BENCANA rawan terjadi di Pulau Rote. Bukan sekali dua kali pulau paling selatan Indonesia ini terdampak badai tropis yang terbentuk di Samudera Hindia dan perairan Australia. Lokasi pulau juga dekat dengan lempeng Indo-Australia, menyebabkan pulau kecil ini terancam gempa, bahkan tsunami.
Bagi Jawir Daeng Sappa (51), kapal adalah nyawanya.
Nelayan paruh baya ini masih ingat bagaimana Siklon Tropis Seroja menghantam rumahnya di Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, pada April 2021.
Hujan begitu lebat. Angin begitu kencang. Gelombang laut mencapai ketinggian lebih dari enam meter. Jawir dan nelayan-nelayan di desa urung melaut selama berminggu-minggu.
Kebanyakan warga pesisir dievakuasi. Jawir saat itu menolak untuk mengungsi meski air sudah mulai naik ke pintu rumahnya. Ia tidak ingin meninggalkan kapal miliknya satu-satunya yang terparkir di pesisir belakang rumahnya. Akhirnya, hanya anak-anak dan istri Jawir yang mengungsi.
Badai itu memporak-porandakan sebagian kawasan pesisir Nusa Tenggara Timur. Kecepatan maksimum siklon mencapai 75 km/jam, dengan kemunculan bibit pertama kali di Laut Sawu.
Ratusan korban jiwa berjatuhan. Ribuan rumah dan bangunan rusak. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rote Ndao, korban mengungsi akibat Seroja di Pulau Rote mencapai 2.680 orang, sedangkan 9.495 rumah dan bangunan rusak dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Desa-desa di pesisir terdampak paling parah, termasuk Desa Papela.
“Ombaknya sempat tiga meter. Bodi kapal banyak yang terdampar di pantai, tenggelam, dan hancur. Itu ngeri sekali,” kata Jawir kepada Katadata, 31 Juli.
Tidak hanya rumah warga desa yang rusak akibat Badai Seroja, tetapi juga kapal-kapal nelayan. Tidak sedikit dari mereka yang hingga kini urung melaut karena kapal mereka hancur, bahkan berujung terjerat utang. Beruntung, kapal Jawir termasuk yang selamat.
Setelah badai, rumpon-rumpon di tengah laut untuk menarik ikan juga rusak parah. Tangkapan ikan menurun drastis dan nelayan perlu melaut lebih jauh. Bantuan untuk para nelayan ini tidak kunjung datang. Pun dengan ganti rugi kerusakan rumah yang tidak merata.

Tempat tinggal Suku Bajau di Tanjung Pasir, Desa Papela, yang langsung berbatasan dengan laut.
Jawir dan mayoritas warga desa adalah nelayan ulung. Selama bertahun-tahun, Desa Papela berperan sebagai penyuplai utama tangkapan laut se-Kabupaten Rote Ndao.
Sekitar 37 tahun lalu, Jawir muda adalah salah satu orang pertama Suku Bajau dari Kampung Mola, Sulawesi Tenggara, yang mendirikan rumah di bagian tanjung Desa Papela. Selama berabad-abad, desa ini menjadi tempat singgah sementara bagi nelayan Suku Buton dan Suku Bajau yang hendak melaut ke perairan Australia. Lambat laun, banyak dari mereka yang memutuskan menetap di area tanjung desa. Mereka menamai wilayah itu Tanjung Pasir.

Di depan rumahnya, Jawir (51) memegang tangkapan ikan tuna nelayan Suku Bajau lainnya.
Ketika sedang musim melaut, Jawir dan ratusan nelayan Bajau lainnya akan mengarungi lautan hingga ke Ashmore Reef atau Browse Island selama beberapa minggu. Kedua area ini berada dalam kawasan MoU Box– kawasan perjanjian bilateral Indonesia dan Australia yang mengizinkan nelayan tradisional Indonesia melaut di perairan Australia.
Mereka menggunakan kapal ‘lambo’- kapal layar tradisional tanpa mesin khas orang Bajau. Ekspedisi ini berlangsung selama berminggu-minggu. Di wilayah MoU Box, para nelayan Bajau akan menyelam hingga puluhan menit di bawah laut untuk memburu sirip hiu hanya dengan berbekal kacamata renang dan tombak.
Selain ekspedisi panjang ke perbatasan laut Australia, para nelayan juga melaut harian ke perairan lepas untuk menangkap tongkol, tuna, cakalang di kawasan rumpon. Di pesisir, nelayan perempuan akan langsung menjual hasil tangkapan begitu para nelayan laki-laki pulang dari melaut.

