BRIN Usulkan Produksi Massal Rumah Tahan Gempa usai Tahan dalam Gempa NTT

BRIN
Rumah tahan gempa yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Foto: BRIN
21/8/2026, 10.17 WIB

Prototipe rumah modular tahan gempa buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tetap berdiri usai dihantam gempa berkekuatan M7,7 dan rentetan gempa susulan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Teknologi ini pun diusulkan agar diproduksi massal dan diterapkan dalam tahap rekonstruksi pasca-bencana.

BRIN mengembangkan tiga prototipe rumah tahan gempa di Dusun Rangko, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Rumah tersebut tetap berdiri, di saat bangunan lainnya seperti SD Rangko, mengalami kerusakan struktur bangunan akibat gempa.

Perekayasa Ahli Muda dari Pusat Riset Material Maju BRIN, Vian Marantha Haryanto, mengatakan bahwa rumah ini memang dirancang dengan teknologi konstruksi tahan gempa, yang dapat diterapkan di kawasan dengan risiko kegempaan tinggi seperti NTT. 

“Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan. Dan, yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” kata Vian, dalam keterangan resmi dikutip pada Jumat (21/8).

BRIN kemudian mendorong agar teknologi rumah modular tahan gempa ini direplikasi lebih luas, di kawasan rawan gempa lainnya. BRIN akan mengeluarkan mlisensi hasil riset ini dan bekerja sama dengan industri.

Rumah tahan gempa bukan berarti tidak mengalami kerusakan sama sekali. Dari pengamatan BRIN, rumah tersebut mengalami kerusakan cukup kecil, berupa keramik kamar mandi yang terlepas atau pecah. Namun, struktur utama rumah, seperti dinding, kolom, dan pondasi, tidak mengalami keretakan. 

Meskipun demikian, BRIN akan tetap melakukan pengujian lebih lanjut untuk memeroleh validasi teknis di laboratorium. 

Kembangkan Teknologi Konstruksi Tahan Gempa

Rumah dengan luas 36 meter persegi itu dirancang dengan kolom lebih kuat daripada balok, serta struktur simetris dan ringan sehingga membuat bangunan lebih stabil menahan guncangan.

Teknologi rumah modular ini mudah dirakit dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 hari untuk dinyatakan siap huni. Sistem bongkar-pasangnya dibuat saling mengunci sehingga cocok untuk kawasan rawan gempa. 

Bonusnya, teknologi rumah ini telah memiliki kandungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 80 persen. 

Saat ini, BRIN masih melakukan penyempurnaan teknologi konstruksi yang digunakan, salah satunya dengan menambah rubber bearing seismic untuk membantu meredam getaran akibat gempa. 

“Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahannya sehingga dampak guncangan dapat dikurangi,” ujar Vian. 

BRIN mulai mengembangkan teknologi rumah modular tahan gempa pada 2019 lalu, dengan membangun dua prototipe rumah tahan gempa di Kabupaten Tangerang. Kemudian, prototipe rumah dua lantai dikembangkan di Kabupaten Lebak pada 2021, plus tiga prototipe rumah di NTT pada akhir 2021. 

Meski begitu, menurut BRIN, penguatan mitigasi juga perlu dilakukan, misalnya mengintegrasikan edukasi mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa dalam kebijakan perumahan daerah. 

Update Bencana

Hingga Kamis (20/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 36.163 unit rumah rusak akibat gempa bumi M7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8). Jumlah tersebut belum mencakup kerusakan infrastruktur lainnya. 

Adapun korban meninggal dunia yang telah tercatat mencapai 75 jiwa, sementara korban luka telah mencapai 907 jiwa. Gempa susulan berkekuatan besar masih terjadi dan membuat jumlah pengungsi terus bertambah. Saat ini, sebanyak 92.735 jiwa mengungsi. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas