Gunung Sinabung Erupsi, Warga Dua Desa Dievakuasi
Gunung Sinabung kembali erupsi dan mencatat kenaikan level aktivitas vulkanik menjadi Level III (Siaga) dari yang sebelumnya berstatus Level II (Waspada). Pemerintah Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mengevakuasi warga dua desa, pada Senin (31/8).
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai tindakan antisipasi mengingat kenaikan level aktivitas vulkanik dan perluasan zona bahaya Gunung Api Sinabung yang berdasarkan rekomendasi Badan Geologi. Dalam rekomendasi tersebut terdapat dua desa yang menjadi prioritas, yakni Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, dan Desa Payung, Kecamatan Payung.
Sekretaris Daerah Kabupaten Karo, Gelora Kurnia Putra Ginting, menyatakan keputusan tersebut merupakan hasil dari rapat kesiapsiagaan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Karo di Ruang Rapat Matang Sitepu, Kabanjahe, Senin (31/8) malam.
“Untuk Desa Kuta Tengah, warga akan diarahkan ke lokasi pengungsian di Desa Sukatepu, Losd (Balai Adat), dan KDMP (Koperasi Desa Merah Putih). Sedangkan masyarakat Desa Payung akan ditampung di Losd (Balai Adat) Desa Batukarang,” kata Gelora, seperti dikutip dari Antara.
Pos terpadu telah disiapkan di Kantor Koramil Simpang Empat. Sementara itu, pos tambahan berlokasi di Simpang Tigakicat dengan tujuan sebagai pendukung penanganan warga Desa Kuta Tengah dan di Kantor Camat Payung Untuk masyarakat Desa Payung.
Pemkab Karo mengimbau masyarakat yang berada dalam zona bahaya agar tetap tenang, tidak panik dan mematuhi arahan petugas. Selain itu, warga juga diharapkan mempersiapkan diri untuk melakukan evakuasi sewaktu-waktu aktivitas vulkanik Gunung Sinabung meningkat dan membahayakan keselamatan.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri dan seluruh unsur terkait juga terus memantau dan berkoordinasi guna mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas Gunung Sinabung.
Ada Potensi Letusan Sinabung yang Lebih Besar
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut erupsi Gunung Sinabung, pada Senin (31/8) siang, merupakan erupsi awal sehingga masih terdapat kemungkinan terjadi letusan yang lebih besar.
"Erupsi ini merupakan sebagai erupsi awal dan tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar," kata Kepala Badan Geologi Lana Saria di Jakarta.
Dia memastikan perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung akan terus dipantau dan tingkat aktivitas dievaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan untuk dapat menjadi dasar aksi kesiapsiagaan di lapangan.
Gunung Sinabung sebelumnya dideteksi tim vulkanologi Badan Geologi mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026, pukul 10.17 WIB, dengan kolom erupsi mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal teramati condong ke arah timur dan tenggara. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 120 milimeter.
Namun, peningkatan aktivitas vulkanik telah terdeteksi sebelum erupsi terjadi. Badan Geologi mencatat 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa embusan, dan satu kali tremor harmonik yang terekam sebelum erupsi pada pukul 10.17 WIB.
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental tersebut, Badan Geologi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai 31 Agustus 2026, pukul 12.30 WIB. Gunung Sinabung sebelumnya berada pada Level II sejak 17 Mei 2023.
Pada tingkat aktivitas Level III (Siaga), masyarakat dan pengunjung atau wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi serta dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Sinabung dan radius sektoral enam kilometer ke arah selatan-tenggara.
Masyarakat yang bermukim di sekitar sungai yang aliran airnya berhulu di Gunung Sinabung juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar.
Pemantauan selama 1-30 Agustus 2026 menunjukkan Gunung Sinabung mengeluarkan asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal dan ketinggian sekitar 50-1.000 meter dari puncak. Selain itu, vegetasi di lereng bagian timur teramati menguning dan mengering.
Badan Geologi meminta masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti arahan BPBD Provinsi Sumatera Utara serta BPBD Kabupaten Karo.