Berkas terkait pelaku kejahatan seksual terhadap anak Jeffrey Epstein mendadak viral karena memuat nama tokoh dunia, termasuk Bill Gates dan Donald Trump. Beberapa nama di dalamnya meninggal dunia karena diduga bunuh diri.
Pertama, Jeffrey Epstein meninggal dunia karena bunuh diri pada Agustus 2019 menurut Departemen Kehakiman. Epstein, 66 tahun, bunuh diri dengan menggantung diri di Pusat Penahanan Metropolitan Manhattan, tempat dia ditahan tanpa jaminan, menurut sumber NBC News.
Epstein dibawa oleh FDNY-EMS dari penjara ke Rumah Sakit New York Downtown. Saat tiba, Epstein mengalami henti jantung. Ia kemudian dinyatakan meninggal oleh staf rumah sakit.
Ia sebelumnya ditempatkan dalam pengawasan pencegahan bunuh diri setelah ditemukan setengah sadar di lantai sel penjara pada Juli 2019, dengan bekas luka di leher. Beberapa orang yang mengetahui penyelidikan ini mengatakan bahwa Epstein berada di sel sendiri, tetapi tidak sedang dalam pengawasan pencegahan bunuh diri pada saat kematiannya.
Epstein ditahan tanpa jaminan di penjara sejak penangkapannya pada awal Juli 2019 di bandara di New Jersey bagian utara setelah tiba di sana dengan pesawat pribadi dalam penerbangan dari Paris.
Kedua, Jean-Luc Brunel, seorang agen model ditemukan tewas di sel penjara pada Februari 2022, menurut kantor kejaksaan Paris, dikutip dari Deutsche Welle. Pria berusia 76 tahun ini menghadapi tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan.
Ia telah berada dalam tahanan pra-persidangan selama lebih dari satu tahun. Brunel ditemukan tewas gantung diri di sel penjara La Sante di Paris.
Jaksa penuntut mengatakan Brunel diduga telah memperkosa, menyerang, dan melecehkan beberapa korban di bawah umur dan dewasa, serta mengatur transportasi dan penampungan perempuan muda untuk Epstein.
Virginia Roberts Giuffre, yang merupakan penggugat utama melawan Epstein, menuduh Brunel menggunakan dirinya sebagai ‘budak seks’ dan mengatakan bahwa dia dipaksa untuk berhubungan seks dengan politisi dan pengusaha terkenal, termasuk Brunel.
Terakhir, Virginia Roberts Giuffre. Salah satu korban Epstein ini meninggal karena bunuh diri pada April tahun lalu. Ia meninggal saat berusia 41 tahun, di Neergabby, Australia, tempat dia tinggal selama beberapa tahun.
Giuffre adalah salah satu suara paling awal dan paling lantang yang menyerukan tuntutan pidana terhadap Epstein dan para kaki tangannya. Para korban pelecehan Epstein lainnya kemudian mengakui bahwa dialah yang memberi mereka keberanian untuk berbicara.
Dia juga memberikan informasi penting kepada penegak hukum yang berkontribusi pada penyelidikan dan kemudian hukuman terhadap rekan Epstein, Ghislaine Maxwell, serta penyelidikan lain oleh jaksa AS untuk Distrik Selatan New York.
Kasus Epstein kembali menjadi sorotan setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat atau DOJ mempublikasikan lebih dari 3,5 juta halaman dokumen yang berkaitan dengan penyelidikan.
Publikasi ini mencakup ribuan video dan ratusan ribu gambar sebagai bagian dari upaya transparansi pemerintah AS. Dokumen ini tersedia secara online untuk diakses publik, meskipun banyak bagian yang diedit atau redacted untuk melindungi identitas korban.
Selain publikasi umum, DOJ kini mengizinkan anggota Kongres AS untuk meninjau versi dokumen yang belum disunting (unredacted), mulai dari dokumen yang telah dirilis tersebut. Legislator harus membuat permintaan 24 jam sebelumnya dan hanya dapat melihat dokumen di komputer DOJ tanpa membuat salinan elektronik, tetapi ini merupakan langkah penting untuk pengawasan legislatif atas isi arsip kasus Epstein yang sebelumnya dianggap terlalu banyak disensor.
Tinjauan Associated Press terhadap catatan internal DOJ, yang sekarang sebagian telah dibuka, menunjukkan bahwa FBI menemukan bukti signifikan tentang pelecehan seksual Epstein terhadap gadis di bawah umur, tetapi tidak menemukan cukup bukti untuk mendukung dakwaan bahwa Epstein mengoperasikan jaringan perdagangan seks yang melibatkan “pria berpengaruh” secara kriminal, sebagaimana dikutip dari PBS.