10 Negara Terkaya di Dunia 2021, Amerika Serikat Peringkat Berapa?

Image title
2 Juli 2021, 09:00
Luksemburg - Amerika Serikat
Berbagai Sumber
Luksemburg - Amerika Serikat

ZIGI – Sejumlah negara di Benua Amerika dan Eropa dinobatkan sebagai negara paling kaya di dunia. Tapi seakan tidak mau kalah bersaing, beberapa negara di Asia juga ikut mencatatkan dirinya dalam daftar negara terkaya dunia itu.

Walaupun beberapa negara terbilang sangat kecil, tapi negara itu termasuk yang terkaya karena mereka diuntungkan dengan sektor keuangan dan rezim pajak yang canggih sehingga membantu menarik investasi asing dan bakat profesional. 

Tidak hanya itu, ada pula negara yang memiliki cadangan besar hidrokarbon atau sumber daya alam yang menguntungkan lainnya. Dilansir Zigi.id dari Global Finance Magazine pada Kamis, 1 Juli 2021, berikut ini 10 negara terkaya di dunia. Yuk di-scroll sampai habis!

10. Denmark

Sumber foto: Global Finance Magazine

Kerajaan Denmark memiliki ekonomi berbasis layanan yang modern dan kompetitif secara internasional. Ini juga berarti bahwa selama pandemi, keuangan rumah tangga dan publik tidak terlalu terpengaruh dibandingkan dengan negara-negara yang sangat bergantung pada kegiatan manufaktur, pariwisata, atau ekspor produk minyak bumi. 

Tidak hanya itu, 5,8 juta warganya juga menikmati tingkat pekerjaan dan upah yang tinggi, sistem jaminan sosial yang efisien. Secara rutin, mereka juga menduduki peringkat teratas negara-negara paling bahagia di dunia.

9. Hong Kong

Sumber foto: Global Finance Magazine

Negara bekas jajahan Inggris yang menempati wilayah administratif khusus China ini merupakan pintu gerbang ke daratan utama dan pusat keuangan utama Asia. Ekonomi Hong Kong dicirikan oleh pajak yang rendah dan tidak ada keuntungan modal atau pungutan warisan. Selain itu, tidak ada tarif impor atau ekspor barang dan kepemilikan penuh bisnis mereka untuk orang asing tanpa persyaratan kewarganegaraan, tempat tinggal atau kewarganegaraan.

Akibatnya, meskipun negara mereka hanya seluas 1.104 meter persegi, secara keseluruhan Hong Kong sangat kaya. Hong Kong juga bersaing dengan New York untuk mendapatkan gelar sebagai kota dengan jumlah individu yang sangat kaya terbesar di dunia, sekitar 9.000 orang dengan kekayaan bersih US$ 30 juta atau sekitar Rp435,7 miliar.

8. Brunei Darussalam

Sumber foto: Global Finance Magazine

Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah tinggal di istana yang memiliki fasilitas 1.788 kamar, termasuk 257 kamar mandi, ruang perjamuan yang dapat menampung hingga 5.000 tamu, masjid untuk 1.500 orang, kandang ber-AC untuk 200 kuda polo, 5 kolam renang dan 18 lift. 

Kekayaannya sultan ini berasal dari cadangan minyak dan gas alam yang sangat besar di negara Brunei Darussalam, diperkirakan sekitar US$ 28 miliar atau 50 kali lipat lebih besar dari kekayaan Ratu Elizabeth dari Inggris. 

Tapi terlepas dari kemewahan raja dan daya beli per kapita di atas kertas lebih dari $60.000, malnutrisi di Brunei adalah hal yang biasa. Meskipun datanya sulit didapat namun diperkirakan ada 40 persen dari 450.000 penduduknya berpenghasilan kurang dari $1.000 per tahun.

7. Amerika Serikat

Sumber foto: Global Finance Magazine

Di tahun 2020, Amerika Serikat sangat kesulitan tapi masih berhasil naik ke 10 besar. Tapi apakah orang Amerika benar-benar menjadi lebih kaya selama pandemi? Itu tergantung pada siapa kamu bertanya. Tentu, sebagian orang kehilangan pekerjaan dan bisnisnya.

