Krisis Covid-19 Unik dan Rumit, Perlu Penanganan Berbeda (Bagian 1)

Ada pelajaran dari krisis ekonomi 1998 dan 2008 untuk penanangan Covid-19, yaitu menjaga pangan agar tak memicu persoalan sosial dan sektor keuangan.
Yura Syahrul
Oleh Yura Syahrul
9 Mei 2020, 15:45
Chatib Basri
Katadata
Chatib Basri

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Belum lama ini, Presiden Joko Widodo membuat pernyataan mengejutkan yaitu mengajak masyarakat berdamai dengan pandemi Covid-19. Maksudnya, masyarakat perlu produktif meski virus corona masih mewabah dan belum ditemukan vaksinnya. Caranya adalah menyesuaikan kehidupan dengan kondisi saat ini alias hidup normal dengan cara baru (new normal).

"New Normal" menjadi frasa yang belakangan sering terdengar di saat pandemi virus corona --yang muncul akhir tahun lalu dan menjangkiti hampir seluruh dunia-- tak jelas kapan akan berlalu. Padahal, pandemi telah memukul semua sektor kehidupan masyarakat dan perekonomian diprediksi terpuruk lebih dalam dibandingkan krisis-krisis sebelumnya.

Dalam wawancara khusus secara virtual dengan Katadata.co.id, awal Mei 2020 ini, mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri menyatakan, krisis Covid-19 ini berbeda dan lebih unik dibandingkan krisis-krisis ekonomi sebelumnya. Selain penanganannya berbeda, pandemi ini juga mempengaruhi perilaku dan pola aktivitas ekonomi, usaha, serta peluang bisnis.

Bagaimana gambaran kondisi ekonomi dan bisnis di masa “new normal” dan pasca-pandemi? Berikut petikan wawancara dengan Ekonom Universitas Indonesia tersebut, yang terbagi dalam dua bagian. Tulisan ini bagian pertama, sedangkan wawancara bagian kedua bisa disimak di sini: Ada Ceruk Pasar yang Niche saat "New Normal" Covid-19 (Bagian 2)

IMF memprediksi ekonomi dunia akan mengalami kontraksi 3% tahun ini akibat dampak Covid-19. Tapi, ada yang memproyeksikan kondisi lebih buruk lagi. Bagaimana dengan perspektif Anda?

Membuat prediksi di masa seperti ini merupakan pekerjaan yang sia-sia. Sebab, begitu banyak variabel yang kita tidak bisa pegang, yang tidak bisa kita kontrol. Nah kalau kita membuat sebuah prediksi dimana target variabelnya bergerak dan tidak bisa dikontrol, itu rentang dari prediksinya akan besar sekali.

Karena esensi dari persoalan ini adalah soal pandeminya, soal wabahnya. Nah, tidak ada orang yang tahu, wabah ini akan berapa lama, karena itu akan sangat berpengaruh kepada dampak ekonominya.

(Baca juga: Pemerintah Buat Kajian Awal Pemulihan Ekonomi dari Corona Mulai 1 Juni)

Saya jelaskan, misalnya begini. Berbeda dengan global financial crisis, itu sumbernya jelas yaitu subprime mortgage, kemudian sektor keuangannya kena. Berarti semua yang punya hubungan dengan sektor keuangan itu pasti akan terpukul, sehingga gross turun. Kita bisa isolasi isunya di sana.

Bagaimana dengan kondisi Krisis Covid-19 sekarang?

Di dalam Covid-19 itu ada soal yang lebih complicated. Yang pertama itu karena ada wabah, maka kemudian terkena aktivitas produksi sehingga terjadi supply shock. Kemudian menyebabkan orang kehilangan pendapatan, yang kemudian menyebabkan demand shock.

Tapi di luar itu, ada satu hal lagi yang tidak terjadi di dalam krisis sebelumnya yaitu ada kebijakan social distancing, atau lockdown, atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Ini yang membuat dampak dari Covid-19 menjadi unik.

