Gempa Besar di Sukabumi, Aceh, Sumba Pagi Ini, Pakar Sebut Bukan Saling Picu

X @daryono
Gempa 4 Oktober 2026
Penulis: Desy Setyowati
4/10/2026, 11.37 WIB

Gempa bumi mengguncang beberapa wilayah Indonesia pada Minggu (4/10). Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi di wilayah Sumba Barat Daya, Aceh Jaya, dan Sukabumi dengan magnitudo mulai dari 4,2 hingga 5,9

Gempa dengan magnitudo terbesar terjadi di wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada pukul 05.55.52 WIB dengan magnitudo 6,1. Gempa tersebut berlokasi 10 kilometer selatan Kodi, Sumba Barat Daya, pada kedalaman 14 kilometer.

BMKG kemudian menyampaikan hasil pemutakhiran parameter gempa tersebut menjadi magnitudo 5,9. Pusat gempa terletak pada koordinat 9,84° LS dan 118,90° BT, atau sekitar 59 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, pada kedalaman 30 kilometer.

Selanjutnya, gempa terjadi di wilayah Aceh Jaya pada pukul 06.37.32 WIB dengan magnitudo 5,9. Pusat gempa berada 64 kilometer barat Calang, Aceh Jaya, dengan kedalaman 26 kilometer. BMKG menyatakan gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Datanya kemudian dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,7.

Gempa berikutnya terjadi di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, pada pukul 08.31.56 WIB dengan magnitudo 4,2. Pusat gempa berada 61 kilometer selatan Kabupaten Sukabumi, pada kedalaman 36 kilometer.

Pakar gempa sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan dua gempa yang terjadi di Sumba Barat Daya dan Aceh Jaya dalam selang waktu kurang dari 42 menit tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Menurut Daryono, kedua gempa tersebut memiliki sumber yang terpisah ribuan kilometer dan mekanisme tektonik yang berbeda.

Gempa Sumba, kata Daryono, memiliki mekanisme sesar turun atau normal fault. Mekanisme ini menunjukkan adanya proses peregangan kerak bumi.

Gempa Sumba Rusak Bangunan dan Picu Puluhan Gempa Susulan

Pelaksana Harian Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berasosiasi dengan Sesar Waikabubak.

“Hasil analisis mekanisme sumber mengindikasikan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault),” kata Ardhasena di Gedung MHEWS BMKG, Minggu (4/10).

Hasil pemodelan tsunami BMKG menunjukkan gempa di Sumba Barat Daya tersebut tidak berpotensi tsunami.

Sementara itu, gempa Aceh memiliki mekanisme sesar naik atau thrust fault, yang berkaitan dengan proses kompresi pada sistem subduksi megathrust Sumatra.

“Berjarak hanya 41 menit 41 detik, tetapi secara tektonik kedua gempa berada di dua dunia deformasi yg berbeda: Sumba melepaskan tegangan melalui sesar normal, sementara Aceh melalui sesar naik pada lingkungan subduksi. Dekat dlm waktu tdk berarti dekat dlm proses fisiknya,” kata Daryono melalui cuitan di X, Minggu (4/10).

Ia menegaskan, kejadian dua gempa dalam waktu berdekatan tersebut bukan pertanda bahwa gempa sedang berantai dari Sumba menuju Aceh.

Aktivitas gempa itu justru memperlihatkan kondisi Indonesia sebagai wilayah dengan sistem batas lempeng yang sangat aktif. Akumulasi dan pelepasan tegangan dapat berlangsung secara independen di berbagai sumber gempa.

Daryono menyebut Indonesia sebagai laboratorium tektonik alami. Dalam waktu kurang dari 42 menit, dua wilayah di Nusantara melepaskan energi elastik melalui dua sumber gempa, dua mekanisme patahan, dan dua rezim tegangan yang berbeda.

Ia juga menjelaskan bahwa aktivitas seismik di berbagai zona aktif Indonesia dapat terjadi secara independen tanpa saling memengaruhi secara langsung.

Sementara itu, Kota Tambolaka, Kota Waikabubak, Kota Waibakul, dan Kota Raba merasakan guncangan pada skala IV MMI. Adapun Kota Bima merasakan guncangan pada skala III MMI.

Guncangan gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan rumah warga dan fasilitas sekolah di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

BMKG juga mencatat puluhan gempa susulan setelah kejadian utama. Hingga pukul 08.05 WIB, hasil pemantauan menunjukkan setidaknya terdapat 62 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo berkisar 1,5 hingga 4,3.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan sementara hingga pukul 08.40 WIB, terdapat kerusakan di beberapa wilayah dalam kategori sedang dan satu orang mengalami luka ringan.

BMKG melalui Stasiun Geofisika Sumba Timur akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa dan melakukan survei lapangan untuk mengetahui dampaknya secara lebih menyeluruh.

Mengapa Guncangan Gempa Sumba Lebih Kuat?

Daryono turut menjelaskan perbedaan intensitas guncangan yang ditimbulkan oleh gempa Sumba dan Aceh.

Menurut dia, gempa Sumba yang lebih dangkal menghasilkan guncangan hingga VI MMI atau berpotensi merusak. Sementara itu, gempa Aceh mencapai IV MMI, yang menunjukkan guncangan kuat.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kuatnya guncangan di permukaan tidak hanya ditentukan oleh magnitudo gempa.

Ada sejumlah faktor lain yang memengaruhi dampak guncangan, antara lain kedalaman sumber gempa, jarak dari pusat gempa, karakter batuan yang dilalui gelombang seismik, serta kondisi tanah setempat.

Dengan demikian, dua gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan belum tentu saling berkaitan. Perbedaan mekanisme tektonik dan karakter sumber gempa dapat membuat dampak guncangannya juga berbeda.

Daryono menegaskan, kejadian gempa di Sumba Barat Daya dan Aceh Jaya menggambarkan kompleksitas tektonik Indonesia. Banyak sumber gempa di wilayah ini dapat mengakumulasi dan melepaskan energi secara independen pada waktu yang kebetulan berdekatan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.