Namun, untuk mereka yang berada di populasi teratas dan berpenghasilan lebih dari US$ 60.000 setahun termasuk yang berhasil karena mereka tetap bekerja dari rumah, melihat investasi saham mereka tumbuh nilainya hingga menerima cek stimulus. Akan tetapi cerita lain dirasakan oleh orang super kaya selama krisis kesehatan ini. 

Antara Maret 2020 dan April 2021, menurut Institute for Policy Studies, kekayaan kolektif 719 miliarder Amerika melonjak $1,62 triliun, atau 55%, dari $2,95 triliun menjadi $4,56 triliun. Mereka sekarang memiliki kekayaan empat kali lebih banyak daripada setidaknya 165 juta orang Amerika menengah ke bawah.

6. Norwegia

Sumber foto: Global Finance Magazine

Sejak penemuan cadangan lepas pantai yang besar pada akhir 1960-an, mesin ekonomi Norwegia telah didorong oleh minyak. Selama beberapa dekade, negara ini diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Harganya sempat jatuh pada awal tahun 2020, kemudian terjadi pandemi global dan mengakibatkan nilai mata uang mereka juga ikut jatuh bebas. 

Ekonomi Norwegia mengalami kontraksi sebesar 2,5% tahun lalu, penurunan tahunan terbesar dalam setengah abad dan mungkin sejak Perang Dunia Kedua. Apakah ini berarti bahwa orang Norwegia secara signifikan kurang kaya daripada beberapa tahun yang lalu? Mungkin tidak dan pertumbuhan PDB sudah diproyeksikan untuk rebound pada tahun 2021 menjadi 3,9%.

Lebih lanjut, saat menghadapi masalah ekonomi orang Norwegia selalu dapat mengandalkan dana kekayaan negara senilai US$ 1,3 triliun. Namun orang Norwegia tahu bahwa dengan kekayaan besar, ada juga tanggung jawab besar di dalamnya.

5. Swiss

Sumber foto: Global Finance Magazine

Cokelat putih, bobsleigh, pisau Swiss Army, mouse komputer, blender imersi, velcro hingga LSD, hanyalah beberapa penemuan yang telah disumbangkan Swiss kepada dunia. Namun pada Mei 2021, negara berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa ini berutang banyak kekayaannya kepada perbankan, layanan asuransi dan pariwisata, serta ekspor seperti produk farmasi, permata, logam mulia, instrumen, komputer dan mesin presisi (dari jam tangan, hingga peralatan medis).

Apakah Swiss memiliki jumlah jutawan tertinggi di dunia? Menurut perkiraan terbaru, untuk setiap 100.000 penduduk ada 9.428 dari mereka (termasuk miliarder) atau sekitar 11,8 persen dari total dengan hanya mempertimbangkan populasi orang dewasa. Tapi semua uang itu, tidak dapat melindungi ekonomi Swiss dari dampak Covid-19. Di tahun 2020, produksi turun sebesar 2,9 persen.

Menurut IMF, untuk respons kebijakan yang cepat dan berkelanjutan bisa melalui pengeluaran darurat serta langkah-langkah penahanan. Tetapi ini juga bertujuan untuk peningkatan ekonomi Swiss itu sendiri, dengan keuangan publik, industri ekspor yang kompetitif, dan ketergantungan yang rendah pada sektor intensif.

4. Qatar

Sumber foto: Global Finance Magazine

Bukan hanya krisis kelebihan pasokan dan permintaan di tahun 2020 lalu, efek Covid-19 semakin diperparah dengan harga minyak yang mengalami penurunan yang stabil dan cenderung dramatis sejak pertengahan 2010-an. Di tahun 2014, PDB per kapita warga negara Qatar lebih dari US$ 143,222, tapi hanya setahun kemudian menurun menjadi US$ 97,846 dan saat ini nilai PDB per kapita Qatar lebih rendah dari angka itu.

Namun, cadangan minyak, gas, dan petrokimia negara itu begitu besar. Populasinya juga sangat kecil hanya 2,8 juta penduduk. Sehingga keajaiban arsitektur ultramodern, pusat perbelanjaan mewah, dan masakan lezat berhasil menduduki puncak daftar negara terkaya di dunia selama 20 tahun. Tapi sama seperti banyak negara Teluk lainnya, Covid-19 menyebar terutama di antara pekerja migran berpenghasilan rendah yang tinggal di tempat ramai.