Secara esensial, kunci dari sebuah aktivitas ekonomi itu adalah terjadinya transaksi atau adanya pasar. Pasar itu per definisi adalah meeting place, tempat bertemu orang untuk mempertukarkan barang dan jasa. Nah, di dalam lockdown atau social distancing, yang dilakukan adalah orang tidak boleh bertemu. Jadi bisa dibayangkan, hal yang paling esensial dari aktivitas ekonomi itu dilarang.

Jadi ekonominya shutdown?

Ya, betul. Nah, karena itu sudah dilakukan untuk mengatasi pandemi agar tidak menular, maka yang terjadi adalah aktivitas ekonominya berhenti. Kecuali aktivitas ekonomi yang bisa dilakukan seperti kita (wawancara via online), yang sifatnya virtual, dimana pertukaran barang dan jasanya terjadi secara virtual. Tetapi kalau membutuhkan fisik, maka akan setop.

Jadi kalau misalnya pemerintah optimistis pandeminya akan berakhir bulan Juni, maka mungkin bentuk pemulihannya bisa seperti huruf V begini, jadi V shape.

Tetapi kalau misalnya ada pernyataan dari WHO bahwa belum ada bukti orang yang sudah terinfeksi virus ini tidak akan bisa kena lagi, berarti ada risiko second wave. Artinya, persoalan ini tidak akan selesai sebelum vaksinnya ada. Nah itu berarti tidak bisa selesai Juni, mungkin akan panjang sampai vaksinnya ada.

Semakin panjang itu terjadi maka semakin tidak ada aktivitas ekonomi, maka dampaknya itu akan sangat devastating, akan sangat parah kepada perekonomian.

Jadi orang bisa saja membuat sebuah prediksi (pertumbuhan ekonomi) rentangnya minus 3% atau berapa, sampai yang positif, karena ada variabel yang tidak bisa dikontrol, yaitu pandeminya.

Pemerintah Indonesia sendiri kalau melihat angkanya Menteri Keuangan, itu range dari prediksinya adalah minus 0,4% sampai 2,5%. Tidak ada yang tahu. Makanya saya bilang, kalau orang mencoba membuat prediksi dalam situasi seperti ini, ekonom membuat prediksi, itu hanya menunjukkan bahwa dia punya rasa humor yang tinggi.

Di luar soal variabel yang tidak bisa dikontrol tersebut, sebenarnya bagaimana dampaknya ke ekonomi Indonesia?

Ini sangat tergantung kepada pandeminya, kapan selesainya. Jadi pemerintah mengatakan optimistis bahwa Juni dan Juli sudah bisa normal, mudah-mudahan itu benar. Kalau itu yang terjadi, maka data di kuartal II 2020 itu mungkin akan parah. Kuartal ketiga ada perbaikan dan di kuartal IV sudah mulai normal. Jadi, mungkin kita bisa bicara mengenai pertumbuhan ekonomi positif sekitar 2,3% atau 2,5% (tahun ini).

Tapi kalau tidak ada seperti itu, tidak ada yang tahu sampai kapan ini betul-betul bisa selesai. Katakanlah Juni itu jumlah dari kasus positif baru tidak ada lagi. Saya tanya, Anda kalau ketemu orang berani tidak salaman pada bulan Agustus?

Selama vaksinnya belum ketemu, pasti akan ada jaga jarak.

Nah, kalau itu yang terjadi berarti aktivitas ekonomi tidak bisa full recovery. Karena, orang kalau misalnya belanja ke pasar tradisional, dia tidak bisa jaga jarak yang jauh. Apalagi kalau Anda pergi ke pasar becek dan juga ada interaksi dengan barang. Kalau misalnya proses normalnya itu berjalan agak panjang, maka proses pemulihannya tidak segampang yang dibayangkan orang.

Saya beri contoh sekarang soal daya beli. Mereka yang tiga bulan lalu kehilangan pendapatan, apa yang akan mereka lakukan? Orang itu kalau dia dapat uang, konsumsinya gampang. Makanya orang kalau punya uang, dia minum kopi yang lebih bagus. Tapi kalau uangnya habis, itu tidak serta-merta dia bisa minum kopi yang jelek atau teh yang jelek, karena sudah terbiasa di dalam hidupnya. Jadi yang dia lakukan adalah mempertahankan dulu konsumsinya, sampai uangnya tidak ada. Kalau perlu dia pinjam uang, baru setelah itu konsumsinya turun.

