Dari Singkawang, APEKSI Dorong Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Kota

Dok. Rembuk Kebudayaan Kota Kita
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan (keempat dari kiri), Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie (keempat dari kanan), dan Wakil Wali Kota Singkawang Muhammadin (ketiga dari kanan) berfoto bersama jajaran pengurus dan delegasi APEKSI dalam Rembuk Kebudayaan Kota Kita di Singkawang, Kalimantan Barat, Kamis (16/10/2026).
17/10/2026, 17.52 WIB

Singkawang — Kebudayaan perlu menjadi bagian integral dari pembangunan kota, mulai dari penguatan identitas dan ketangguhan masyarakat hingga pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Bagi pemerintah kota, warisan sejarah, tradisi, pengetahuan lokal, dan ruang budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan modal pembangunan yang dapat menggerakkan kehidupan masyarakat. 

Pesan tersebut mengemuka dalam Rembuk Kebudayaan Kota Kita yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) bersama Pemerintah Kota Singkawang pada 16 Oktober 2026. 

Mengusung semangat “Menolak Lupa, Menolak Runtuh, Menolak Punah”, forum ini mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah kota, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas bagaimana kebudayaan dapat memperkuat ketangguhan kota, menjaga identitas, serta menciptakan nilai tambah ekonomi. 

Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran sebagai pemersatu masyarakat sekaligus penggerak ekonomi kota. 

“Budaya merupakan pemersatu dan penggerak ekonomi. Budaya juga dapat menjadi kekuatan kota, di mana kota yang kuat tidak akan melupakan budaya dan sejarahnya,” ujarnya. Eri juga menyoroti tantangan perkotaan yang semakin kompleks, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang memengaruhi sejumlah wilayah. 

Menurutnya, kemajuan kota tidak semestinya dicapai dengan mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menegaskan pentingnya solidaritas antarkota, sebagaimana ditunjukkan APEKSI dalam merespons bencana di Sumatera pada akhir tahun sebelumnya. Dalam kesempatan tersebut, Eri turut mengapresiasi pelibatan orang muda dalam rangkaian Rembuk Kebudayaan. 

Menurutnya, masa depan kota perlu dibangun bersama generasi muda yang memiliki ruang untuk mengenali identitas, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam pembangunan. “Kota sadar, ia butuh orang muda. Saya bangga APEKSI tidak pernah melupakan orang muda,” katanya.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menekankan bahwa upaya merawat kebudayaan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti sebagai slogan. Ia mengajak pemerintah kota untuk melihat kebudayaan sebagai penggerak pembangunan dan investasi jangka panjang. 

“Ini bukan sekadar jargon atau pemanis, tapi panggilan jiwa, call to action. Kalau warisan kebudayaan kota hilang, kota itu mati!” tegasnya. Ia juga mengajak kota-kota di Indonesia untuk saling berbagi pengalaman sekaligus belajar dari kekhasan masing-masing. 

Baginya, kebudayaan perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. “Budaya merupakan tuntunan, ia hadir di kelas, bukan sekadar di panggung,” ujarnya. 

Tjhai Chui Mie menambahkan bahwa merawat kebudayaan berarti merawat keragaman yang menjadi kekuatan bangsa. Karena itu, pengembangan kota perlu memberi ruang bagi warisan budaya untuk terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. 

Dari perspektif pengembangan ekonomi, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang hadir secara daring melihat Singkawang sebagai contoh bagaimana kekayaan budaya dapat menjadi sumber inspirasi dan nilai tambah. Tantangannya adalah mengembangkan potensi tersebut tanpa menghilangkan kekhasan, pengetahuan, dan keterampilan yang melekat pada budaya asalnya. 

“Warisan kota bukan sekadar artefak masa lalu. Warisan budaya adalah sumber termahal kita. Tantangan kita adalah mengubah identitas budaya ini menjadi nilai tambah ekonomi tanpa menghilangkan kekhasan dan keahliannya,” ujar Irene. 

Ia menekankan pentingnya memperkuat posisi masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif lokal agar turut memiliki kendali atas nilai intelektual yang lahir dari kebudayaan mereka. Pengembangan produk dan karya kreatif perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi kembali secara adil kepada komunitas yang menjaga dan mewariskan tradisi tersebut. 

Kementerian Ekonomi Kreatif, lanjut Irene, siap menjadi penghubung antara potensi dan warisan budaya kota dengan peluang pasar di tingkat nasional maupun internasional. Dengan pendekatan tersebut, setiap kota dapat mengembangkan ekonomi kreatif sesuai karakter dan keunikannya masing-masing.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, secara daring menyampaikan apresiasi kepada Dewan Pengurus APEKSI atas upaya mendorong potensi kota melalui pembangunan kebudayaan. Ia menilai pemerintah kota memiliki posisi strategis untuk mengembangkan potensi ekonomi yang bersumber dari karakter dan nilai budaya lokal. 

Menurut Fadli, ketika sumber daya alam dan industri manufaktur tidak selalu dapat menjadi tumpuan utama perekonomian kota, kebudayaan dapat dikembangkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat karakter masyarakat. 

Ia berharap Rembuk Kebudayaan dapat menginspirasi lahirnya gagasan dan langkah nyata untuk melindungi, mengembangkan, serta memanfaatkan kebudayaan sebagai sumber ekonomi berbasis budaya dan kesejahteraan masyarakat.