Karantina, jam malam, dan penguncian telah diberlakukan lebih dari sekali. Meski begitu, perekonomian Qatar telah menunjukkan peningkatan dan sekarang di tengah peningkatan produksi gas dan investasi, keuangan mereka diduga akan pulih seiring dengan persiapan untuk Piala Dunia 2022.

3. Irlandia

Sumber foto: Global Finance Magazine

Di saat seluruh negara di Eropa mengalami ketidakpastiaan, ekonomi Irlandia justru terus membaik. Padahal, negara berpenduduk kurang dari 5 juta jiwa ini merupakan salah satu negara yang paling terpukul karena krisis keuangan pada 2008 silam.

Mengikuti beberapa langkah reformasi yang sulit secara politik seperti pemotongan besar-besaran pada upah sektor publik dan merestrukturisasi industri perbankannya, negara kepulauan itu mendapatkan kembali kesehatan finansialnya. Tingkat ketenagakerjaannya juga meningkat. 

PDB per kapitanya juga naik hampir dua kali lipat dalam waktu singkat. Irlandia kini menjadi salah satu surga pajak perusahaan terbesar di dunia, dengan orang-orang biasa diuntungkan jauh lebih sedikit daripada perusahaan multinasional.

2. Singapura

Sumber foto: Global Finance Magazine

Dengan perkiraan kekayaan bersih US$ 23 miliar, pemilik restoran Zhang Yong menjadi orang terkaya yang tinggal di Singapura. Sementara Goh Cheng Liang yang berusia 93 tahun, pendiri salah satu pabrik cat terbesar di dunia, berada di urutan kedua dengan kekayaan US$ 21,7 miliar. 

Di tempat ketiga dengan aset sekitar US$ 15 miliar ditempati oleh Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook, yang pada 2011 meninggalkan AS dengan 53 juta saham perusahaan dan menjadi penduduk tetap negara kepulauan itu. Singapura adalah surga fiskal yang makmur di mana keuntungan modal dan dividen bebas pajak.

Tapi mengapa Singapura bisa begitu makmur? Padahal ketika negara itu merdeka pada tahun 1965, setengah dari penduduknya buta huruf. Hampir tidak ada sumber daya alam. Tapi Singapura bangkit melalui kerja keras dan kebijakan cerdas hingga akhirnya menjadi salah satu tempat bisnis paling ramah di dunia. 

Saat ini, Singapura adalah pusat perdagangan, manufaktur dan keuangan yang berkembang pesat. Tapi itu tidak berarti bahwa Singapura kebal dari dampak penurunan global. Di tahun 2020, ekonomi Singapura anjlok ke rekor 5,4 persen, menjatuhkan negara itu ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

1. Luksemburg

Sumber foto: Global Finance Magazine

Kamu bisa mengunjungi Luksemburg untuk melihat kastil, pedesaan yang indah, festival budaya atau spesialisasi gastronominya. Terletak di jantung Eropa, negara berpenduduk sekitar 625.000 jiwa ini memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan, baik kepada turis maupun warganya. 

Luksemburg menggunakan sebagian besar kekayaannya untuk memberikan perumahan, perawatan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik kepada rakyatnya. Sejauh ini, warga di Luksemburg menikmati standar hidup tertinggi di Zona Euro.

Namun, wabah virus corona memaksa banyak bisnis tutup dan karyawan kehilangan pekerjaannya. Tapi melalui pengujian yang efektif dan langkah-langkah pelacakan kontak, Luksemburg sudah mengatasi pandemi lebih baik daripada sebagian besar negara tetangganya di Eropa. 

Karena hal ini, di tahun 2021 PDB grand duchy akan pulih sebesar 4 persen dari sebelumnya minus 1,3 persen di tahun 2020. Negara ini mencapai angka US$ 100.000 dalam PDB per kapita pada tahun 2014 dan tidak pernah mengalami penurunan sejak itu. Bahkan pandemi pun tidak bisa mengubah itu. Hingga akhirnya, Luksemburg dinobatkan sebagai negara paling kaya di dunia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...