Ilustrasi: tunggul pohon lontar dengan gergaji mesin di pantai, pohon-pohon lontar, dan kapal layar di laut.

Bagian 2 dari 3 tulisan

Peluh di Pulau Lontar

PANAS kian menyengat di Pulau Rote. Tidak hanya membabat mangrove si pelindung pesisir, proyek baru sentra industri garam juga menebang pohon-pohon lontar yang adalah pohon kehidupan masyarakat Rote.


Ada alasan mengapa pulau kecil Rote banyak ditumbuhi pohon lontar. Pohon ini justru bisa beradaptasi dengan cuaca panas dan keringnya tanah Rote. Masyarakat Rote menyebut pohon lontar ini “pohon kehidupan”, lantaran semua bagian pohonnya bisa dimanfaatkan.

Dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia, musim kemarau memang cenderung lebih panjang di Rote. Periodenya berlangsung dari Mei hingga November atau sekitar tujuh bulan dalam setahun.

Menurut penduduk Desa Mukekuku, Kecamatan Rote Timur, bersamaan dengan musim kemarau adalah musim panen pohon yang secara lokal disebut sebagai Saboak ini. Penduduk desa akan ramai-ramai bekerja dari subuh untuk memproses nira dari pohon lontar menjadi berbagai olahan, seperti gula air dan olahan fermentasi tuak.

Laki-laki akan memanjat pohon lontar setinggi 15 hingga 30 meter, berbekal ember dan tanpa pengaman apapun. Sedangkan para perempuan akan menunggu di bawah, memasak berember-ember nira di atas tungku selama beberapa jam hingga nira mengental menjadi gula air.

Begitu seterusnya kegiatan warga desa setiap hari hingga musim kemarau berakhir. Tidak hanya produksi gula air ini menjadi penyangga ekonomi masyarakat Rote, tetapi juga sebagai warisan budaya turun-menurun selama berabad-abad.

Selain lontar, Pulau Rote juga dikenal dengan kekayaan lautnya. Potensi rumput lautnya mencapai 32.000 hektare– terbesar di provinsi Nusa Tenggara Timur. Tangkapan laut Rote juga beragam, mulai dari teripang, berbagai ikan pelagis seperti tuna, tongkol, dan cakalang, hingga ikan demersal seperti kakap dan kerapu.

Potensi kelautan

Nelayan Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, memegang tangkapan bayi ikan tuna sirip kuning.

Potensi rumput laut

Petani rumput laut di Desa Faifua, Kecamatan Rote Timur.

Namun, pengembangan potensi untuk menopang perekonomian Rote ini tersendat. Pada 2025, pemerintah punya rencana ekonomi baru untuk Rote.

“Pengembangan perikanan dan rumput laut masih (dilakukan), tapi fokus terbesar tambak garam dulu,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote Ndao, James Riwu, saat ditemui Katadata, 3 Agustus lalu.

Pulau lontar ini dipilih untuk menjadi pusat baru produksi garam Indonesia Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN). Lokasi proyek berada desa-desa di pesisir timur pulau dengan estimasi luas mencapai 16.000 hektar.

Hutan lontar di desa-desa tempat proyek berada lantas turut ditebang dalam proses pembukaan lahan. Musim kemarau yang biasa diisi dengan aktivitas panen lontar, bakal bergeser menjadi panen garam.

Ketika Katadata datang ke area tambak K-SIGN di Desa Serubeba, Kecamatan Rote Timur, tersisa beberapa batang pohon lontar menjulang dikelilingi kolam tambak. Tanah kering retak-retak. Paparan matahari terik, dengan terpaan angin yang sedang kencang-kencangnya.

Menurut seorang pendeta di gereja Desa Serubeba, Febi, pembabatan pohon-pohon di Desa Serubeba tidak hanya membuat panas di desa jadi terasa makin tidak tertahankan, tetapi juga tiupan angin yang semakin kencang.

“Musim sudah berubah. Dulu masih ada pohon-pohon. Sekarang angin sudah tidak ada yang menahan,” kata Pendeta Febi kepada Katadata, 2 Agustus.

