Survei SMRC: Elektabiltas Prabowo Turun ke 9,8%, Tertinggal dari KDM dan Anies

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.
Presiden Prabowo Subianto melantik wakil menteri serta kepala dan wakil kepala badan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
17/10/2026, 19.03 WIB

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memaparkan hasil survei terbaru mereka. Dari hasil penjaringan opininterbaru, elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot menjadi 9,8% dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama calon presiden. Angka tersebut turun 25,1 poin persentase dibandingkan hasil survei November 2025 yang mencapai 34,9%.

Hasil survei nasional SMRC menunjukkan Prabowo berada di posisi ketiga. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menempati posisi pertama dengan elektabilitas 35,5%, disusul Anies Baswedan sebesar 10,3%.

Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperoleh elektabilitas 8,4%. Nama-nama lainnya masing-masing mendapat dukungan di bawah 5%, sedangkan 13,9% responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

SMRC mencatat penurunan elektabilitas Prabowo berlangsung secara bertahap dalam beberapa periode survei. Pada November 2025, elektabilitas Prabowo masih mencapai 34,9%, sementara Dedi Mulyadi berada di angka 19,7%.

Pada survei Februari-Maret 2026, elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 33,3%. Namun, angka tersebut turun menjadi 14,5% pada Juli 2026 sebelum kembali merosot menjadi 9,8% pada Oktober 2026. Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 19,7% pada November 2025 menjadi 35,5% pada Oktober 2026.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan pola serupa terlihat dalam simulasi dua nama. Pada survei Februari-Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5%, sementara Dedi Mulyadi 42,6%.

Keadaan berbalik sejak Juli 2026. Saat itu, Dedi, yang biasa disebut Kang Dedi Mulyadi (KDM) naik menjadi 59%, sedangkan Prabowo turun ke 28,3%. Pada survei Oktober 2026, Dedi Mulyadi mendapat 69,3%, sementara Prabowo hanya 18,8%.

“Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin,” kata Deni dalam siaran pers pada Sabtu (17/10).

Peluncuran Hari Desa Nasional 2027 (ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nz)

SMRC juga menemukan keterkaitan antara elektabilitas dan kinerja Prabowo, terutama pada penilaian masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Responden yang menyatakan kurang puas cenderung lebih banyak memilih calon presiden lain dibandingkan Prabowo. Dari kelompok tersebut, elektabilitas Prabowo hanya mencapai 8%, sedangkan dukungan terhadap calon lain mencapai 80%.

Dukungan terhadap Prabowo lebih rendah pada kelompok responden yang menyatakan tidak puas sama sekali terhadap pelaksanaan MBG. Elektabilitas Prabowo di kelompok ini hanya 2%, sementara 88% responden memilih calon lain.

SMRC juga mengukur keyakinan masyarakat terhadap prospek pengembangan Kopdes Merah Putih. Hasilnya, elektabilitas Prabowo mencapai 19% di antara responden yang sangat yakin program tersebut akan berkembang. Namun, angkanya turun menjadi 6% pada kelompok yang kurang yakin dan 3% pada kelompok yang sama sekali tidak yakin.

“Penurunan ini sangat berhubungan dengan kepuasan atas kinerja presiden, dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan Kopdes Merah Putih,” kata Deni.

Kalah dari Gibran dan AHY di Simulasi Tertutup

Penurunan elektabilitas Prabowo juga terlihat dalam simulasi tertutup yang mempertemukan tiga nama, yakni Prabowo, Gibran Rakabuming Raka, dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam simulasi tersebut, Gibran memeroleh dukungan tertinggi sebesar 29,7%. AHY menyusul dengan elektabilitas 28,2%, sedangkan Prabowo meraih 22,7%. Adapun 19,4% responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Simulasi ini mengukur posisi Prabowo apabila Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing dalam pemilihan presiden.

Deni turut menjelaskan mengapa Gibran dan AHY melawan Prabowo dalam simulasi ini karena keduanya dinilai memiliki peluang untuk maju sebagai calon presiden. Elektabilitas Gibran dalam simulasi semi terbuka tercatat bersaing ketat dengan Prabowo.

Pelantikan wakil menteri dan kepala badan (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.)

Selain menjabat sebagai wakil presiden, Gibran juga memiliki hubungan kuat dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berpotensi mengusungnya. Sementara itu, AHY memiliki Partai Demokrat yang dapat menjadi kendaraan politik untuk pencalonannya. Simulasi tiga nama ini dinilai cukup realistis untuk menguji kekuatan elektabilitas Prabowo ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing.

“Suara (pendukung) Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah,” ujar Deni.

Periode survei bertajuk ‘Elektabilitas Presiden Prabowo’ berlangsung pada pada 1-10 Oktober terhadap warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.

Survei melibatkan 1.213 responden yang dipilih secara acak dari dua kelompok berdasarkan kepemilikan telepon seluler. Sebanyak 1.013 responden yang memiliki telepon seluler dipilih menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon.

Sementara itu, SMRC memilih 200 responden yang tidak memiliki telepon seluler menggunakan metode stratified multistage random sampling. Kelompok ini diwawancarai secara tatap muka.

Survei ini memiliki margin of error survei sebesar kurang lebih 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana atau simple random sampling. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu