5 Ciri Saham Gorengan yang Harus Dihindari Investor Pemula
ZIGI – Saham adalah salah satu jenis instrumen investasi yang mulai dilirik kaum milenial dan generasi Z. Bagi investor pemula yang baru terjun ke dunia saham, harus berhati-hati dengan saham small cap atau biasa dikenal dengan saham gorengan.
Saham gorengan adalah saham perusahaan yang kenaikan nilainya di luar kebiasaan, karena pergerakan nilai direkayasa oleh pelaku pasar untuk tujuan tertentu. Saham lapis tiga ini memang memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan, namun saham jenis ini harus dihindari karena memiliki risiko yang sangat tinggi.
Maka dari itu, investor pemula harus mengetahui ciri saham small cap atau saham gorengan. Apa saja cirinya? Berikut ciri-ciri saham gorengan, yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Harga saham turun naik drastis
Biasanya saham gorengan memiliki kapitalisasi pasar yang kecil sehingga harga saham akan naik dan turun secara drastis. Nilai transaksi hariannya pun tidak wajar, karena nilai tersebut dimanipulasi oleh pelaku pasar yang memiliki kepentingan tertentu.
Seringkali investor pemula tergiur dengan harga saham relatif rendah, dengan kenaikan volume perdangangan yang sangat tinggi. Padahal saham tersebut jarang diperdagangkan atau tak ada yang membeli. Biasanya saham gorengan sering memberikan kejutan untuk para investor. Dimana harganya pun akan naik secara drastis, kemudian turun secara signifikan.
2. Masuk daftar UMA
Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki andil dalam memantau saham gorengan. Jika terlihat perubahaan harga yang siginifikan pada suatu perusahaan, maka BEI akan memasukkan perusahaan tersebut ke daftar Unusual Market Activity (UMA). UMA adalah aktivitas perdagangan dan atau pergerakan harga suatu efek yang tidak biasa pada kurun waktu tertentu di Bursa. Perusahaan yang masuk dalam daftar UMA adalah perusahaan yang dianggap tidak wajar dan memiliki risiko yang tinggi.
3. Kapitalisasi pasar kecil
Photo : shutterstocks
Kapitalisasi pasar adalah nilai total di pasar saham, yang dihitung dari harga saham dikali jumlah saham yang beredar. Semakin kecil kapitalisasi pasarnya, maka bandar pun semakin mudah untuk membeli bagian besar kepemilikan sahamnya, dengan kata lain semakin mudah untuk digoreng. Biasanya saham yang berkapitalisasi pasar kecil menjadi incaran bandar untuk digoreng.
4. Kinerja perusahaan dan keuangan tidak sesuai
Saham gorengan memiliki ciri ketidaksesuaian antara kinerja perusahaan dengan kenaikan harga saham. Jika kinerja keuangan perusahaan turun lebih dari 50 persen, namun harga saham naik sudah pasti ciri dari saham gorengan. Seharusnya kinerja perusahaan dengan keuangan harus sejalan, maka harga sahamnya pun mengikuti kondisi perusahaan.
5. Tidak dapat dianalisis
Biasanya saham gorengan memiliki bid dan offer yang tidak wajar, sehingga antrianya pun tidak wajar. Bahkan hanya ada satu antrian dalam satu lot per harga. Semakin tidak wajar jika saham yang ditransaksikan dalam jumlah yang besar. Biasanya permainan bid dan offer dilakukan untuk memudahkan bandar dalam menaikan harga saham.
Jika terdapat bid dan offer yang tidak wajar, maka saham tidak dapat dianalisis secara fundamental. Alasannya karena keuangan dari perusahaan tidak setinggi kenaikan harga saham yang terjadi. Rasio keuangan dan valuasi saham gorengan akan timpang dengan perusahaan pesaing, sehingga menghasilkan angka yang tidak masuk akal.