Lontar di antara proyek

Pohon lontar milik warga Desa Serubeba yang berdekatan dengan kolam tambak K-SIGN.

Bekerja di Tengah Panas

“Kita buat (garam) di sini, yang menikmati hasilnya adalah masyarakat Rote Ndao,” kata Menko Pangan Zulkifli Hasan saat meninjau proyek K-SIGN pada 30 Juli lalu. “Anak-anak muda nanti tidak perlu jauh-jauh mencari pekerjaan,” lanjutnya.

Janji lapangan pekerjaan proyek K-SIGN dengan gaji setara upah minimum provinsi (UMP) bak angin segar bagi warga Rote. Apalagi, pemerintah mengklaim akan mengutamakan penduduk setempat dalam proses perekrutan.

Tidak tanggung-tanggung, dari pra-produksi hingga pasca-produksi, proyek diestimasi bakal membuka hingga 26.000 tenaga kerja. Jumlah ini setara sepertiga dari angkatan kerja Kabupaten Rote Ndao itu sendiri.

Pekerja proyek

Para pekerja proyek K-SIGN melintasi area tambak dengan mobil.

Pekerja proyek 2

Alat berat melintasi lahan tambak K-SIGN di Desa Serubeba.

Dalam tahap pertama pembukaan lahan proyek seluas 616 hektare yang rampung Juni lalu, proyek diklaim telah melibatkan ratusan pekerja lokal. Meski begitu, Pendeta Febi menyebut warga Desa Serubeba kebanyakan hanya dipekerjakan sebagai buruh kasar.

“Misalnya bersih-bersih abu dan lumpur, atau penjaga alat berat. Karena masyarakat (dinilai) tidak punya kemampuan apa-apa,” kata Pendeta Febi.

Ketika kebanyakan anak muda dipekerjakan sebagai tukang sapu jalan dan pencuci alat berat, nasib Alex (30)- bukan nama sebenarnya, sedikit berbeda karena mempunyai pengalaman sebagai sopir. Warga Desa Serubeba ini selama setahun terakhir direkrut sebagai operator alat berat proyek. Namun setelah pembukaan lahan di desanya selesai, kontrak kerjanya tidak dilanjutkan.

Selama menjadi operator proyek, Alex menyebut digaji sekitar Rp3,5 juta per bulan. Upah ini memang sesuai janji pemerintah di atas UMP NTT yang sebesar Rp2,5 juta sebulan. Namun, ujian berikutnya menanti: Panas yang sangat menyengat di kolam tambak bekas sawah dan hutan yang dulunya ditumbuhi mangrove dan lontar.

“Bekerja di sana panas sekali. Kami sengsara,” kata Alex.

Keluhan yang sama juga datang dari pekerja proyek yang berasal dari Desa Papela– desa tetangga Desa Serubeba. “Banyak anak-anak muda yang mundur (bekerja) dari proyek. Tidak sanggup panas, tidak ada pohon sama sekali untuk berlindung,” kata Nasarudin, salah satu warga Desa Papela.

Tanah pecah-pecah
Tanah retak

Lahan di Desa Serubeba retak-retak pada musim kemarau, Agustus 2026.

Bekerja di tambak garam memang bukan perkara mudah, sekalipun untuk para petani garam di Madura– daerah yang sudah lama menjadi sentra garam Indonesia. Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Inovasi Garam Universitas Trunojoyo Madura Haryo Triajie, suhu panas di tambak garam bahkan bisa lebih tinggi di daerah NTT.

“Kerja garam bukan pekerjaan ringan karena justru bekerja pada musim panas,” kata Haryo saat dihubungi Katadata.

Studi oleh Venugopal dkk. (2026) di Tamil Nadu– salah satu daerah utama penghasil garam di India– menunjukkan bagaimana paparan stres panas atau heat stress berdampak pada kesehatan dan produktivitas pekerja lapangan, termasuk petambak garam.

Ketika memasuki musim panen garam, situasi tambak menjadi panas dan lembab. Paparan radiasi menjadi tinggi sebab cahaya matahari dan pantulan di meja kristalisasi tambak intens. Hal ini berdampak pada petambak garam yang mengalami penurunan produktivitas, sebab mereka perlu beristirahat atau berobat akibat sakit terpapar panas.

