Cina Jajaki Pembangunan Proyek Kereta Trans-Kalimantan 2.772 KM

ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/foc.
Petugas memeriksa lokomotif kereta api saat perawatan rutin di Depo Lokomotif Daop 3 Cirebon, Jawa Barat, Kamis (5/3/2026).
28/9/2026, 13.41 WIB

Pemerintah Indonesia tengah menjajaki investor asing untuk membangun jaringan kereta api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer. Cina dan Rusia disebut telah menyatakan ketertarikan untuk terlibat dalam proyek tersebut.

Melansir South China Morning Post alias SCMP (27/9), dalam laporan terbarunya menyatakan Indonesia tengah menjajaki potensi investasi asing, termasuk dari Cina dan Rusia. 

Hal ini berdasarkan pernyataan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi yang mengatakan pemerintah masih mengeksplorasi potensi investasi asing untuk pembangunan jaringan kereta api yang akan menghubungkan berbagai wilayah di Kalimantan.

Rencana itu menjadi bagian dari pengembangan jaringan transportasi jangka panjang hingga 2045. Kalimantan merupakan wilayah yang kaya sumber daya alam dan menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, wilayah tersebut hingga kini belum memiliki jaringan kereta api publik yang beroperasi.

Ekonom sekaligus Senior Fellow ISEAS-Yusof Ishak Institute Siwage Dharma Negara menilai Cina memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mengerjakan proyek tersebut.

"Cina dapat menawarkan Indonesia ekosistem perkeretaapian yang lengkap, termasuk pembiayaan, keahlian teknik, teknologi dan tenaga berpengalaman," kata Siwage, dikutip dari SCMP, Minggu (27/9). 

Pengalaman Cina membangun kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh juga dinilai menjadi salah satu modal. Kereta cepat sepanjang 142,8 kilometer itu dibangun oleh perusahaan asal Cina dan menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Spesialis perkeretaapian David Feng mengatakan kontraktor Cina memiliki pengalaman membangun jalur kereta di berbagai kondisi geografis. Hal tersebut dinilai relevan dengan kondisi Kalimantan yang memiliki tantangan seperti kelembapan tinggi dan kondisi tanah yang tidak stabil.

Feng memperkirakan perusahaan Cina dapat terlibat dalam berbagai tahapan pembangunan, mulai dari studi kelayakan hingga konstruksi jaringan kereta.

Belajar dari Whoosh

Meski memiliki pengalaman membangun kereta api, keterlibatan Cina juga membuat pemerintah perlu memperhatikan soal pembiayaan.

SCMP menyoroti pengalaman proyek Whoosh yang mengalami pembengkakan biaya dan keterlambatan. Hal ini membuat pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam menentukan skema pembiayaan dan pembagian risiko untuk proyek Trans-Kalimantan.

Pengajar Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara Paramitaningrum mengatakan proyek Trans-Kalimantan memiliki tantangan besar, baik dari sisi geografis, teknis maupun keuangan. Dia juga mempertanyakan apakah proyek tersebut dapat selesai tepat waktu jika menggunakan metode pembangunan seperti Whoosh.

Selain itu, Cina kini lebih berhati-hati membiayai proyek infrastruktur di luar negeri. Sejak sekitar 2020, Cina mulai mengurangi pembiayaan untuk proyek besar dan beralih ke proyek dengan skala lebih kecil.

Pengalaman proyek kereta di Bali juga menjadi perhatian. Rencana pembangunan kereta bawah tanah senilai sekitar US$20 miliar yang sempat dimulai pada 2024 akhirnya tidak dilanjutkan. Proyek tersebut melibatkan China Railway Construction Corporation (CRCC), yang juga ikut membangun Whoosh.

Kini, Bali mengarah pada pengembangan kereta listrik otonom. PT Kereta Api Indonesia (KAI) disebut sedang melakukan studi awal bersama sejumlah pihak. Belum diketahui apakah perusahaan Cina akan terlibat dalam proyek tersebut.

Sementara itu, proyek Trans-Kalimantan masih dalam tahap penjajakan. Pemerintah belum mencapai kesepakatan investasi untuk pembangunan jaringan kereta sepanjang 2.772 kilometer tersebut.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina