Bahlil Minta Ekspor Energi dan Minerba Tak Lagi Lewat Negara Transit

ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/wsj.
Kapal Transko Dara milik PT Pertamina Trans Konstinental (PTK) memeriksa fasilitas Single Point Mooring untuk distribusi BBM di Pelabuhan Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
2/11/2026, 16.31 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memerintahkan jajarannya untuk mengirimkan ekspor sumber daya alam (SDA) sektor energi dan mineral langsung ke negara tujuan tanpa melalui negara perantara.

Ia menilai langkah itu bertujuan agar Indonesia memperoleh manfaat perdagangan secara langsung dari ekspor komoditas yang dimiliki. Bahlil menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pembukaan Minerba Convex di JIEXpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada (2/11).

Bahlil meminta seluruh jajaran Kementerian ESDM, termasuk Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi serta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) agar mengupayakan pengiriman komoditas ekspor dikirim secara langsung ke negara pembeli.

Bahlil mengatakan pemerintah tidak lagi mengizinkan pengiriman komoditas energi dan mineral melalui negara transit sebelum mencapai tujuan akhir. “Jangan lagi ada pengiriman sumber daya alam lewat transit negara tertentu. Kalau mau kirim barang ke Cina, ya dari Jakarta langsung ke Cina,” ujarnya.

Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan praktik pengiriman melalui negara perantara berpotensi memberikan keuntungan ekonomi kepada negara persinggahan. Keuntungan berasal dari penerimaan pajak dan pencatatan aktivitas perdagangan dalam neraca perdagangan negara transit.

Ia mencontohkan pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Jepang dan Korea Selatan. Menurutnya, Indonesia dapat mengirimkan LNG secara langsung ke kedua negara tersebut tanpa menggunakan jalur perdagangan negara lain.

Bahlil juga telah meminta Direktorat Jenderal Migas dan SKK Migas menjamin pengiriman LNG dari Indonesia menuju negara pembeli secara langsung. “Kenapa harus pakai negara lain? Mereka yang dapat pajak, mereka yang mempunyai neraca perdagangan. Baru ada bencana sedikit, kayak orang apa saja. Jadi, jangan lagi kita kirim ke sana,” kata Bahlil.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba), Tri Winarno, menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan batu bara Indonesia melalui Singapura masih berlangsung saat ini.

Tri memperkirakan sekitar 50 juta ton batu bara Indonesia dikirim melalui Singapura sebelum diekspor kembali atau re-ekspor ke negara tujuan akhir.

“Pembelian dari Singapura itu ada tidak di data? Pasti ada, yang lewat sana batu bara mungkin sekitar 50 ton-60 ton lah,” kata Tri di Kantor Kementerian ESDM pada Senin (2/11).

Ia juga menyebut data pembelian batu bara Indonesia oleh Singapura dapat ditelusuri melalui pencatatan perdagangan. Data tersebut menjadi salah satu indikasi adanya pengiriman batu bara Indonesia yang melewati negara perantara sebelum mencapai pasar tujuan. “Kan tidak ada batu bara di sana, pasti dari kita (Indonesia),” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu