5 Fakta Fenomena Embun Upas di Dieng, Suhu Udara Sampai Minus
ZIGI – Dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah menawarkan keindahan alam yang luar biasa mulai dari pegunungan, sunrise hingga embun upas. Kali ini, kita akan fokus membahas tentang embun upas di Dieng yang menjadi fenomena alam setiap tahunnya.
Apa sebenarnya embun upas di Dieng? Fakta apa saja di balik fenomena musiman tersebut? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Candi di Jawa Tengah Selain Borobudur
1. Arti Embun Upas
Embun upas merupakan istilah yang digunakan penduduk setempat di kawasan Dieng, Jawa Tengah untuk menjelaskan embun yang membeku. Upas diambil dari bahasa Jawa yang mempunyai arti cairan bisa ular.
Kata tersebut dipakai karena embun yang membeku di pagi hari biasanya akan berbentuk es berwarna putih menyerupai bisa ular. Tapi tenang, meski diberi nama upas tetapi embun tersebut tidak beracun.
2. Terjadi di Musim Kemarau
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) fenomena embun upas biasa terjadi saat musim kemarau. Pada musim yang terjadi sekitar Juni-September, suhu udara di Dieng akan terasa lebih dingin meski jarang turun hujan.
"Beberapa faktor yang berperan terbentuknya embun beku yang didahului suhu dingin ekstrem di Dieng antara lain adalah gerak semu matahari, intrusi suhu dingin dan laju penurunan suhu terhadap ketinggian," demikian dikutip dari laman resmi BMKG pada Kamis, 30 Juni 2022.
Dilihat dari Instagram Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, suhu di Dieng sempat mencapai angka -1,64 celcius.
3. Efek Monsoon Dingin Australia
BMKG menjelaskan fenomena musiman embun upas terjadi imbas adanya angin Monsoon Dingin yang berhembus dari Australia. Monsoon Dingin adalah tekanan udara yang bertiup dari Australia melewati Samudera Hindia menuju beberapa daerah seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Karena angin yang dibawa dari Australia relatif dingin, tidak mengherankan jika suhu di beberapa daerah di Indonesia akan terasa lebih dingin saat musim kemarau. Selain itu, berkurangnya awan dan intensitas hujan di Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari.
4. Menarik Minat Wisatawan
Seiring dengan berkembangnya zaman, fenomena embun upas di Dieng mudah tersebar melalui internet. Akibatnya banyak wisatawan berbondong-bondong ke Dieng untuk melihat secara langsung fenomena alam embun upas.
Di musim kemarau, kawasan Dieng yang membentang dari Wonosobo hingga Banjarnegara akan dipenuhi wisatawan. Rerumputan, tanaman dan benda-benda di Dieng akan diselimuti es layaknya salju di negara-negara subtropis.
5. Merusak Tanaman
Meski indah, siapa sangka jika embun upas ternyata mendatangkan masalah bagi para petani. Embun yang berubah menjadi es akan menutupi tanaman seperti wortel dan kentang yang membuatnya busuk. Akibatnya tidak sedikit petani di Dieng akan mengalami gagal panen ketika musim embun upas tiba.
Itu dia beberapa fakta di balik fenomena embun upas yang terjadi di Dieng. Walaupun cantik, tetapi embun upas memiliki efek negatif bagi petani.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata di Jogja Paling Hits dan Instagramable
