MRT Jakarta Lirik Bisnis Kawasan, Komunitas Ikut Menghidupkan Ruang Publik
Pengembangan kawasan di sekitar transportasi publik kini tidak hanya soal membangun stasiun. MRT Jakarta mulai mengembangkan ruang di sekitar stasiun agar bisa digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari aktivitas komersial hingga komunitas.
Division Head Property Management MRT Jakarta M Iqbal Bimo Arifianto mengatakan, pengembangan kawasan dilakukan untuk menghubungkan transportasi publik dengan aktivitas masyarakat.
“MRT Jakarta sudah jauh lebih dari sekadar transportasi umum. Kita hadir sebagai katalisator regenerasi perkotaan. Membuat kota itu menjadi hidup,” kata Iqbal dalam Media Fellowship Program bertajuk Mengelola Aset, Menghidupkan Kawasan, Membangun Kota di Jakarta, Kamis (24/9).
Menurut dia, aktivitas masyarakat tidak berhenti setelah turun dari stasiun. Masyarakat bisa melanjutkan perjalanan untuk bekerja, berbelanja, bertemu teman, hingga mengikuti kegiatan komunitas.
Karena itu, konsep Transit-Oriented Development (TOD) tidak hanya berfokus pada pembangunan kawasan di sekitar stasiun. MRT Jakarta juga menghubungkan stasiun dengan ruang publik, area komersial, dan berbagai aktivitas masyarakat.
“Bagaimana dari stasiun kita langsung ke pedestrian, public space, commercial building, dan community,” katanya.
Dengan konsep tersebut, kawasan di sekitar stasiun yang sebelumnya hanya menjadi tempat transit dapat berkembang menjadi ruang untuk berbagai kegiatan.
Salah satunya terlihat di Blok M. Setelah direvitalisasi, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat masyarakat berpindah moda, tetapi juga digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari acara, aktivitas komersial, hingga kegiatan komunitas.
“Pekerjaan kami bukan hanya memastikan fasilitas ini berfungsi. Tapi juga bagaimana menghadirkan aktivasi tenant, komunitas, dan berbagai bentuk engagement,” kata Iqbal.
Berdasarkan data MRT Jakarta, Blok M Hub mencatat rata-rata lebih dari 25.000 pengunjung per hari pada 2026. Kawasan ini juga telah menggelar lebih dari 100 hari aktivasi dan memiliki 242 tenant UMKM lokal.
Aktivitas di Blok M tidak hanya berasal dari acara dan kegiatan komersial. Ruang publik yang tersedia juga digunakan masyarakat untuk berkumpul dan menjalankan berbagai kegiatan, termasuk oleh komunitas.
Ruang untuk Komunitas
Salah satunya adalah Scribble Group, komunitas journaling yang digagas Khadijah Putri (20). Komunitas ini awalnya dibentuk bersama teman-teman kampus. Saat itu, sekitar delapan orang rutin bertemu di kampus di Depok untuk menulis jurnal bersama.
“Awalnya komunitas ini terbentuk ketika kami masih kuliah. Kegiatannya sederhana saja, biasanya bertemu di kampus, membawa jurnal masing-masing, kemudian menulis bersama,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (25/9).
Ruang publik menjadi salah satu faktor pendorong komunitas tetap bernafas. Kawasan Blok M Hub dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu menjadi pilihan saat kegiatan tak bisa dilakukan di kampus, sebab membutuhkan tempat yang lebih terjangkau bagi para anggota yang sudah mulai lulus kuliah.
“Teman yang tinggal di Jakarta Selatan bisa datang, yang dari Jakarta Timur atau Jakarta Pusat, bahkan daerah Bogor juga bisa menjangkau dengan MRT atau moda transportasi lain,” ujarnya.
Perpindahan tempat membuat komunitas ikut berkembang. Dari sekitar delapan orang, Scribble Group kini memiliki hampir 20 anggota, meski jumlah yang hadir berbeda setiap pekan. Kegiatan mereka juga lebih terbuka. Orang yang lewat dapat melihat mereka menulis bersama dan beberapa di antaranya kemudian tertarik untuk bergabung.