(Baca juga: Skenario Mal Dibuka Juni, Pengusaha Siapkan Protokol Kesehatan Ketat)

Jadi, seberapa panjang dampaknya?

James Duesenberry itu memenangkan penghargaan Nobel di bidang ekonomi untuk “Consumption Theory”, mengatakan bahwa konsumsi sekarang itu dipengaruhi dari biaya konsumsi. Implikasinya, kalau orang hidup di dalam periode social distancing dan kebetulan kelompok yang tidak menengah atas tapi menengah pas-pasan, atau menengah ke bawah, maka orang itu tidak dapat PKH (bantuan sosial Program Keluarga Harapan) dan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Orang itu tidak bisa tiba-tiba menurunkan konsumsinya, padahal dia tidak ada income.

Apa yang dia lakukan? Dia pakai tabungan sampai habis. Setelah itu dia minta tolong sama keluarganya, atau dia berutang. Kalau kemudian ekonomi pulih, dia belum bisa langsung investasi karena harus bayar dulu utangnya. Setelah itu dia menabung, baru dia bisa konsumsi.

Jadi efeknya itu panjang. Ini yang saya bilang, kadang-kadang orang suka melupakan bahwa dampak dari waktu yang lama itu berpengaruh kepada behaviour orang. Pabrik misalnya, kalau sampai bulan Juni, itu (buruh) belum sempat diberhentikan. Sebab, biasanya mekanisme yang dilakukan adalah unpaid leave, orang disuruh tinggal di rumah tapi tidak dibayar. Dibayarnya hanya gaji pokok. Tapi tidak diberhentikan karena bayar PHK itu mahal.

PEMERIKSAAN BURUH LINTING ROKOK MELALUI RAPID TEST
Pemeriksaan rapid test terhadap buruh linting rokok (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/wsj.)

Nah, kalau misalnya periode waktunya panjang, orang yang tinggal di rumah tidak akan tahan. Dia akhirnya resign sendiri. Katakanlah kalau situasinya balik normal September, pabriknya mau buka lagi, maka (pengusaha) harus merekrut orang lagi. Konsolidasinya berapa lama?

Jadi ini yang saya bilang, prosesnya itu menjadi sangat sulit di dalam membuat prediksi. Orang bisa saja bilang bahwa itu (pertumbuhan ekonomi) minus 0,4% sampai 2,3%, pemulihannya akan terjadi seketika. Kalau saya cukup humble untuk mengatakan bahwa sangat sulit memprediksi di dalam kondisi seperti ini, karena variabel utamanya yaitu pandemi, tidak bisa dikontrol. Kecuali, kita mau bicara dalam skenario.

Apakah dampak Krisis Covid-19 ini ke sektor riil dan keuangan akan berjalan paralel?

Kalau melihat kronologisnya, awalnya tentu dari krisis kesehatan. Karena krisis kesehatan itu, maka aktivitas ekonomi berhenti. Mulainya itu dari Wuhan. Aktivitas ekonomi di Wuhan berhenti, dan tentu banyak tempat di Tiongkok terganggu aktivitas produksinya.

Jangan lupa Tiongkok itu menguasai 20% dari global supply chain, dari rantai produksi dunia. Kalau Tiongkok tidak berproduksi, maka negara lain yang membutuhkan komponen dari sana juga tidak bisa berproduksi karena komponennya tak bisa dikirim. Alhasil, yang terjadi namanya supply shock, yaitu produksi dunia termasuk Indonesia mengalami penurunan. Kita tidak bisa bikin komputer kalau chip-nya tidak bisa dikirim dari Tiongkok.

Di sisi lain, Tiongkok merupakan hub dari produksi di Asia. Jadi banyak negara di Asia yang mengirimkan barang ke Tiongkok untuk diproses di sana. Tiongkok kemudian diproses menjadi barang final, dijual ke negara-negara maju. Kalau Tiongkok kena, tidak bisa lagi memproses. Akibatnya, negara seperti Indonesia, akan kena juga dari sisi permintaan produk yang dijual ke Tiongkok.

Editor: Yura Syahrul

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait