Nagita Slavina Tuai Kritik Kenakan Baju Adat Papua untuk PON XX
ZIGI – Nagita Slavina dan Raffi Ahmad terpilih sebagai Duta PON XX yang akan digelar pada 2 sampai 15 Oktober di Papua. Namun, terpilihanya Nagita menuai kritikan saat mengenakan pakaian adat Papua untuk mempromosikan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tersebut.
Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dianggap tidak mempresentasikan Orang Asli Papua (OAP). Penasaran dengan potret Nagita Slavina dan Raffi Ahmad kenakan baju adat Papua? Yuk, simak artikelnya!
Nagita Slavina dan Raffi Ahmad dianggap apropriasi budaya Papua
Aktivis dan pengacara Hak Asasi Manusia Veronica Koman, mengungkapkan bahwa Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai Duta PON untuk tidak mengapropriasi budaya Papua. Menurut kamus besar Cambridge, apropriasi budaya yaitu tindakan yang menggunakan sesuatu dari sebuah budaya yang bukan milik sendiri, terutama bahwa pelakunya tidak menunjukkan memahami atau menghormati budaya tersebut.
Dalam konteks ini, termasuk gaya rambut, pakaian, kebiasaan, ideologi, dan gaya musik. Nagita dan Raffi dianggap tidak menunjukkan dan memahami identitas asli Papua dengan menggunakan gaya rambut yang trendi.
"Dear Duta PON Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, tolong jangan apropriasi budaya Papua ketika mempromosikan PON. Sedang ada operasi militer besar-besaran di Papua terbesar sejak era Suharto. Lebih dari 50.000 orang Papua sedang mengungsi di atas tanahnya sendiri," cuit Veronika Koman, yang dikutip Zigi.id pada 2 Juni 2021.
Kenakan tiga jenis busana adat Papua
Nagita Slavina sebagai duta PON XX mengenakan tiga jenis pakaian adat Papua yang telah dimodifikasi. Namun, Nagita dianggap menghilangkan identitas asli budaya Papua. Veronika Koman mengungkapkan kritikannya dengan membalas cuitan akun twitter @gyonzabonza.
"Kritiknya mace ini sepertinya bukan Nagita gak boleh jadi Duta PON, tapi soal apropriasi budaya Papua. Sebagai Duta PON ya Nagita pake aja baju sporty, atau apa kek. Sedang ada operasi militer di Papua, tapol juga makin banyak, makin ga pantes sembarang pake budaya Papua," cuit Veronika Koman, yang ditulis pada 31 Mei 2021.
Dianggap tidak mempresentasikan perempuan asli Papua
Bukan itu saja, sosok wanita yang memiliki kulit putih dianggap tidak mempresentasikan perempuan asli Papua. Akun twitter @gyonzagonza mengungkapkan rasa kecewanya dengan bekata bahwa kecantikan bukan identik dengan kulit putih.
"Karena tidak ada lagi perempuan Papua Barat yang mewakili budaya mereka sendiri ya. Appropriation tu tidak cantik," tulis @gyonzagonza pada Selasa, 1 Juni 2021.
Tak hanya itu, ia heran mengapa orang non-OAP mewakili orang asli Papua sebagai duta PON XX.
“Dan berhenti membuat alasan untuk perempuan ini (Nagita Slavina) dia bisa saja menolak ketika mengetahui dia bukan orang Papua. Berhenti membuat alasan untuk orang-orang non-OAP, dia dewasa kan, dia bisa saja menolak,” sambungnya.
“Bikin alasan terus untuk non-OAP, meskipun mereka memiliki lebih banyak privilege dari ko. Heran kenapa standar kecantikan masih kulit putih atau rambut lurus dll. Masa non-OAP mewakili orang pribumi di tanah pribumi? Make it sense,” imbuh akun tersebut.
Kekecewaan yang dilampiaskan oleh akun @gyonzagonza telah mendapat ratusan retweet dan ribuan likes. Sementara itu, Nagita Slavina dan Raffi Ahmad tetap bungkam dengan kritikan terkait terpilihnya menjadi Duta PON XX.
