Kerjasama CLP-Adaro

Lantas bagaimana upaya pembangkit batubara untuk meminimalkan emisi yang ditimbulkannya? Jawabannya, Castle Peak Power Station hanya mau menggunakan batubara beremisi rendah. 

Dalam paparan CLP disebutkan bahwa pembangkit mereka selama ini menggunakan batubara dengan kadar sulfur super rendah (ultra low-sulphur coal), yaitu hanya 0,1 persen. Dan ini sudah digunakannya sejak awal abad ke-21 ini.

Selain itu, perusahaan ini memiliki fasilitas pengendalian emisi yang sudah dioperasikan penuh sejak 2011. Dengan fasilitas ini, emisi nitrogenoksida bisa dikurangi lebih dari 50 persen, emisi sulfurdioksida lebih dari 90 persen dan partikel lebih dari 99,8 persen.

Ini membuat Castle Peak Power Station menjadi salah satu PLTU Batubara yang paling bersih di dunia.

Foto Artikel Mas Metta
Presdir Adaro Garibaldi Thohir (Metta Dharmasaputra|KATADATA)

Sesuai persyaratan ketat itulah, batubara yang diproduksi PT Adaro Energy Tbk. dari tambang di Kalimantan Selatan menjadi pilihan. 

“Batu bara Adaro menghasilkan emisi yang rendah dan memiliki kualitas yang bagus,” kata Direktur Senior CLP Pak Cheong Lo saat menerima kunjungan Adaro dan para pemimpin media dari Indonesia, di Hong Kong, Senin (8/7) lalu.

Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir menyambung, CLP memang merupakan salah satu mitra utamanya selama ini. “Hubungan kami dengan CLP sudah lebih dari 20 tahun,” ujar Boy, sapaan akrabnya.

Adapun kebutuhan batubara untuk PLTU berkapasitas 4.108 MW ini sekitar 6,5 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 2,3-2,5 juta ton disuplai oleh Adaro.

“Kenapa mereka memilih Adaro,” Boy menambahkan, “Karena kualitas batubara Adaro sangat spesial, yaitu sulfurnya sangat rendah, sehingga bisa memenuhi kriteria standar lingkungan di Hong Kong yang sangat ketat.”

Selain ke CLP, Adaro juga memasok batubara ke Hong Kong Electric. Sehingga total batubara yang diekspornya ke Hong Kong sekitar 3,5 juta ton. Tak mudah memang memenuhi kualifikasi dan peraturan ketat yang ditetapkan pemerintah Hong Kong.

“Tapi, kami bisa membuktikan selama 20 tahun batubara Adaro menjadi batu bara andalan yang dipakai oleh mereka.”

Boy mengakui, batubara Adaro bisa jadi bukan yang terbaik dari sisi kualitas. Namun, kadar sulfur dan abu hasil pembakaran yang rendah menjadi nilai tambah.

Dengan kelebihan itu, batubara Adaro yang dipasarkan dengan merek dagang envirocoal atau batubara ramah lingkungan laris manis di pasar internasional, termasuk Jepang, yang juga sangat ketat soal standar lingkungannya. Harganya pun premium.

Dari 56 juta ton batubara yang diproduksinya, sekitar 70 persen atau 40 juta ton diekspor ke 17 negara. “Yang terbesar ke Malaysia, lalu ke Jepang, Hong Kong-Cina, dan juga suplai ke Spanyol,” ujar Boy.

Melihat potensi besar batubara Adaro ini, tak mengherankan pada 2005 silam, tambang batubara di Kabupaten Tanjung, Kalimantan Selatan, ini sempat diperebutkan.

Namun, sengketa bisnis itu akhirnya dimenangkan oleh kuartet: Boy Thohir, Edwin Soeryadjaya, Theodore P. Rachmat dan Benny Subianto yang membeli Adaro dari Deutsche Bank melalui bendera PT Dianlia Setyamukti.

Keputusan itu dikukuhkan melalui keputusan Pengadilan Tinggi Singapura pada 21 September 2007. Hakim menolak gugatan Beckett Pte. Ltd., perusahaan berbasis di Singapura yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Sukanto Tanoto melalui PT Unigaruda Masabadi dan Hashim Djojohadikusumo lewat Metropolitan Investment International Ltd. (British Virgin Islands).

Khusus tentang Castle Peak Power, Boy punya kesan tersendiri. Meski usianya sudah tergolong tua, yakni 37 tahun, PLTU ini tetap prima dan amat terawat.

Foto Artikel Mas Metta
Presdir Adaro Garibaldi Thohir mendapat penjelasan cara kerja PLTU Castle Peak Power Station. (Metta Dharmasaputra|KATADATA)

PLTU Suralaya yang memiliki kapasitas terbesar di Indonesia yaitu 3.400 MW bisa dijadikan perbandingan. Pembangkit di Banten ini didirikan hampir bersamaan, yakni pada 1984, atau hanya terpaut dua tahun dari Castle Peak.

“Ini kuncinya di pengelolaan yang bagus,” katanya. “Seringkali kita bisa membangun, tapi tidak bisa merawatnya.” Karena itu, jika sistem manajemen ditingkatkan, pembangkit-pembangkit di Indonesia pun semestinya bisa bertahan. Tak lekang dimakan zaman.

Editor: Yura Syahrul