BRIN Luncurkan Program Goes to Nobel Prize, Siapkan Ilmuwan Berkelas Dunia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan program BRIN Goes to Nobel Prize untuk mendorong lahirnya ilmuwan Indonesia yang mampu menghasilkan riset berkelas dunia dan berpeluang meraih Nobel.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Kepala BRIN, Arif Satria, saat menyampaikan sambutan acara Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan 150 periset BRIN di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (6/8).
Arif menyampaikan program tersebut menjadi bagian dari strategi BRIN dalam meningkatkan dampak ilmu pengetahuan melalui penguatan budaya riset, kolaborasi ilmiah, dan regenerasi talenta sains.
BRIN menjalankan program itu bersamaan dengan BRIN Goes to School dan BRIN Goes to Kampus guna memperluas ekosistem riset sejak jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi.
“Untuk meningkatkan dampak ilmu pengetahuan, BRIN menjalankan program BRIN Goes to Nobel Prize, BRIN Goes to School, BRIN Goes to Kampus untuk memperkuat budaya riset, kolaborasi ilmiah, dan regenerasi talenta sains,” kata Arif.
Arif menjelaskan BRIN saat ini mengelola jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Fasilitas tersebut mencakup reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, stasiun bumi satelit, laboratorium genomik, pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk dalam jajaran 500 terbaik dunia, hingga fasilitas pengujian pesawat, kereta api, roket, dan teknologi kemaritiman.
Keberadaan infrastruktur itu diharapkan menjadi fondasi agar Indonesia mampu mengembangkan teknologi secara mandiri dan meningkatkan daya saing riset nasional.
Dalam kesempatan itu, Arif juga memperkenalkan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) kepada Prabowo. Teknologi tersebut memungkinkan gas alam disimpan pada tekanan sekitar 30 bar, lebih rendah dibandingkan teknologi Compressed Natural Gas (CNG) konvensional melalui pemanfaatan Metal Organic Framework (MOF).
“BRIN telah membangun sister-lab bersama peraih Nobel dari Jepang Susumu Kitagawa. Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar 26 triliun rupiah per tahun terhadap beban subsidi LPG,” ujar Arif.