Jadi Kampiun Asia Tenggara, Indonesia Akhiri Puasa 35 Tahun
Timnas Indonesia akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 35 tahun untuk kembali menjadi juara di level Asia Tenggara. Garuda memastikan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menundukkan Thailand melalui drama adu penalti 4-2 pada final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10) malam.
Gelar tersebut terasa semakin istimewa karena menjadi trofi pertama bagi tim senior Indonesia di laga final sejak meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Setelah menunggu tiga setengah dekade, Skuad Garuda akhirnya kembali berdiri tegak sebagai juara regional.
Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, mengaku sulit menggambarkan perasaannya setelah mengantarkan Garuda meraih trofi tersebut. “Luar biasa, Anda tahu. Saya pikir, ini hal yang tidak bisa saya gambarkan. Jika Anda melihat dari mana kami berasal, ini benar-benar luar biasa. Perasaan mendapatkan trofi pertama dalam sejarah Indonesia ini, benar-benar luar biasa,” kata Justin.
Perjalanan menuju gelar juara juga tidak mudah. Indonesia harus melewati laga final yang berlangsung dramatis hingga babak tambahan waktu. Garuda sempat unggul melalui tendangan bebas Dean James pada menit ke-84 yang mengenai pemain Thailand dan berubah arah menjadi gol.
Keunggulan Indonesia hanya bertahan tiga menit. Skuad Gajah Putih yang bermain dengan 10 pemain setelah Nicholas Mickelson mendapat kartu kuning kedua justru mampu menyamakan kedudukan melalui Iklas Sanron.
Drama berlanjut pada babak tambahan waktu. Peeradol Chamratsamee membawa Thailand berbalik unggul 2-1 pada menit ke-111. Namun, Indonesia kembali menunjukkan mentalitasnya. Empat menit kemudian, Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan yang memaksa pertandingan ditentukan melalui adu penalti.
Indonesia akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 4-2. Kiper Emil Audero menjadi salah satu pahlawan setelah menggagalkan tendangan Nattapong Sayriya, yang menjadi penendang keempat Thailand.
Laga Berat
Hubner, yang menjadi starter dalam empat pertandingan Indonesia di turnamen tersebut, turut merasakan beratnya laga final. Ia bermain hingga menit ke-101 sebelum digantikan Shayne Pattynama karena kondisi fisiknya yang sudah terkuras.
“Saya bermain selama 90 menit, tetapi pada babak tambahan waktu saya diganti. Sejujurnya, kaki saya benar-benar sudah lelah. Namun, ya, saya pikir jika Anda melihat mentalitas kelompok ini, itu gila. Benar-benar gila. Tidak ada lagi yang bisa saya katakan,” ujarnya.
Indonesia juga harus menjalani turnamen tanpa kehadiran sang kapten, Jay Idzes, yang absen karena cedera. Bagi Hubner, absennya salah satu pemain yang kerap menjadi tandemnya di lini belakang itu merupakan kehilangan besar. Namun, situasi tersebut justru memperlihatkan kekuatan kolektif skuad Garuda.
“Jika Anda melihat bagaimana kami bangkit, bagaimana kami bertahan dalam pertandingan ini, tim ini benar-benar luar biasa,” kata Hubner.
Kekuatan kolektif tersebut juga tercermin dari kontribusi Ole Romeny. Penyerang andalan Garuda itu selalu menjadi starter dalam empat pertandingan dan menutup turnamen dengan satu gol serta empat assist.
Empat assist Ole seluruhnya diberikan kepada Mitchell Baker, yang tampil sebagai pencetak gol terbanyak turnamen dengan lima gol. Kolaborasi keduanya menjadi salah satu senjata penting Indonesia sepanjang perjalanan menuju gelar juara.
“Ya, dia seperti seorang target man, sedangkan saya lebih seperti pemain yang memiliki peran bebas. Jadi, saya bergerak di sekelilingnya. Ketika saya melihat dia berlari, saya tinggal memberikan bola kepadanya dan kami bisa mencetak gol,” kata Ole.
Bagi Ole, trofi FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar gelar juara, melainkan pencapaian yang memiliki makna besar bagi seluruh skuad dan masyarakat Indonesia. “Sangat berarti, sangat berarti. Jika Anda melihat semua orang, anak-anak, semua orang, Anda tahu, trofi ini sangat berarti bagi Indonesia. Bagi kami, kami sangat bangga dan, ya, rasanya seperti satu keluarga besar,” ucapnya.
Jangan Jadikan Kemenangan Sesaat
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir mengapresiasi perjuangan para pemain yang mampu bertahan dalam pertandingan penuh tekanan hingga akhirnya mengangkat trofi. “Kita harus akui Thailand tim yang sangat bagus, saya apresiasi perjuangan pemain sampai detik terakhir,” kata Erick tadi malam.
Menurut Erick, pertandingan final menjadi pelajaran penting bagi Skuad Garuda. Ia menilai kemenangan atas Thailand menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki sejumlah aspek yang harus diperbaiki jika ingin bersaing di level yang lebih tinggi.
“Dua game yang tidak mudah, (lawan Bangladesh) 9-2 tidak mudah, hari ini juga 2-2, tidak mudah. Ini pelajaran bagus untuk semua pemain dan pelatih bahwa kalau memang kita mau masuk Piala Dunia (2030),” ujarnya.
“Kita harus serius mempersiapkan dan tantangannya sangat berat, tapi kita bangsa Indonesia, bukan bangsa kalahan, kita harus terus tingkatkan sepak bola kita,” kata Erick lagi.
Evaluasi pun akan dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi Piala Asia 2027. Erick menyebut masih terdapat sejumlah kelemahan yang harus dibenahi agar pencapaian di FIFA ASEAN Cup tidak berhenti sebagai sebuah keberhasilan sesaat.
Sementara itu, Calvin Verdonk mengungkapkan pesan sederhana yang disampaikan pelatih John Herdman sebelum adu penalti. Di tengah tekanan setelah gagal mengunci kemenangan atas Thailand yang bermain dengan 10 pemain, Herdman meminta para pemain untuk tetap percaya diri.
“Kami harus percaya, cukup percaya,” kata Verdonk.
Pesan tersebut akhirnya terbayar lunas. Indonesia tampil tenang dalam adu penalti dan mengunci kemenangan 4-2 untuk memastikan gelar juara. Atas hasil itu, posisi Indonesia dalam daftar FIFA Men's World Ranking kini naik satu tingkat ke urutan 117.
Verdonk menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil perjuangan seluruh pemain, bukan milik satu atau dua individu. “Semuanya, saya rasa. Ini pertandingan yang sulit, tetapi kami terus percaya. Jadi, saya pikir semua orang layak mendapatkan kata-kata positif,” ujarnya.
Gelar FIFA ASEAN Cup 2026 sekaligus menjadi penanda berakhirnya penantian panjang sepak bola Indonesia. Setelah 35 tahun, Garuda kembali menjadi juara di Asia Tenggara. Namun, bagi skuad asuhan John Herdman, trofi ini bukan garis akhir.
Kini, Tim Garuda harus mempersiapkan diri untuk menyongsong Piala Asia 2027 dan mewujudkan target jangka panjang menuju Piala Dunia 2030. Gelar sebagai kampiun Asia Tenggara sejatinya menjadi modal sekaligus pengingat bahwa perjuangan sepak bola Indonesia masih jauh dari selesai.