Senin 4/9/2017, 17.01 WIB
Maria Yuniar Ardhiati
Tony Keusgen
Managing Director Google Indonesia
Saya bisa melihat minat besar komunitas startup di Indonesia, yang menawarkan solusi terhadap persoalan sehari-hari. Ada beberapa contoh yang begitu bagus, yaitu Go-Jek dan Tokopedia.
Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen
Google Indonesia

Google semakin aktif mendorong pengembangan usaha rintisan (startup) di Indonesia. Belum lama ini, raksasa digital tersebut meluncurkan sejumlah program untuk pengusaha, melalui aplikasi Primer, Gapura Digital, serta Womenwill.

Primer misalnya, merupakan aplikasi penyedia pelatihan bisnis digital. Di dalamnya terdapat 24 pelajaran, termasuk langkah-langkah membangun bisnis serta menjual produk maupun layanan secara online. Sedangkan Gapura Digital bertujuan membimbing pengusaha bisnis kecil untuk melakukan aktvitas bisnis mereka secara online. Google Indonesia mencatat   ada 4.500 peserta kelas dalam program yang digelar selama tiga bulan di tujuh kota di Indonesia itu.

Google memang ingin memajukan keterampilan sumber daya manusia di Indonesia dan memastikan perusahaan rintisan berkembang. “Bisnis tradisional pun sekarang sudah merambah ke ruang digital,” kata Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen dalam wawancara khusus dengan tiga media massa, termasuk wartawan Katadata, Maria Yuniar A., di sela-sela acara "Google for Indonesia 2017", Kamis (24/8). Berikut petikan wawancaranya.

Apa saja rencana bisnis Google di Indonesia?

Kami memiliki komitmen berinvestasi dalam jangka panjang di Indonesia. Pertama-tama, dalam pengembangan keterampilan di Indonesia, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital. Kami melihat masih ada kesenjangan yang lebar dalam hal keterampilan di Indonesia, dan akan berdampak ke seluruh negeri. Kami mendukung pengembangan sumber daya manusia, memastikan startup mulai berkembang dan mendukung mereka. Bahkan, sekarang kita sama-sama bisa melihat, bisnis tradisional pun sudah merambah ke ruang digital.

Apa saja yang menjadi prioritas?

Jadi, yang pertama adalah mendukung pengembangan keterampilan. Kedua, investasi bagi ekosistem di sekeliling usaha kecil dan menengah, perempuan, serta keterlibatan perempuan dalam bisnis. Sejauh ini melalui program kami, yaitu Google My Business, sudah ada 700 ribu usaha kecil di Indonesia.  Dengan demikian, jika kita mengakses Google search, bisnis mereka akan muncul di Google Map dan Google Search.

Ini langkah awal yang sangat hebat bagi usaha kecil dan menengah untuk membangun bisnis secara online. Oleh sebab itu, kami harus memastikan kelanjutan peluang bisnis semacam ini melalui Internet.

Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan startup di Indonesia?

Saya bisa melihat minat besar komunitas startup di Indonesia, yang menawarkan solusi terhadap persoalan sehari-hari. Ada beberapa contoh yang begitu bagus, yaitu Go-Jek dan Tokopedia.

Namun, kami ingin startup lebih bersemangat untuk merambah ke luar negeri dan mulai menanamkan pengaruh mereka dari negara-negara maju di sekeliling Indonesia. Traveloka sekarang sudah masuk ke negara lain. Begitu pula dengan hijup.com, yang bergerak di industri busana muslim wanita. Sekitar 20 persen pendapatan mereka berasal dari luar Indonesia.

Dengan berkembangnya startup di Indonesia, bagaimana Google melihat pasar Internet di Indonesia saat ini?

Indonesia merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat. Masyarakat kini melakukan pencarian melalui Google lebih sering dibanding sebelumnya, karena rasa ingin tahu yang besar. Volume pencarian melalui Google tumbuh 43 persen year-on-year. Artinya, penjelajahan di Internet telah meluas.

Apakah pertumbuhan serupa terjadi pada YouTube?

Ya, pertumbuhan YouTube di Indonesia sangat pesat, baik dalam hal sinkronisasi maupun pengunggahan konten. Jumlah pengguna aktif YouTube per Juni 2017 sebanyak 50 juta. Sementara itu, Facebook mempunyai 40 juta pengguna aktif. Jadi, YouTube merupakan aplikasi yang paling digemari, berdasarkan jumlah aktif setiap bulannya. Itu lah pentingnya membuat Internet menjadi lebih berciri khas Indonesia.

Ciri khas Indonesia yang seperti apa?

Sebagai contoh, ada seorang anak muda yang menggunakan nama Bayu Skak di YouTube. Pembuat konten kreatif berbahasa lokal ini berasal dari Malang, Jawa Timur. Ia memiliki jumlah penonton yang sangat besar. Dari sini kami melihat, ternyata konten dengan bahasa lokal berhasil memukau penonton di Indonesia. Sebagai hasilnya, kita bisa melihat pertumbuhan YouTube.

Apakah Google berencana meluncurkan produk baru?

Masyarakat Indonesia selalu menyambut baik setiap solusi dalam Internet yang kami hadirkan. Kami pun fokus lebih memahami pasar di Indonesia, sehingga akan ada lebih banyak produk yang memiliki ciri khas Indonesia.

Artikel Terkait
Persyaratan equity crowdfunding diklaim tidak akan seketat proses Initial Public Offering.