Masyarakat Suku Bajau di Tanjung Pasir Desa Papela berkerumun melihat hasil tangkapan nelayan yang baru pulang melaut.

Tangkapan ikan nelayan Suku Bajau Desa Papela dari laut lepas.
Rumah para nelayan Bajau di Desa Papela hanya berjarak beberapa langkah dari laut. Mereka memang dikenal tidak bisa tinggal jauh dari laut. Namun, ini pula yang membuat nelayan Papela paling rentan terdampak bencana di pesisir, mulai dari cuaca ekstrem, gelombang tinggi, hingga tsunami.
Seroja bukan badai siklon pertama yang melanda Pulau Rote. Hampir dua abad sebelumnya, di bulan April yang sama, Rote tercatat pernah berhadapan dengan siklon tropis yang dinilai lebih destruktif.
Dalam arsip buku “Australasian Cyclonology”, disebut bahwa pada malam 21 April 1843, terjadi badai siklon tropis “mengerikan” di Pulau Timor dan Pulau Rote, dengan kerusakan paling parah terjadi di Rote. Rumah-rumah hancur. Pohon-pohon tumbang. Siklon tropis yang kemudian dinamai Maguasha ini merenggut setidaknya 75 nyawa.
Celakanya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan Indonesia bakal semakin rentan terhadap ancaman siklon tropis. Hal ini karena perubahan iklim dan suhu laut yang semakin hangat. Padahal, siklon tropis umumnya tidak mendekat ke area garis khatulistiwa.
“Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita,” kata peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Yosef Prihanto, dalam rilis resmi.
Tidak berhenti pada badai tropis, Rote juga rentan terjadi gempa dan tsunami.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Rote Ndao Jeskiel Nalle menjelaskan, Pulau Rote sangat dekat dengan lempeng Indo-Australia. Ketika terjadi gempa, umumnya Rote bagian timur lebih terdampak dan rawan terjadi tsunami dibandingkan Rote bagian barat.
“Apalagi Desa Papela itu ada di dalam teluk, risikonya tinggi. Berdasarkan karakter tsunami, daerah teluk dampaknya dua kali lipat dibandingkan pantai yang lurus,” kata Jeskiel Nalle ketika ditemui Katadata di Kantor BPBD Rote Ndao, 3 Agustus.
Sebenarnya, para nelayan Desa Papela memiliki alternatif penghasilan, yaitu bertani rumput laut. Rote adalah pulau yang potensial untuk produksi rumput laut. Ketika harga sedang tinggi, banyak nelayan yang beralih profesi sementara waktu untuk bertani rumput laut.
Nelayan Desa Papela memilih Pantai Mulut Seribu di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, sebagai perairan untuk budidaya rumput laut mereka. Di sana, karakter lautnya cenderung lebih tenang, yang mana cocok untuk panen rumput laut.

Perairan Pantai Mulut Seribu, Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko.