Rembuk Kebudayaan yang berlangsung 15-17 Oktober 2026 di Kota Singkawang ini dibuka oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan. Hadir dalam acara ini delegasi Kota Banda Aceh hingga Kota Jayapura, Kota Tarakan hingga Kota Bima. 

Kebudayaan sebagai Agenda Bersama Kota 

Rembuk Kebudayaan Kota Kita juga menjadi ruang berbagi pengalaman antarkota. Sejumlah pemerintah kota, di antaranya Makassar, Singkawang, Yogyakarta, Semarang, dan Kediri, berbagi pengetahuan serta praktik pengelolaan kebudayaan dan identitas kota. 

Forum ini turut menghadirkan praktisi kebudayaan dan orang muda untuk memperkaya perspektif mengenai tantangan serta peluang pemajuan kebudayaan di tingkat lokal.  APEKSI memandang bahwa penguatan kebudayaan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, koordinasi lintas perangkat daerah, serta keterlibatan komunitas budaya, orang muda, akademisi, dan pelaku usaha. 

Dukungan regulasi, kelembagaan, data, ruang budaya, dan anggaran diperlukan agar pelindungan serta pengembangan kebudayaan dapat terintegrasi dengan perencanaan pembangunan kota. 

Dalam konteks city branding, identitas kota yang kuat tidak cukup dibangun melalui promosi dan penyelenggaraan acara. Citra kota perlu berakar pada kebudayaan yang hidup, pengalaman masyarakat, dan karakter lokal yang terus berkembang. Dengan demikian, kebudayaan dapat menjadi landasan bagi pengembangan ekonomi kreatif tanpa kehilangan makna dan hubungan dengan komunitas pemiliknya. 

Melibatkan Orang Muda dan Menghidupkan Cerita Kota 

Sebelum acara utama berlangsung, APEKSI menyelenggarakan sejumlah kegiatan pada 15 Oktober 2026 untuk memperluas keterlibatan pemerintah kota, komunitas, dan orang muda dalam mengenali serta memaknai kebudayaan. 

Forum Koordinasi Kebudayaan: Mengenal, Mengelola, dan Mempromosikan Warisan Kota mempertemukan perwakilan lintas kota dan lintas perangkat daerah untuk memetakan ekosistem kebudayaan, mengenali potensi dan tantangan, serta menemukan titik temu antara pemajuan kebudayaan dan city branding. 

Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama. 

“Saya apresiasi upaya APEKSI lewat Forum Koordinasi ini. Praktik kebudayaan itu ada di seluruh kota, kadang apa adanya. Kami berharap APEKSI bantu koordinir komitmen kita bersama,” kata Sukarno, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bima, salah satu peserta forum. 

Melalui APEKSI Muda: Cerita Kota Cerita Kita, orang muda dari Kota Singkawang, Kota Pontianak, dan sekitarnya mengikuti sesi Participatory Urban Storytelling. 

Kegiatan ini mengajak peserta mengenali kota melalui cerita, pengalaman, dan pengamatan mereka sendiri, sekaligus membuka ruang untuk menemukan peran orang muda dalam membentuk masa depan perkotaan. 

Perspektif tersebut diperluas melalui Warga Muda Walking Tour, yang mengajak peserta menyusuri Singkawang dengan berjalan kaki, mendengarkan narasi tempat, dan mengalami langsung keberagaman ruang kota. Sejumlah lokasi yang dikunjungi antara lain Masjid Raya, vihara, dan Rumah Marga Tjia. Melalui pengalaman ini, peserta diajak melihat bagaimana bangunan, ruang, dan kehidupan masyarakat merekam sejarah serta membentuk identitas kota. 

“Kita mendapatkan insight inter-city, jalan, saling bertukar pikiran, belajar tentang konsep kota yang profesional dengan cara dan pembawaan yang gen-z banget. Hal yang berat diolah jadi hal yang enak dibicarakan dengan gaya orang muda,” kata salah satu peserta kegiatan orang muda ini. 

“Sebagai orang muda kota Singkawang, kegiatan ini sangat membuka mata saya tentang kota saya sendiri,” timpa orang muda lainnya.

Rangkaian kegiatan juga mencakup Pameran Foto Kebudayaan Kota Kita, yang menghadirkan potret kebudayaan, identitas, dan city branding dari berbagai kota di Indonesia. Karya fotografi hasil dokumentasi Tim Humas Pemerintah Kota yang dikurasi oleh APEKSI ini menampilkan kekayaan warisan budaya, tradisi, dan dinamika ruang kota dalam bahasa visual. 

Pameran menjadi ruang apresiasi sekaligus sarana berbagi inspirasi mengenai cara kota merawat dan menghidupkan kebudayaan dalam pembangunan. 

“Delegasi kota-kota anggota APEKSI sangat antusias di acara ini. Termasuk di Forum Kebudayaan. Suasana santai tapi serius saat memetakan ekosistem kebudayaan kota. Semuanya akrab, leluasa berbagi pengalaman, cerita upaya dan tantangan yang dihadapi. Ada juga yang curhat. Bukan mengeluh, tapi semangat untuk saling belajar dan mencari jalan keluar bersama,” kata Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam. 

Melalui Rembuk Kebudayaan Kota Kita, APEKSI berharap muncul gagasan dan pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai karakter serta kebutuhan masing-masing kota. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.