PVMBG: Gunung Anak Krakatau sudah Tak Erupsi 2 Hari Terakhir
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan, Gunung Anak Krakatau sudah tidak mengalami erupsi dalam dua hari terakhir. Menurut Rita, periode erupsi yang cukup sering dalam beberapa waktu belakangan sudah berakhir.
Berdasarkan catatan, erupsi Anak Krakatau masuk dalam tipe Strombolian yang memang karakteristiknya terjadi dalam periode singkat.
“Ke depan kami terus memonitor perkembangannya. Potensi erupsi masih ada, tapi jangan terlalu dikhawatirkan karena itu memang bagian dari dinamika pertumbuhan Anak Krakatau,” kata Rita dalam keterangan video yang diterima Katadata, Selasa (15/9).
Gunungapi yang terletak di tengah-tengah Selat Sunda itu mulai tumbuh pada 1927. Dia menyebut Anak Krakatau sebagai gunungapi muda yang berada dalam tahap pembentukan tubuhnya.
“Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan, (belum) bisa menjadi ancaman keruntuhan karena tubuhnya itu sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter, slope-nya juga masih landai. Jadi sekali lagi kalau terjadi keruntuhan itu tidak akan menyebabkan tsunami, insyaallah,” ujarnya.
Krakatau dalam Masa Inkubasi
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aditya Pratama mengatakan, Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada dalam fase inkubasi. Fase tersebut menjadi tahap awal dalam siklus pembentukan kaldera. Artinya, sistem magma gunung api masih berkembang dan belum mencapai kondisi yang dapat memicu letusan besar.
“Pada Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption,” kata Aditya dalam diskusi kebencanaan seperti dikutip Antara, Senin (14/9).
Dia menjelaskan, sistem gunung api di Selat Sunda secara historis terbagi menjadi tiga periode utama, yakni Krakatau Tua, Krakatau Muda, dan Anak Krakatau yang muncul secara bertahap setelah letusan besar pada 1883.
Menurut Aditya, letusan pembentuk kaldera tidak terjadi secara tiba-tiba. Prosesnya bertahap, mulai dari inkubasi, pematangan atau maturasi, fermentasi, hingga caldera forming eruption atau letusan besar yang menyebabkan terbentuknya kaldera.