“Ketika kami duduk bersama dan menulis, orang yang lewat kadang memperhatikan dan bertanya, ‘Ini sedang melakukan apa?’ Dari situ ada yang akhirnya tertarik ikut,” kata Khadijah.
Bagi Khadijah, mereka tidak membutuhkan tempat khusus untuk berkumpul. Ruang yang nyaman dan mudah dijangkau sudah cukup.
“Yang berubah bukan hanya tempat kami bertemu. Komunitasnya juga ikut berkembang,” ujarnya.
Gunakan Data untuk Kembangkan Kawasan
Iqbal mengatakan MRT Jakarta tidak menggunakan cara yang sama untuk mengembangkan setiap kawasan. Karakter pengunjung menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan aktivitas dan bisnis yang sesuai.
MRT Jakarta mengumpulkan data mengenai pengguna di setiap stasiun, mulai dari usia, jenis kelamin, penghasilan, hingga pola perjalanan. Data tersebut diperoleh melalui survei tahunan, aplikasi, dan sistem customer relationship management (CRM).
“Kita selalu MRT Jakarta bergerak melalui selalu melalui data,” kata Iqbal.
Perbedaan karakter pengunjung terlihat antara Blok M dan Dukuh Atas. MRT Jakarta menggambarkan Blok M Hub dengan tiga kata kunci, yakni lifestyle, komersial, dan komunitas.
Sementara itu, Transport Hub Dukuh Atas lebih berfokus pada mobilitas, konektivitas, dan aktivitas perkotaan.
Perbedaan tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam mengembangkan masing-masing kawasan, termasuk dalam memilih tenant.
MRT Jakarta melakukan kurasi sebelum tenant masuk dan memantau perkembangannya setelah beroperasi. Dengan begitu, kegiatan dan bisnis yang ada di kawasan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung.
Pengembangan kawasan juga menjadi bagian dari upaya MRT Jakarta menambah pendapatan selain dari tiket penumpang. Salah satunya melalui pengembangan kawasan di sekitar stasiun.
Iqbal mengatakan pendapatan MRT Jakarta berasal dari subsidi, pendapatan tiket (farebox), dan pendapatan di luar tiket (non-farebox). Saat ini, kontribusi non-farebox berada di kisaran 30% dan ditargetkan terus meningkat.
“Harapannya adalah non-farebox ini akan terus berkembang dan menjadi tulang punggung MRT Jakarta, bahkan mengurangi subsidi ke depannya,” kata dia.
Hingga 2025, total aset MRT Jakarta mencapai Rp32 triliun. Sebagian besar aset tersebut berasal dari infrastruktur transportasi seperti jalur dan stasiun. Pada 2025, MRT Jakarta membukukan pendapatan Rp1,5 triliun, naik sekitar 7% dari tahun sebelumnya. Sepanjang 2021-2025, pendapatan tiket MRT Jakarta tumbuh rata-rata 50,4% per tahun. Sementara itu, total pendapatan perusahaan tumbuh rata-rata 2,3% per tahun.
Pengembangan kawasan MRT Jakarta juga akan diperluas ke sejumlah lokasi lain. Perusahaan menyiapkan sepuluh proyek Transit-Oriented Development (TOD) dari Lebak Bulus hingga Kota Tua.
Proyek tersebut meliputi The Heritage Hub Kalibesar, UPK Kota Development, Lada Development, Combined Building, XGL Mixed-Use, Thamrin Asset Development, Extended Concourse, Pedestrian Deck, Ultimate Development Blok M, serta Lebak Bulus Park and Ride and Mixed Use.
Secara umum, proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan properti, kawasan mixed-use, dan fasilitas yang menghubungkan MRT dengan moda transportasi serta kawasan di sekitarnya.
Dengan pengembangan tersebut, MRT Jakarta tidak hanya menyiapkan fasilitas untuk mengangkut penumpang, tetapi juga mengembangkan kawasan di sekitar jaringan transportasinya.