Israel Mulai Negosiasi Lebanon Sehari Setelah Serangan 100 Rudal ke Beirut
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan siap melakukan dialog dengan pemerintah Lebanon. Dia menyampaikan sehari setelah Negeri Zionis meluncurkan serangan pada 100 target dalam waktu 10 menit, Rabu (8/4).
Dilansir dari Al Jazeera, Netanyahu menyampaikan telah menginstruksikan kabinetnya untuk memulai negosiasi dengan pemerintah Lebanon sesegera mungkin. Menurutnya, langkah perundingan tersebut dilakukan setelah pemerintah Lebanon mengirimkan permintaan berulang kali ke kantornya.
"Negosiasi akan fokus untuk melucuti Hezbollah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon," kata Netanyahu dalam keterangan resmi, Kamis (9/4).
Presiden Lebanon Joseph Aoun juga mengatakan pihaknya sedang mengusahakan jalur diplomasi dengan Israel. Pernyataan tersebut dilayangkan satu jam sebelum keterangan resmi Netanyahu terbit.
Aoun menyampaikan usaha penyelesaian diplomasi dengan Iran mulai dipandang positif oleh pemain global. Pada saat yang sama, pemerintahan Lebanon telah membatasi peredaran senjata di ibu kotanya, Beirut sebagai peringatan kepada kelompok bersenjata Hezbollah.
"Saya sudah mengatakan berulang kali bahwa saya tidak akan mengizinkan adanya konflik internal. Tidak akan ada keselamatan tanpa kepercayaan pada negara dan pasukan resmi," katanya.
Pemerintah Lebanon melaporkan serangan Israel menggunakan bom berukuran 1.000 pon di area padat penduduk Beirut. Dilansir dari The Guardian, serangan tersebut telah membuat lebih dari 300 korban meninggal dunia dan 1.165 warga Beirut luka-luka.
Pemerintah Indonesia menekankan serangan tersebut telah melanggar hukum internasional, termasuk hukum kemanusiaan internasional. Selain itu, aksi Israel telah meningkatkan tensi konflik di kawasan dan meremehkan keamanan global.