Pemerintah: Keputusan The Fed Hentikan Spekulasi Pasar
KATADATA - Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve/The Fed akhirnya menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan keputusan tersebut mengurangi spekulasi yang selama ini melanda pasar keuangan.
Menurutnya, selama ini gejolak pasar finansial sedikit banyak dipicu kegamangan The Fed dalam menentukan naik-tidaknya Fed Rate. “Paling tidak sekarang sudah ada kestabilan di pasar,” kata Bambang dalam seminar infrastruktur di Menara UOB, Jakarta, Kamis, 17 Desember 2015.
Setiap menjelang rapat Federal Open Market Committe/FOMC, pasar di negara-negara berkembang memang cenderung merespons negatif. Kabar kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika itu kerap menekan rupiah sejak krisis ekonomi 2008 lalu. (Baca: Bunga The Fed Naik: Rupiah Menguat, Bursa Saham Menghijau).
Terakhir, misalnya, terlihat pada perdagangan di pasar spot awal pekan ini. Rupiah melemah hingga menyentuh level 14.111 per dolar Amerika atau turun sekitar 0,5 persen dari akhir pekan lalu menyikapi rencana pertemuan FOMC. Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah sebagaimana tersaji dalam kurs referensi JISDOR. Ketika itu, mata uang Indonesia ini diperdagangkan 14.076 per dolar Amerika, melemah dibandingkan Jumat pekan sebelumnya yang masih berada di level 13.937 per dolar.
Karena itu, tak heran bila pemerintah bisa mengambil nafas lega dengan keputusan The Fed tadi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil juga memiliki pandangan yang sama dengan Bambang. Level baru Fed Rate telah menghentikan ketidakpastian pasar. (Baca juga: Langkah Baru BI Antisipasi Kenaikan Bunga Fed Rate).
Namun Sofyan mengingatkan bahwa The Fed kemungkinan kembali menaikan suku bunga acuan ini secara berjenjang. Prediksinya, kenaikan bertahap dilaksanakan hingga satu semester ke depan. “Secara gradual mungkin dengan rentang waktu tiga sampai empat atau enam bulan,” ujarnya.
Seperti diketahui, The Fed menaikan suku bunga acuan 25 basis poin dari 0-0,25 menjadi 0,25-0,50 persen pada Rabu malam waktu Amerika atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Di luar perkiraan, kebijakan yang menandai berakhirnya era bunga nol persen selama tujuh tahun terakhir tersebut tidak mengguncang pasar keuangan dan saham dunia.
Di pasar valuta asing, dolar Amerika cuma menguat 0,17 persen terhadap euro dan 0,45 persen atas yen Jepang. Sedangkan di pasar obligasi, surat utang pemerintah bertenor pendek mengalami tekanan jual. Imbal hasil obligasi pemerintah berjangka dua tahun naik lebih dari satu persen, yang merupakan level tertinggi sejak April 2010. Begitu pula imbal hasil obligasi pemerintah berjangka 10 tahun naik menjadi 2,291 persen.
Di bursa saham, kebijakan The Fed juga menuai respons positif. Indeks Dow Jones dan indeks Nasdaq di bursa New York ditutup menguat masing-masing 1,5 persen dari sehari sebelumnya. Hal tersebut menunjukan para investor percaya ekonomi Negeri Paman Sam itu sudah kuat dan cukup cerah. Selain itu, para investor sejak jauh-jauh hari sudah memperkirakan kenaikan ini di pengujung 2015. “Tepat seperti yang kami perkirakan,” kata F. William McNabb III, Chief Executive Vanguard Group, raksasa dana pensiun di Amerika, seperti dikutip situs wsj.com.