Peneliti juga menemukan bahwa mayoritas pekerja tambak di Tamil Nadu terpapar panas di atas batas wajar. Mayoritas petambak juga menyebut pernah mengalami minimal satu gejala heat strain, seperti keringat berlebih, kehausan, dehidrasi, pusing, kram otot, mual, hingga pingsan.

Katadata membandingkan indeks tahunan wet bulb temperature (WBT)- yang menggabungkan suhu panas dan kelembaban untuk mengukur bagaimana tubuh melakukan pendinginan lewat keringat- antara provinsi NTT di Indonesia dengan Tamil Nadu di India. Pada 2025, keduanya memiliki suhu WBT yang berdekatan, masing-masing 23,29°C dan 23,37°C .

Sebagai sentra industri garam yang mengandalkan panas matahari dan tingkat kelembaban, situasi panas lembab ini penting untuk diwaspadai di area tambak K-SIGN Pulau Rote

Apalagi, pemanasan global menyebabkan pulau-pulau kecil, terutama yang berdekatan dengan garis khatulistiwa, semakin sering menghadapi ancaman bahaya panas lembab ekstrem. Kondisinya bahkan bisa berlangsung selama 160 hingga 320 hari setiap tahunnya. Situasi ini membuat tubuh manusia yang kepanasan kesulitan mengeluarkan keringat untuk pendinginan sehingga mengancam kesehatan, terutama pada pekerja lapangan.

“Panas yang bercampur dengan kelembaban tinggi dapat berdampak pada penyakit seperti hipertermia. Pada kasus dengan level keparahan tinggi, situasi ini bisa berdampak pada kematian, bahkan pada anak-anak dan orang dewasa sehat sekalipun,” tulis studi.

Dalam beberapa tahun kedepan, cakupan populasi penduduk Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berpotensi terkena heat stress juga diprediksi makin meluas.

Ketika ditanya perihal masyarakat Rote yang berpotensi terpapar panas saat nantinya bekerja di tambak garam, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai penanggung jawab proyek K-SIGN menyebut masyarakat Rote sudah “terbiasa”.

Sebaliknya, sebagai antisipasi anomali cuaca yang menjadi penentu keberhasilan produksi garam, KKP berencana memaksimalkan produktivitas sepanjang musim kemarau.

“Kita mengejar produksi tinggi untuk mengantisipasi cuaca,” kata Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita kepada Katadata, 24 September.

Pemanasan global tidak hanya membuat situasi di pulau semakin panas, tetapi juga membuat permukaan laut semakin naik. Pulau Rote bersama pulau-pulau kecil Indonesia lainnya menjadi yang paling rentan tenggelam dalam beberapa tahun kedepan akibat kenaikan muka air laut ini.

“Naiknya permukaan air laut ini ditunjukkan dengan banyaknya pulau-pulau kecil yang semakin mengecil,” kata Manajer Kampanye Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik kepada Katadata.

Iqbal mengungkap, semakin tinggi muka laut, semakin besar pula ancaman banjir pesisir, abrasi, hingga intrusi air asin di negara kepulauan seperti Indonesia. Rote pun menjadi salah satu pulau kecil yang paling rawan berhadapan dengan bencana-bencana ini.

Sebuah studi oleh Harahap dkk. (2025) memetakan risiko pesisir 42 pulau terkecil dan terluar di Indonesia. Studi ini menggunakan penilaian multi-variabel yang mengelompokkan tiap pulau ini berdasarkan ancaman kebencanaan, kondisi ekonomi dan kepadatan penduduk, hingga kondisi alam dan sosial pulau itu.

Hasilnya, Pulau Rote menjadi satu-satunya pulau kecil terluar Indonesia yang masuk dalam kategori paparan risiko kebencanaan paling tinggi.

Pulau kecil Rote perlahan berubah. Pulaunya memanas. Pohon kehidupannya ditebang. Dan kini, ancaman bencana pesisirnya membayangi.

—

Liputan ini didukung oleh Pulitzer Center. Nama sejumlah narasumber disamarkan berdasarkan pertimbangan redaksi Katadata atas keamanan narasumber terkait.