LPS: Risiko Perbankan Menurun Per Juli 2015

Meski perbankan masih dalam kondisi Normal seluruh indikator pembentuk Market Pressure tekanan pasar menunjukkan peningkatan tekanan
Yura Syahrul
1 September 2015, 15:34
Bank KATADATA|Arief Kamaludin
Bank KATADATA|Arief Kamaludin

KATADATA ? Bayang-bayang krisis ekonomi tahun 1997-1998 dan mini krisis tahun 2008 kembali muncul ketika mata uang rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok tajam selama dua pekan terakhir. Gonjang-ganjing di pasar finansial tersebut dikhawatirkan akan berlanjut ke krisis likuiditas yang dapat memukul perbankan. Namun, hingga akhir Juli lalu, perbankan nasional ternyata masih dalam kondisi aman, bahkan risiko tekanan terhadap bank cenderung menurun.

Penilaian itu setidaknya tergambar dari hasil laporan ?Perekonomian dan Perbankan Agustus 2015? oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dirilis Senin (31/8). Agus Afiantara, analis LPS, menyatakan penurunan risiko industri perbankan Indonesia per Juli 2015 tecermin dari perhitungan Indeks Stabilitas Perbankan (Banking Stability Index /BSI) LPS. BSI LPS pada Juli 2015 sebesar 100,25 atau turun enam basis poin dari bulan sebelumnya (Juni 2015) yang sebesar 100,31.

?Sesuai kategori skala observasi Crisis Management Protocol (CMP), BSI saat ini masih berada pada kondisi ?Normal?,? kata Agus. Dua komponen pembentuk BSI yaitu Interbank Pressure (IP) dan Market Pressure (MP) masing-masing naik sebesar 29 poin dan 70 poin.

Terkait Market Pressure atau tekanan pasar, likuiditas perbankan periode Mei 2015 relatif sama dengan bulan-bulan sebelumnya dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 88 persen. Sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) meningkat dari 2,48 persen pada April lalu menjadi 2,58 persen pada Mei 2015. ?Meskipun masih relatif terkendali, peningkatan ini harus diwaspadai karena angkanya terus naik sejak Desember 2014,? kata Agus.

Di sisi tekanan antarbank, penyaluran dana antarbank cenderung menurun pada bulan Juli lalu. Sedangkan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight sedikit meningkat dari 5,64 persen pada Juni lalu menjadi 5,67 persen pada Juli 2015.

Meski perbankan masih dalam kondisi ?Normal?, Agus mencatat seluruh indikator pembentuk Market Pressure menunjukkan peningkatan tekanan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 1,12 persen, IHSG terpangkas 108,13 poin dan suku bunga JIBOR 3 bulan naik menjadi 7,51 persen pada Juli 2015 dari bulan sebelumnya yang sebesar 6,98 persen.

Di sisi lain, analis LPS Seno Agung Kuncoro menilai perlambatan ekonomi sejak awla tahun ini mulai berdampak terhadap tingkat keuntungan perbankan. ?Perlambatan aktivitas ekonomi menyebabkan turunnya jumlah uang beredar, yang berdampak negatif terhadap kinerja bank,? katanya. Pada Mei 2015, pertumbuhan nominal laba bank dalam dua bulan terakhir secara year-on-year minus 1,94 persen. Bahkan, untuk beberapa bank dengan skala aset menengah, pertumbuhan laba yang negatif telah dialami selama beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, penurunan pendapatan bunga dan peningkatan biaya dana (cost of fund) membuat manajemen bank harus mencari cara untuk memperbaiki sumber pendapatan dan pengeluaran. Seno melihat indikasi melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) merupakan strategi perbankan untuk menekan pengeluaran biaya dana. Pendapatan non- bunga juga melambat karena menurunnya permintaan nasabah terhadap produk bank. ?Meningkatnya beban pencadangan untuk kredit bermasalah turut menyumbang perlambatan pertumbuhan tingkat keuntungan bank,? katanya.

Reporter: Desy Setyowati, Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait