Yenny Wahid: Warisan Terbesar Gus Dur Itu Bela Keadilan tanpa Pandang Identitas

Katadata/Fauza Syahputra
Putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, menyampaikan paparan pada sesi diskusi apresiasi Lifetime Achievement Award di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Editor: Ahmad Islamy
27/10/2026, 08.45 WIB

Katadata menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada tiga tokoh nasional. Salah satunya adalah Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Gus Dur bukan hanya dikenal sebagai tokoh pluralisme dan kebinekaan.  Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari, itu juga meninggalkan warisan penting berupa pembelaan terhadap rasa keadilan dan kemanusiaan tanpa memandang status mayoritas maupun minoritas.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid mengatakan, masyarakat perlu meluruskan kekeliruan pandangan yang kerap memosisikan ayahnya sekadar sebagai pembela kelompok minoritas. Menurutnya, fondasi perjuangan Gus Dur selalu berpijak pada nilai kemanusiaan universal dan keberanian melawan segala bentuk ketidakadilan.

Ia menekankan bahwa pertolongan dan pembelaan yang diberikan Gus Dur murni didasarkan pada ada atau tidaknya tindakan penzaliman. Bukan atas dasar baju identitas sosial maupun keagamaan.

“Dianggap Gus Dur itu adalah sekadar pembela minoritas. Gus Dur bukan pembela minoritas. Gus Dur adalah pembela orang-orang yang dizalimi. Kalau yang kebetulan dizalimi adalah minoritas, akan dibela sampai mati. Kalau yang dizalimi adalah mayoritas, juga pasti akan dibela,” kata Yenny dalam malam apresiasi Lifetime Achievement Award Katadata Indonesia di Sequis Tower, Jakarta Selatan, Senin (26/10).

Dia mengungkapkan, keluarganya sejak kecil dididik untuk melihat harkat dan martabat manusia di luar pangkat atau penampilan fisik. Hal itu tecermin dari kebiasaan Gus Dur yang menerima seluruh tamu dari berbagai lapisan masyarakat secara setara tanpa sekat VIP.

“Mau presiden, mau tukang becak, semua diterima di bawah. Bagi Gus Dur yang paling utama itu harkat dan martabat manusia itu sendiri, bukan apa yang menjadi bungkusnya. Bukan bungkus, tapi substansi,” tuturnya.

Ia juga menyoroti "kelenturan moral" dan kebesaran hati Gus Dur dalam memaafkan serta meruntuhkan dendam politik. Hal itu terlihat saat Gus Dur terpilih sebagai presiden pascareformasi. Meskipun bersikap sangat kritis terhadap Orde Baru, sosok pertama yang ditemui Gus Dur setelah menjadi presiden justru adalah Soeharto, presiden kedua RI.

“Ketika semua orang zaman Orde Baru datang sungkem sowan Pak Harto, Gus Dur malah kritis. Ketika semua orang zaman reformasi menjauhi Pak Harto, Gus Dur datang. Bagi saya, ini memaafkan level yang paling tinggi,” ujar Yenny.

Dalam kesempatan tersebut, Yenny memaparkan hasil riset Wahid Foundation terkait kerentanan sosial masyarakat terhadap intoleransi dan radikalisme. Riset tersebut menemukan dua kelompok yang paling rentan terpapar radikalisasi, yaitu anak muda dan kelompok masyarakat yang mengalami frustrasi sosial-ekonomi.

Kelompok rentan ini kerap menjadi sasaran provokasi oleh oknum politisi atau ormas yang memanfaatkan bahasa agama dan identitas demi menguasai sumber daya (resources). Oleh karena itu, Yenny menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan keadilan ekonomi.

“Bagi Gus Dur dulu, yang paling penting itu bukan pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus ada keadilan ekonomi. Pertumbuhan tanpa keadilan akan menciptakan jurang sosial tinggi yang sangat rentan diprovokasi,” ucapnya.

Ia mendesak aparat penegak hukum untuk menindak tegas politisi maupun kelompok yang mengeksploitasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Menutup pernyataannya, Yenny menyampaikan bahwa Lifetime Achievement Award dari Katadata menjadi pengingat bagi generasi penerus untuk tidak sekadar mengenang jasa Gus Dur. Tetapi juga melanjutkan cita-cita Indonesia yang toleran, mandiri, dan berkeadilan.

“Bagi kami penghargaan ini merupakan pengingat bahwa apa yang telah beliau perjuangkan itu harus diteruskan. Kami berharap masyarakat bukan hanya mengenang Gus Dur karena jasanya, tapi betul-betul mau melanjutkan apa yang telah beliau perjuangkan,” katanya.

Dua tokoh lain yang mendapatkan penghargaan serupa adalah Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie), dan Pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya. Acara dilaksanakan menjelang Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Adapun apresiasi kepada tiga tokoh diberikan karena ketiganya dinilai meletakkan tiga pilar penting bagi Indonesia, yaitu Inovasi Teknologi, Kemanusiaan dan Persatuan, serta Kekuatan Industri Nasional.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Sukriwan Ramadhan