Belajar dari Lasem, CEO Katadata Ajak Publik Rawat Memori Kolektif Persatuan
Di tengah maraknya konflik berbasis identitas dan agama di berbagai belahan dunia, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa akar toleransi dan kebersamaan yang telah tumbuh melintasi zaman. Nilai-nilai itu menjadi memori kolektif yang mesti dirawat bersama.
Hal itu disampaikan Pendiri sekaligus CEO Katadata, Metta Dharmasaputra, dalam sambutannya pada malam apresiasi menyambut Hari Sumpah Pemuda di Sequis Tower, Jakarta Selatan, Senin (26/10).
Menurutnya, meski perjalanan bangsa ini tak luput dari catatan kelam, kekuatan kebersamaan sejatinya sudah teruji sejak lama. “Sejumlah peristiwa pernah menjadi catatan kelam dalam perjalanan sejarah negeri ini, tapi ada banyak contoh bagaimana kebersamaan sesungguhnya telah mengakar lama di negeri ini,” ujar Metta.
Untuk membuktikan hal tersebut, ia mencontohkan Lasem, sebuah kota kecil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sebagai monumen hidup toleransi. “Kota yang dijuluki Tionghoa Kecil ini juga dikenal sebagai kota santri, tempat begitu banyak ulama besar dilahirkan dan pesantren didirikan. Itu sebabnya kota ini pun dikenal sebagai kota toleransi,” kata Metta.
Melalui sejumlah dokumentasi visual yang ditampilkan, ia menunjukkan bagaimana Lasem merawat akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Islam secara berdampingan. Jejak kebersamaan itu tercermin dari bangunan pesantren berarsitektur Tionghoa, pos ronda berkaligrafi Arab-Cina, hingga catatan sejarah perlawanan kolonial.
Rangkaian dokumentasi tersebut turut ditutup dengan potret Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Rumah Merah Heritage Lasem, sosok yang dihormati atas jasanya membuka ruang kebudayaan bagi masyarakat Tionghoa.
Melalui potret-potret tersebut, Metta menegaskan bahwa toleransi di Indonesia bukanlah konsep kosong, melainkan realitas sejarah yang mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. “Dalam konteks itu, event malam ini diadakan untuk merawat semangat persatuan yang telah dikobarkan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penganugerahan Katadata Lifetime Achievement Award malam itu diberikan kepada tiga tokoh bangsa berlatar belakang berbeda yang menyatu dalam tema "Tiga Tokoh, Satu Indonesia". Ketiga tokoh itua adalah Presiden ketiga RI, BJ Habibie; Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan; pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya.
Secara khusus, Metta menyoroti kontribusi besar mendiang William Soeryadjaya atau juga akrab disapa Om William. Menurutnya, pendiri Astra itu telah melahirkan banyak pengusaha dan pemimpin industri nasional, meski hingga kini belum memperoleh tanda jasa formal dari negara.
“Kita semua berutang budi kepada mereka, meski seingat saya, Om William belum pernah mendapatkan tanda jasa dari negara. Padahal mungkin Om William satu-satunya pengusaha besar yang melahirkan begitu banyak pemeran dan pengusaha besar lainnya. Mudah-mudahan negara bisa memberikan apresiasi kepada Om William,” kata Metta.
Menutup sambutannya, Metta berharap keteladanan dari ketiga tokoh tersebut dapat menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan persatuan bangsa.
“Semoga kita semua dapat mengikuti jejak langkah mereka untuk terus merawat spirit persatuan dan kebersamaan di negeri ini sebagai memori kolektif bangsa,” pungkasnya.