Survei SMRC vs PPI: Berkebalikan Rekam Elektabilitas Prabowo
Dua lembaga survei yakni Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Parameter Politik Indonesia (PPI) merilis hasil tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Presiden Prabowo Subianto. Meski survei dilakukan dalam waktu bersamaan, hasilnya jauh berbeda.
Parameter Politik Indonesia (PPI) mempublikasikan survei pada Minggu (18/10) dengan hasil tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Prabowo mencapai 65,4 persen. Secara spesifik, kepuasan terhadap figur Presiden Prabowo berada di angka 65,2 persen, sementara 67 persen responden lainnya meyakini pemerintah mampu menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik.
Dalam rilis tersebut, jaring pengaman sosial dan program prioritas menjadi penopang utama penilaian positif publik. Program Bantuan Sosial (Bansos) menempati urutan teratas program berkinerja terbaik, disusul Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di jajaran kabinet, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menpora Erick Thohir dinilai sebagai pejabat berkinerja terbaik.
Survei tersebut kontras dengan survei SMRC periode 1–10 Oktober 2026 yang bertajuk “Elektabilitas Presiden Prabowo”. Dalam simulasi pilihan presiden semi-terbuka, elektabilitas Prabowo turun tajam ke angka 9,8 persen, jauh dari posisinya pada November 2025 yang sebesar 34,9 persen.
Dalam simulasi 24 nama versi SMRC, posisi teratas ditempati Dedi Mulyadi dengan 35,5 persen, disusul Anies Baswedan (10,3 persen), dan Prabowo Subianto (9,8 persen).
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menjelaskan bahwa penurunan elektabilitas petahana berkaitan langsung dengan persepsi publik atas sejumlah isu mendasar.
“Penurunan ini sangat berhubungan dengan kepuasan atas kinerja presiden, dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP,” ujar Deni dalam pemaparan di kanal YouTube SMRC TV, Sabtu (17/10/2026).
Perbedaan fokus riset melatarbelakangi kontrasnya angka kedua lembaga. PPI memotret evaluasi kinerja dan efektivitas program sosial harian, sedangkan SMRC mengukur proyeksi elektoral serta persaingan figur politik jika pemilihan presiden digelar saat ini.
Kedua riset menggunakan metodologi acak (random sampling) dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei PPI melibatkan 1.200 responden tatap muka dengan margin of error 2,83 persen. Sementara survei SMRC melibatkan 1.213 responden gabungan telepon dan tatap muka dengan margin of error 2,9 persen.