selama 10 hari pertama bulan Oktober ini, mata uang rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Di perdagangan pasar tunai (spot), rupiah sempat melemeh menembus level Rp 13.800 per dolar AS. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) menilai fluktuasi nilai rupiah masih dalam batas yang normal.

Pada perdagangan di pasar spot hari Rabu ini (21/10), berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah hingga Rp 13.801 sebelum ditutup di level Rp 13.724 per dolar AS atau melemah 0,3 persen dari hari sebelumnya. Sedangkan berdasarkan kurs referensi JISDOR di BI, rupiah mencapai 13.696 per dolar AS atau melemah 0,45 persen dari hari Selasa lalu.

(Baca: Penguatan Rupiah yang Paling Tinggi di Asia)

Ini merupakan pelemahan rupiah dalam tiga hari berturut-turut. Jika dihitung sejak akhir pekan lalu, mata uang Indonesia ini sudah melemah 1,36 persen. Padahal, rupiah sempat mencapai posisi tertingginya dalam tiga bulan terakhir sebesar 13.408 per dolar AS pada 11 Oktober lalu. Sedangkan level terendah rupiah sekitar Rp 14.700 per dolar AS pada akhir bulan lalu.

(Baca: Rupiah 13.200 per Dolar, Darmin: Belum Sesuai Nilai Fundamental)

Gubernur BI Agus Martowardojo menilai fluktuasi nilai tukar rupiah dalam tiga pekan terakhir merupakan cerminan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini, yang menghadapi perlambatan ekonomi. Kondisi ini diperburuk oleh sejumlah faktor negatif dari luar negeri.

Ia mencatat tiga faktor utama dari luar negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Pertama, ekonomi Cina yang cenderung melambat. Kedua, normalisasi kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve yang berencana menaikkan suku bunganya. Ketiga, harga komoditas yang terus melorot.

(Baca: Rupiah Meroket, Investor Panik Lepas Dolar AS)

Meski begitu, Agus menilai fluktuasi mata uang rupiah saat ini masih dalam batas yang aman yaitu di bawah 10 persen. “Fluktuasinya tidak terlalu buruk dan masih dapat diterima,” imbuhnya. Ia membandingkan rupiah dengan mata uang beberapa negara berkembang lain, yang pergerakannya lebih fluktuatif. Seperti, Afrika Selatan, Turki, Brasil, dan Rusia. “Volatilitasnya jauh lebih tinggi.”

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait