Mendikdasmen Tinjau Sekolah Terdampak Gempa NTT, Siapkan Dana Revitalisasi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meninjau sejumlah sekolah terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (24/8).
Kunjungan pertama berlangsung di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Rowa, Kabupaten Nagekeo. Sekolah tersebut berada berdekatan dengan SMP Negeri 6 Boawae dan TK Santa Clara. Dalam kunjungan itu, Kemendikdasmen menyerahkan sejumlah bantuan yang terdiri dari (1.650) paket makanan, bantuan pemerintah, bantuan revitalisasi sekolah, hingga buku kepada warga sekolah terdampak.
Kementerian juga memberikan bantuan kepada guru dan murid yang mengalami luka berat akibat gempa. Hingga hari ini, ada 20 tenda telah didirikan untuk mendukung aktivitas kelas darurat dan kebutuhan warga terdampak.
Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 15 sekolah mengalami kerusakan berat dan 20 sekolah mengalami kerusakan sedang. Gempa juga menyebabkan 13 warga sekolah mengalami luka berat, yang terdiri atas delapan siswa dan lima guru.
SDK Rowa memiliki 155 siswa, 13 guru, dan empat tenaga kependidikan. Sementara itu, SMP Negeri 6 Boawae memiliki 98 siswa, 15 guru, dan dua tenaga kependidikan. TK Santa Clara memiliki 35 siswa.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan pihaknya akan segera melakukan proses pemulihan terhadap bangunan sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Tim Kemendikdasmen akan turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan validasi kondisi sekolah dengan didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan.
Proses tersebut dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan dan menghitung kebutuhan anggaran secara tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.
Kemendikdasmen telah mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan tersebut melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun 2026 sehingga proses pemulihan dapat segera dilaksanakan setelah seluruh tahapan teknis selesai.
"Proses pemulihan secepatnya, tim kami sudah akan turun untuk melakukan verifikasi dan validasi ditampung oleh Kepala Dinas Pendidikan," kata Abdul Mu'ti di SDK Rowa.
Sekolah yang telah menyelesaikan proses revitalisasi sebelum mengalami kerusakan akan diajukan kembali untuk mendapatkan dukungan perbaikan sesuai dengan kondisi kerusakan yang terjadi.
Sementara itu, sekolah yang masih dalam proses pengerjaan revitalisasi tahun 2026 dan belum menyelesaikan pembangunannya akan dilakukan penghitungan ulang terhadap kebutuhan anggarannya.
"Sekolah ini sudah selesai revitalisasi nanti diajukan lagi yang baru yang masih dalam proses pengerjaan yang dapat revitalisasi tahun 2026," ujarnya.
Setelah dari SDK Rowa, Abdul Mu'ti beserta rombongan Kemendikdasmen melanjutkan kunjungan ke SD Ngelapadhi yang terletak di Desa Turamuri, Bejawa Utara, Kabupaten Ngada. Jarak dari SDK Rowa sekitar 1 jam perjalanan.
Di sekolah itu, Abdul Mu’ti meninjau kondisi tenda yang digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan setelah gempa serta membagikan paket bantuan pemerintah kepada warga sekolah.
Bantuan yang disalurkan dalam seluruh rangkaian tinjauan kali in mencakup 400 buku nonteks untuk seluruh jenjang pendidikan dari Pusat Perbukuan dengan berat sekitar 80 kilogram (kg) dan 9 ribu buku cerita dari Badan Bahasa seberat sekitar 15 kg.
Pemerintah juga menyiapkan 115 paket school kit dan makanan atau ransum dari Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) dengan berat sekitar 350 kg.
Selain itu, pemerintah menyiapkan voucher bantuan bagi sekolah terdampak pada jenjang SD, SMP, SMA, PAUD, dan PKPLK. Ada juga seribu kaos disalurkan untuk mendukung kebutuhan warga terdampak, sedangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan 1.650 bingkisan makanan ringan.
Kemendikdasmen juga mengerahkan tim trauma konseling untuk membantu guru dan murid yang terdampak secara psikologis. Bantuan revitalisasi diberikan berdasarkan tingkat kerusakan sekolah, yakni Rp15 juta untuk 32 sekolah yang mengalami kerusakan berat, Rp10 juta untuk 29 sekolah dengan kerusakan sedang.
Paket bantuan juga mencakup warga sekolah yang mengalami luka, pemerintah menyalurkan santunan Rp10 juta bagi ahli waris seorang guru meninggal dunia dan Rp5 juta kepada masing-masing ahli waris tiga siswa meninggal.
Selain itu bagi guru dan tenaga kependidikan murid yang mengalami luka memperoleh Rp2 juta dan Rp10 juta bagi murid korban luka-luka.
Kemendikdasmen juga mendatangkan tim trauma konseling dari BGTK dan HIMPSI. Tim tersebut telah berada di lapangan dan pada 23-24 berkegiatan di Ngada dan Nagekeo.
Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Gempa berpusat di laut sekitar 30 kilometer (km) timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 km.
Guncangan tersebut berdampak pada tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Hingga Minggu, 23 Agustus, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban meninggal dunia mencapai 91 orang, sementara lebih dari 150 ribu warga mengungsi.
BNPB juga mencatat 53.971 rumah rusak, terdiri dari 19.006 rumah rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan. Adapun aktivitas gempa susulan masih berlangsung, hingga 23 Agustus Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 5 ribu gempa susulan. Situasi ini membuat warga di sejumlah wilayah masih bertahan di pengungsian.