Tali-tali budidaya rumput laut warga mengambang di perairan Pantai Mulut Seribu.
Namun, harapan keberhasilan rumput laut pun harus pupus sejak Agustus 2009. Para nelayan berhadapan dengan bencana tumpahan minyak Montara– salah satu bencana lepas pantai terparah yang dialami Australia.
Anjungan minyak Montara berjarak 260 kilometer dari barat laut daratan Australia. Sumur ini dioperasikan oleh PTTEP Australasia, anak usaha perusahaan migas PTT Exploration and Production. Mengutip Spies dkk. (2017), bencana tumpahan minyak pada Agustus 2009 berlangsung selama sekitar 74 hari di Laut Timor, dengan estimasi volume tumpahan minyak mencapai 23,5 miliar liter.
Cemaran tumpahan minyak menyebar hingga ke arah perairan Indonesia, dengan dampak paling parah diestimasi terjadi pada perairan Pulau Rote.
Laut berubah warna jadi kuning. Airnya terasa lengket ketika disentuh. Ikan-ikan dan rumput laut mati. Burung-burung tidak bisa terbang karena sayapnya terkena laut yang tercemar.
Setahun setelah bencana Montara, produksi rumput laut di Rote Ndao turun 72% dibandingkan pada 2009. Begitu pula dengan dampak ke tangkapan ikan para nelayan.
Sadli (72) adalah salah satu nelayan dan petani rumput laut Desa Papela yang terdampak. Ia menceritakan bagaimana budidaya rumput lautnya di Pantai Mulut Seribu hancur total. Setelah bencana, Sadli beberapa kali mencoba untuk kembali menanam rumput laut. Namun, usahanya gagal, bahkan bertahun-tahun setelahnya.
“Penghasilan tangkapan ikan juga berkurang. Yang saya dengar, butuh waktu 20 sampai 25 tahun untuk (limbah cemaran) bisa hilang sepenuhnya,” kata Sadli.

Budidaya rumput laut warga Desa Faifua di Pantai Oesosole, Kecamatan Rote Timur, terkena penyakit pucuk putih (ice-ice).
Berharap dan Bertahan
Perekonomian kian sulit bagi nelayan Desa Papela. Sedangkan di desa tetangga– Desa Serubeba– terbentang proyek Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) yang menjanjikan ribuan lapangan pekerjaan bagi warga Rote. Tidak sedikit nelayan Desa Papela yang berharap pada pembukaan lapangan pekerjaan proyek tambak garam itu.
Meski begitu, peneliti antropologi maritim BRIN Dedi Supriadi Adhuri berpendapat, bukan perkara mudah bagi nelayan Bajau yang adalah suku pelaut untuk menjadi petambak di darat. Pada 2024, Dedi sempat melakukan penelitian soal nelayan lintas batas di Desa Papela.
“Laut adalah identitas orang Bajau. Mereka lebih nyaman di laut daripada di darat. Kalau mereka mau ditarik jadi pekerja tambak garam, itu tantangannya besar. Karena pengetahuan dan kemampuannya tidak di sana,” kata Dedi kepada Katadata, 10 Juli.
Di balik janji manis lapangan pekerjaan, Desa Papela kini harus menanggung kerentanan bencana yang lebih berat. Proyek garam K-SIGN diduga membabat hutan mangrove yang selama ini menjadi pelindung pesisir Rote Timur.
Menurut BPBD Rote Ndao, tambak garam K-SIGN menempati daratan sempit yang diapit dua teluk. Daratan ini adalah penghubung dua kecamatan yaitu Rote Timur dan Landu Leko. Wilayahnya punya riwayat beberapa kali banjir rob ketika air pasang, bahkan berpotensi terputus jika terjadi tsunami. Jika itu terjadi, Desa Papela bakal menghilang.
“Sebelum ada proyek (tambak garam), kalau air pasang tinggi, air laut dari Teluk Pantai Baru nyambung melalui celah-celah bakau dan keluar ke arah Papela. Tapi sekarang bakau-bakaunya habis. Kalau terjadi tsunami, tambak sampai ke Tanjung Pasir itu habis rata,” kata Jeskiel Nalle.
—
Di belakang rumah Rusdi (42), petak-petak tambak garam terlihat membelah hamparan bakau di pesisir di desa tetangga.
Nelayan Suku Bajau Desa Papela ini memandang hamparan bakau itu, lalu mengalihkan pandangan ke deretan bakau yang ada di dekat kapal-kapal nelayan di pesisir belakang rumahnya. Matahari sedikit lagi terbenam. Beberapa hari terakhir, ia sedang menunggu cuaca lebih bersahabat untuk bisa memulai ekspedisi panjang ke perbatasan Australia.
“Tambak itu sudah banyak gusur bakau,” kata Rusdi menunjuk perbatasan Desa Serubeba dan Desa Papela. “Pohon bakau di sini tidak boleh dipotong. Harus kami jaga,” kata Rusdi.

Deretan kapal nelayan Desa Papela terparkir di pesisir yang ditumbuhi mangrove rimbun.
—
Liputan ini didukung oleh Pulitzer Center.