Industri Mebel Soroti Penurunan PMI, Sebut Daya Beli Furnitur Melemah

ANTARA FOTO/Makna Zaezar/YU
Pengunjung mengamati produk mebel dan kerajinan seni ukir yang dipajang dalam pameran Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) 2026 di DP Mal, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2026). Himpunan Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan nilai ekspor mebel dan kerajinan nasional tahun 2026 dapat mencapai lebih dari tiga miliar dolar AS, target tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yakni sebesar 2,9 miliar dolar AS, sekaligus optimis ekspor furnitur dalam lima tahun ke depan dapat tembus
2/7/2026, 15.27 WIB

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menjadi 46,9 pada Juni 2026 merupakan sinyal serius meningkatnya tekanan terhadap sektor produksi nasional. Angka itu mencerminkan pelemahan permintaan yang mulai berdampak langsung terhadap industri mebel dan kerajinan.

Ketua HIMKI Abdul Sobur mengatakan, penurunan PMI dari 50,0 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni menunjukkan pelemahan yang cukup tajam. Selain itu, data juga memperlihatkan pesanan baru, termasuk pesanan ekspor, mengalami penurunan.

"Bagi industri mebel dan kerajinan, dampaknya cukup terasa karena sektor kami sangat bergantung pada kesinambungan order, daya beli, biaya bahan baku, tenaga kerja, logistik, serta kepastian pasar," ujar dia kepada Katadata.co.id, Kamis (2/7/2026).

Ketika permintaan melambat, pelaku industri tidak bisa serta-merta menurunkan kapasitas produksi karena masih harus menanggung berbagai beban operasional, mulai dari tenaga kerja, bahan baku, gudang, cicilan, hingga komitmen ekspor yang tetap harus dipenuhi.

Tekanan terhadap sektor produksi saat ini berasal dari empat faktor utama. Pertama, melemahnya permintaan domestik akibat daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Kedua, buyer ekspor lebih berhati-hati melakukan pembelian di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ketiga, biaya produksi masih tinggi, mencakup harga bahan baku, energi, logistik, pembiayaan, hingga beban kepatuhan terhadap regulasi. Keempat, arus kas industri semakin tertekan karena order melambat sementara kewajiban operasional tetap berjalan.

Ia menambahkan, di pasar domestik, perlambatan daya beli paling terasa pada segmen furnitur menengah dan menengah bawah. Banyak konsumen memilih menunda pembelian barang tahan lama seperti furnitur.

Sementara itu, di pasar ekspor, industri menghadapi tantangan berupa kehati-hatian buyer, tingginya biaya logistik, persaingan harga dengan negara produsen lain, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

 

Meski demikian, HIMKI menilai kondisi itu bukan alasan untuk pesimistis. Abdul mengatakan industri mebel dan kerajinan Indonesia masih memiliki keunggulan yang sulit ditandingi negara lain, mulai dari ketersediaan bahan baku alam, desain, craftsmanship, rotan, kayu, bambu, produk home decor, hingga produk handmade.

"Masalahnya, kekuatan ini perlu didukung oleh kebijakan yang lebih cepat, terukur, dan berpihak pada industri padat karya berorientasi ekspor," katanya.

Karena itu, HIMKI meminta pemerintah memberikan stimulus yang dapat memperkuat daya tahan industri, seperti pembiayaan modal kerja berbunga rendah, percepatan restitusi pajak, keringanan pajak penghasilan bagi industri padat karya, dukungan promosi ekspor, subsidi atau efisiensi biaya logistik, serta penyederhanaan regulasi.

Selain itu, pemerintah juga didorong mempercepat pembukaan akses pasar melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA), memperkuat diplomasi dagang, serta membantu pelaku industri memasuki pasar nontradisional seperti Timur Tengah, India, Afrika, Asia Tengah, dan Eropa.

Abdul Sobur menegaskan industri mebel tidak cukup hanya bertahan menghadapi tekanan saat ini, tetapi juga harus naik kelas melalui penguatan desain, branding, digital marketing, kurasi produk, peningkatan produktivitas pabrik, serta kolaborasi antara industri besar, UKM, desainer, dan lembaga pembiayaan.

"Namun bila pemerintah dan industri bergerak bersama, tekanan ini justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat struktur manufaktur nasional, termasuk industri mebel dan kerajinan Indonesia," tutupnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina