Salip Italia, Angka Kematian Corona di Inggris Kini Tertinggi di Eropa

ANTARA FOTO/REUTERS/Simon Dawson/nz/dj
Rumah Sakit St Thomas tempat Perdana Menteri Boris Johnson sebelumnya dirawat. Jumlah kematian akibat Covid-19 di Inggris saat ini telah melampaui Italia.
Penulis: Ekarina
6/5/2020, 12.18 WIB

Inggris mencatat angka kematian tertinggi akibat virus corona di Eropa. Departemen Kesehatan Inggris mencatat, jumlah kematian akibat Covid-19 di Negeri Ratu Elisabeth hingga Selasa (5/5) telah mencapai 29.427 orang, lebih tinggi dibandingkan Italia mencapai 29.316 orang.

Dengan data tersebut, Inggris menjadi negara kedua dengan kasus kematian virus corona tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat (AS) yang saat ini mencapai lebih dari 70.000 orang, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Adapun Italia dan Spanyol yang sebelumnya dianggap sebagai dua negara yang paling terdampak corona di Eropa, secara signifikan mampu menekan penyebaran wabah. Kedua negara tengah bersiap melonggarkan pembatasan karantina wilayah atau lockdown. 

(Baca: Positif Covid-19 Dunia Tembus 3,5 Juta Orang, 32% Pasien Telah Sembuh)

Tingginya  jumlah kasus kemarin di Inggris akibat corona meningkatkan tekanan  terhadap Perdana Menteri Boris Johnson untuk  segera bertindak lebih terhadap penanganan krisis kesehatan.

Angka mingguan dari Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris menambahkan lebih dari 7.000 kematian di Inggris dan Wales dalam sepekan hingga 24 April,  sehingga menjadikan total kasus meninggal di Inggris menjadi 32.313 jiwa.

Angka-angka pada Selasa didasarkan pada sertifikat kematian yang menyebutkan penyebab kematian berasal dari wabah Covid-19.

Sementara berbagai cara penghitungan membuat perbandingan dengan negara-negara lain menjadi sulit dilakukan. Namun, angka tersebut setidaknya menegaskan bahwa Inggris termasuk sebagai negara yang paling terdampak oleh pandemi yang telah menewaskan lebih dari 250.000 di seluruh dunia.

"Saya tidak berpikir kita akan mendapatkan vonis nyata tentang bagaimana negara telah melakukan sampai pandemi berakhir, dan terutama sampai kita mendapatkan data komprehensif internasional tentang semua penyebab kematian," Menteri Luar Negeri Dominic Raab dikutip dari Reuters, Rabu (6/5). 

(Baca: WHO Bakal Gaet Trump untuk Perbanyak Antivirus Corona, Remdesivir)

Politisi dari partai oposisi mengatakan angka-angka itu membuktikan bahwa pemerintah terlalu lamban untuk menyediakan peralatan pelindung yang cukup untuk rumah sakit dan memperkenalkan pengujian massal.

"Angka-angka ini menunjukkan bahwa pembicaraan tentang 'melewati puncak' virus yang mengerikan ini tidak berlaku untuk perawatan sosial," kata anggota parlemen dari Partai Buruh, Liz Kendall.

Menanggapi angka-angka ONS, juru bicara kantor perdana menteri merujuk  komentar Johnson baru-baru ini mengatakan bahwa Inggris telah melewati puncak penyakit, namun tetap dalam fase berbahaya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.